IFA Cabut Dukungan untuk Infantino, Guncang Peta Kekuatan FIFA

Pukulan telak menghantam ruang rapat FIFA. Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi mencabut dukungan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam langkah yang langsung mengubah peta kek...

IFA Cabut Dukungan untuk Infantino, Guncang Peta Kekuatan FIFA

Pukulan telak menghantam ruang rapat FIFA. Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi mencabut dukungan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam langkah yang langsung mengubah peta kekuatan politik federasi sepak bola dunia. Ini bukan sekadar gestur protes — ini kartu kuning pertama yang dipertontonkan secara terbuka oleh sebuah federasi nasional di hadapan kursi presiden yang selama tiga periode nyaris tak tergoyahkan.

Keputusan ini diumumkan IFA di tengah meningkatnya ketegangan antara Tel Aviv dan markas FIFA di Zurich. Dengan 211 federasi anggota yang masing-masing memegang satu suara di Kongres FIFA, pencabutan dukungan Israel bukan angka kecil. Dalam logika politik sepak bola global, setiap federasi adalah pemain di starting XI Kongres — dan IFA baru saja memutuskan keluar dari formasi pendukung Infantino.

Akar Masalah: dari Perang ke Keputusan Kontroversial

Ketegangan ini tidak lahir dalam semalam. Sejak konflik di Timur Tengah meletus pada Oktober 2023, sepak bola Israel menjadi korban paling nyata: liga domestik sempat terhenti, tim-tim terpaksa menjalani laga di markas netral tanpa dukungan suporter, dan pemain muda kehilangan menit bermain karena kompetisi digantung berkali-kali.

Puncaknya terjadi ketika FIFA memutuskan menggantung klub-klub Israel dari kompetisi antarbenua — keputusan yang oleh IFA dinilai berat sebelah. Maccabi Haifa dan Maccabi Tel Aviv, dua raksasa Liga Israel yang seharusnya tampil di pentas Eropa, mendadak kehilangan panggung. Sementara itu, tuntutan suspensi total terhadap Israel yang terus digaungkan Federasi Palestina masih menggantung seperti wasit yang menahan keputusan VAR di hadapan layar monitor.

Bagi IFA, keputusan ini adalah offside yang tak pernah diadili dengan adil. Dukungan terhadap Infantino, yang selama ini dianggap sebagai tameng, justru tidak menghasilkan perlindungan yang diharapkan. Ketika hasil di lapangan tak kunjung berpihak, mencabut dukungan politik menjadi satu-satunya kartu yang tersisa di tangan federasi.

Menakar Kekuatan: Berapa Kokoh Sebenarnya Kursi Infantino?

Infantino telah mengukir semacam hat-trick kepresidenan: naik ke tampuk kekuasaan pada 2016 menggantikan Sepp Blatter, kembali dipercaya pada 2019 di Paris, dan dikukuhkan tanpa perlawanan pada Kongres ke-73 di Kigali, Rwanda, 2023. Sepanjang tiga periode itu, penguasaan bola politiknya di Kongres nyaris total — belum ada lawan yang berani melepaskan shots on target ke arah kursinya, dan catatan kepemimpinannya tampak seperti clean sheet sempurna.

Warisan statistiknya memang mengkilap: Piala Dunia 2022 di Qatar mencatat rekor jumlah penonton, dan Piala Dunia 2026 akan memakai format 48 tim dengan 104 pertandingan, ekspansi terbesar dalam sejarah turnamen. Pendapatan FIFA meroket, dan proyek Piala Dunia Antarklub versi baru turut mengisi pundi-pundi kas. Namun di balik angka-angka itu, oposisi mulai bergerak pelan — dan langkah IFA adalah assist pertama bagi siapa pun yang ingin membangun serangan balik terhadap kursi presiden.

Pertanyaannya kini sederhana: apakah IFA bermain sendirian? Sejumlah federasi Eropa diketahui selama ini kerap menyuarakan kritik halus terhadap gaya kepemimpinan Infantino. Jika gerakan IFA menjadi magnet, bukan tidak mungkin koalisi oposisi mulai terbentuk menjelang Kongres berikutnya. Satu suara mungkin kecil, tetapi dalam politik sepak bola, satu suara bisa menjadi penentu skor akhir.

Manuver IFA: Simbolisme atau Awal Koalisi Oposisi?

Dari sudut pandang taktik, langkah IFA cukup cerdas: mencabut dukungan kini berarti menaikkan harga tawar di masa depan. Infantino dikenal sebagai negosiator ulung yang kerap membangun konsensus lewat janji dana pembangunan dan proyek infrastruktur. Namun ketika sebuah federasi rela meninggalkan posisi aman demi prinsip, pesannya jauh lebih keras daripada sekadar angka.

“Sebagai federasi yang menjunjung tinggi sportivitas, kami tidak bisa mendukung kepemimpinan yang kami nilai gagal melindungi kepentingan anggotanya. Dukungan harus diperjuangkan, bukan dianggap otomatis.” — pernyataan resmi IFA.

Pernyataan itu menegaskan sikap yang selama ini hanya dibisikkan di koridor Kongres: dukungan bukanlah warisan, melainkan hasil kerja. IFA kini menuntut jaminan nyata — mulai dari pembatalan sanksi terhadap klub-klub Israel, kejelasan jadwal kompetisi, hingga posisi FIFA dalam upaya rekonsiliasi sepak bola di kawasan.

Ke depan, ada tiga skenario yang mungkin dimainkan. Pertama, FIFA bergerak cepat meredam konflik dengan menawarkan kompromi, dan IFA kembali ke barisan. Kedua, langkah IFA menular ke federasi lain, membentuk blok oposisi yang memaksa Infantino bekerja lebih keras demi satu periode lagi. Ketiga, semua berhenti di sini — dan keputusan ini menjadi catatan kaki semata. Namun satu hal pasti: untuk pertama kalinya dalam tiga periode, tembok kekuasaan Infantino menunjukkan retak. Dan dalam sepak bola, begitu tembok retak, permainan belum berakhir sampai peluit panjang berbunyi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User