```html

NUSEIRAT, GAZA — Gelaran Piala Dunia 2026 menyedot perhatian warga Palestina di Jalur Gaza. Di tengah reruntuhan dan keterbatasan, mereka tetap antusias me

```html

NUSEIRAT, GAZA — Gelaran Piala Dunia 2026 menyedot perhatian warga Palestina di Jalur Gaza. Di tengah reruntuhan dan keterbatasan, mereka tetap antusias menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola antarnegara melalui layar lebar yang dipasang di kamp pengungsian Nuseirat, Gaza Tengah, Minggu (21/6/2026). Pertandingan yang mempertemukan Spanyol melawan Arab Saudi itu menjadi tontonan yang dinanti-nantikan, meskipun blokade dan krisis listrik masih membayangi kehidupan sehari-hari.

Pantauan Beritainti.com dari laporan AP Photo oleh Abdel Kareem Hana, warga berkumpul di lapangan terbuka yang diterangi lampu darurat. Anak-anak dan orang dewasa duduk beralas tikar, sementara beberapa lainnya berdiri di belakang tembok beton yang berlubang. Suasana riuh rendah terdengar setiap kali tim kesayangan mereka mencetak gol. “Ini satu-satunya hiburan yang bisa kami nikmati,” ujar Ahmad al-Hajj, seorang pengungsi berusia 34 tahun.

Suasana di Nuseirat: Layar Lebar di Tengah Konflik

Pemasangan layar lebar di Nuseirat dilakukan oleh komunitas pemuda setempat yang ingin menghadirkan sedikit kebahagiaan di tengah kesulitan. Mereka mengumpulkan dana untuk menyewa generator listrik dan proyektor. “Kami tahu listrik mati hingga 20 jam sehari. Tapi kami tidak ingin anak-anak kehilangan momen bersejarah ini,” kata Samir Abu Rida, koordinator acara. Ia menambahkan bahwa pertandingan Piala Dunia menjadi pelarian dari tekanan psikologis akibat perang dan pengungsian.

“Ketika kami melihat Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo berlari di lapangan, kami lupa sejenak bahwa kami hidup di kamp pengungsian. Sepak bola adalah bahasa universal yang menyatukan kami.” — Samir Abu Rida, Koordinator Acara di Nuseirat

Pertandingan Spanyol vs Arab Saudi sendiri menjadi sorotan karena kedua tim memiliki basis penggemar di Gaza. Warga yang mendukung Arab Saudi mengibarkan bendera hijau, sementara pendukung Spanyol memakai jersey merah. “Saya sejak kecil suka Spanyol karena gaya bermain tiki-taka mereka,” ujar Mariam Hassan, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun. Ia mengaku menonton bersama tiga anaknya yang duduk di pangkuannya.

Makna Piala Dunia bagi Gaza: Lebih dari Sekadar Olahraga

Bagi warga Palestina di Gaza, Piala Dunia bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga simbol ketahanan. Sejak perang berkepanjangan, banyak infrastruktur yang hancur, termasuk stadion lokal. Namun semangat sepak bola tetap hidup. Komisi Olahraga Gaza mencatat ada lebih dari 50 klub sepak bola aktif di Gaza, meskipun dengan fasilitas seadanya. Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan untuk kembali merasakan euforia global.

  • Krisis Listrik: Warga hanya menikmati listrik 4-6 jam per hari. Pemasangan generator dan panel surya menjadi solusi sementara.
  • Blokade Berat: Akses internet dan siaran televisi terbatas. Warga mengandalkan parabola dan aplikasi streaming yang boros kuota.
  • Dampak Psikologis: Kegiatan menonton bersama dianggap sebagai terapi kolektif untuk mengurangi stres dan trauma perang.
  • Dukungan Internasional: Organisasi kemanusiaan seperti UNRWA turut menyediakan layar lebar di beberapa kamp pengungsian.

Di kamp lain seperti Khan Younis dan Rafah, aksi serupa juga digelar. Namun di Nuseirat, antusiasme terlihat paling tinggi karena pertandingan tersebut mempertemukan dua kekuatan besar. “Kami tidak peduli siapa yang menang, yang penting kami bisa bersama-sama,” tambah Ibrahim al-Baz, seorang pedagang kaki lima yang menjual kacang rebus di sela-sela pertandingan.

Tantangan dan Harapan di Tengah Krisis

Meski menggelora, acara nonton bersama tidak lepas dari hambatan. Keterbatasan bahan bakar untuk generator membuat layar sempat mati di babak pertama. Relawan dengan cepat memperbaiki sambungan. Selain itu, suara tembakan peringatan dari kapal Israel di lepas pantai sesekali terdengar, namun tidak menghentikan konsentrasi penonton. “Kami sudah terbiasa,” kata Nadia al-Sharif, seorang guru sekolah dasar.

Piala Dunia 2026 sendiri dihelat di tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Namun bagi Gaza, jarak ribuan kilometer itu tak berarti. Lewat layar lebar, mereka merasa terhubung dengan dunia. “Sepak bola mengingatkan kami bahwa ada kehidupan normal di luar sana,” ujar Dr. Mahmoud al-Jamal, psikolog komunitas. Ia menilai kegiatan ini penting untuk membangun resiliensi mental warga, terutama anak-anak yang tumbuh dalam perang.

Hingga berita ini diturunkan, pertandingan Spanyol vs Arab Saudi berakhir dengan skor 2-1 untuk Spanyol. Sorak-sorai penonton membahana di Nuseirat. “Kami merayakan gol seperti merayakan hari kemenangan,” tulis Abdel Kareem Hana dalam keterangan fotonya. Semangat itu mungkin sederhana, tetapi bagi warga Gaza, setiap momen kebersamaan adalah perlawanan terhadap keputusasaan.

[SOCIAL_TWEET]: Warga Gaza di kamp Nuseirat antusias nonton Piala Dunia 2026 lewat layar lebar di tengah reruntuhan. Sepak bola jadi pelarian dari perang. #PialaDunia2026 #Gaza #SepakBola [SOCIAL_TG]: 🔴 BERITA TERKINI: Warga Gaza antusias saksikan Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026. Layar lebar dipasang di kamp Nuseirat. Simak laporan lengkapnya. ```

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User