Argentina Juara Piala Dunia 2026 usai Taklukkan Spanyol 3-2

Skor akhir: Argentina 3-2 Spanyol. Albiceleste resmi mempertahankan gelar juara dunia setelah memenangi final Piala Dunia 2026 yang berjalan dramatis di Stadion MetLife, East Rutherford, Senin (20/7/2...

Aug 12, 2026 - 02:02
0 0
Argentina Juara Piala Dunia 2026 usai Taklukkan Spanyol 3-2

Skor akhir: Argentina 3-2 Spanyol. Albiceleste resmi mempertahankan gelar juara dunia setelah memenangi final Piala Dunia 2026 yang berjalan dramatis di Stadion MetLife, East Rutherford, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Lionel Messi menjadi aktor utama lewat satu gol dan satu assist, sementara sundulan Alexis Mac Allister pada menit ke-84 memastikan trofi ketiga bagi sang kapten dalam empat edisi terakhir. La Roja sebenarnya tampil dominan dengan penguasaan bola 63 persen, tetapi Argentina jauh lebih efisien: enam shots on target dari 14 percobaan, berbanding empat dari 11 milik Spanyol.

Laga ini juga diwarnai momen panas di babak kedua ketika Messi terlibat konfrontasi verbal dengan bek kiri Spanyol, Marc Cucurella. Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, sampai harus berdebat panjang dengan gelandang Argentina, Enzo Fernandez, sebelum mengeluarkan kartu kuning. Berikut jalannya pertandingan.

Babak Pertama: Penalti Messi Dibalas Kejeniusan Yamal

Pelatih Lionel Scaloni menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3: Emiliano Martinez di bawah mistar; Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Nicolas Tagliafico di lini belakang; trio Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, serta Mac Allister di tengah; plus tridente Messi, Julian Alvarez, dan Thiago Almada di depan. Kubu Spanyol asuhan Luis de la Fuente membalas dengan pola 4-3-3 serupa, mengandalkan Rodri sebagai jangkar, Pedri sebagai gelandang box-to-box, serta dua winger eksplosif Lamine Yamal dan Nico Williams.

Menit ke-23, petaka untuk Spanyol. Cucurella menjatuhkan Alvarez di kotak penalti setelah sang striker memenangi duel sprint. Vincic sempat melambaikan tangan, tetapi tinjauan VAR selama hampir dua menit membuatnya menunjuk titik putih. Messi maju sebagai algojo dan dengan dingin mengecoh Unai Simon ke arah berlawanan. 1-0 Argentina unggul.

Spanyol merespons lewat penguasaan bola khas tiki-taka. Hasilnya datang pada menit ke-34: Pedri mengirim umpan terobosan ke sisi kanan, Yamal melakukan cut inside melewati Tagliafico, lalu melepaskan tendangan melengkung kaki kiri ke tiang jauh yang tak mampu dijangkau Martinez. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, dengan Spanyol mencatatkan 68 persen penguasaan bola di 45 menit pertama.

Babak Kedua: Drama, Konfrontasi, dan Gol Penentu

Argentina keluar dari ruang ganti dengan intensitas berbeda. Menit ke-57, Messi menunjukkan visi magisnya: melihat pergerakan Alvarez di antara Cubarsi dan Laporte, sang kapten melepaskan umpan terobosan membelah pertahanan yang diselesaikan sempurna oleh Alvarez ke sudut bawah gawang. 2-1 untuk Argentina.

Ketegangan memuncak pada menit ke-68. Tekel keras Cucurella membuat Messi tersungkur, dan sang nomor 10 bangkit lalu menunjuk wajah bek bernomor punggung 24 itu dengan penuh emosi. Enzo Fernandez langsung mendatangi Vincic untuk memprotes, memicu perdebatan sengit di tengah lapangan sebelum wasit asal Slovenia itu mengacungkan kartu kuning untuk Cucurella. De Paul juga diganjar kartu kuning sepuluh menit sebelumnya karena menghentikan serangan balik.

Spanyol menyamakan kedudukan pada menit ke-71 ketika umpan silang Mikel Oyarzabal disambut Nico Williams dengan tendangan voli first-time. 2-2, dan final seakan menuju perpanjangan waktu. Namun, menit ke-84, sepak pojok Enzo Fernandez disundul Mac Allister yang lepas dari penjagaan Rodri. Bola menghunjam pojok kanan atas gawang Unai Simon. 3-2, dan MetLife bergemuruh.

Analisis Taktik: Efisiensi Mematikan Albiceleste

Secara statistik, Spanyol unggul hampir di semua departemen: 63 persen penguasaan bola, 612 operan berbanding 389, dan sembilan sepak pojok berbanding empat. Namun Argentina memenangi metrik terpenting, yakni konversi. Skema counter-pressing Scaloni memaksa Rodri bermain lebih dalam, sementara De Paul dan Enzo Fernandez memutus aliran bola ke Pedri. Emiliano Martinez mencatatkan tiga penyelamatan krusial, termasuk menepis tendangan bebas Yamal di masa injury time.

"Ini bukan tentang siapa yang menguasai bola lebih lama, tetapi siapa yang lebih berani di momen menentukan. Para pemain saya menunjukkan mental juara sejak menit pertama," ujar Scaloni seusai laga.
"Kami dominan, tetapi sepak bola dimenangi oleh gol. Argentina menghukum setiap kesalahan kecil kami. Selamat untuk mereka," kata De la Fuente.

Messi Tutup Kisah Piala Dunia dengan Sempurna

Dengan satu gol dan satu assist di final, Messi mengoleksi enam gol dan empat assist sepanjang turnamen dan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan. Di usia 39 tahun, ia menjadi kapten tertua yang mengangkat trofi Piala Dunia. Bagi Spanyol, kegagalan ini menunda mimpi generasi emas Yamal dan Pedri, meski perjalanan mereka menuju final tetap layak diapresiasi. Argentina kini mengoleksi tiga gelar dalam empat edisi terakhir, sebuah dinasti yang sah lahir di New Jersey.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User