Jakarta — Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, melontarkan pujian setinggi langit kepada juru taktik Timnas Indonesia, John Herdman. Bukan soal taktik atau skema formasi, melainkan sikap rendah hati yang menurutnya jarang ditemui pada sosok pelatih level internasional.
Dalam sebuah sesi diskusi internal yang berlangsung hangat, Souto mengaku terkesan pada cara Herdman memimpin skuad Garuda. "Menit ke-23" mungkin tidak berlaku di ruang rapat, tetapi momen ketika Herdman menyapa staf pelatih lain dengan sederhana itulah yang membuat Souto terpukau. Tidak ada jarak, tidak ada sekat, semua diperlakukan setara.
Hector Souto sendiri bukan nama sembarangan di dunia futsal. Ia datang ke Indonesia dengan segudang pengalaman menangani tim-tim futsal Eropa dan membawa filosofi permainan menyerang berbasis penguasaan bola. Namun, di mata Souto, kualitas seorang pelatih tidak cukup hanya diukur dari penguasaan bola atau jumlah shots on target. Karakter dan kerendahan hati menjadi nilai tambah yang menentukan.
Karakter Kepemimpinan yang Jadi Sorotan
Souto menilai, pendekatan Herdman ke pemain dan staf membuat atmosfer Timnas Indonesia lebih sehat. Dalam dunia olahraga modern, pelatih kepala kerap dianggap figur sentral yang harus selalu benar. Herdman, kata Souto, mematahkan anggapan itu.
"Sepak bola dan futsal sama-sama menuntut ego yang kuat, tetapi pemimpin yang baik tahu kapan harus menurunkan ego demi tim," ujar Souto, menggambarkan kekagumannya. Ia menyebut gaya komunikasi Herdman sebagai contoh bagaimana seorang pelatih bisa tetap dihormati tanpa harus tampil dominan.
Kerendahan hati itu juga tercermin dari cara Herdman merespons kritik maupun pujian. Bagi Souto, sikap tersebut menjadi clean sheet dalam arti metaforis: tidak ada drama, tidak ada konflik internal, hanya fokus pada tujuan bersama.
Standar Baru untuk Pelatih Timnas
Pengalaman Souto menangani futsal memberi perspektif berbeda. Ia melihat bagaimana seorang pelatih kepala di cabang lain bisa jadi teladan lintas disiplin. Menurutnya, pemimpin seperti Herdman membantu membangun budaya kerja yang sehat di ekosistem olahraga Indonesia.
Herdman dikenal tegas dalam menerapkan taktik, tetapi tetap terbuka pada masukan. Souto menilai kombinasi ini langka. Di lapangan, seorang pelatih dituntut cepat mengambil keputusan seperti saat membaca offside atau memutuskan kapan memberi perintah bertahan. Di luar lapangan, ia harus mampu merangkul semua orang.
Souto berharap semangat itu menular ke seluruh jajaran pelatih tim nasional, termasuk futsal. "Kami semua punya target berbeda, tetapi nilai kepemimpinan yang baik berlaku universal," tegasnya, tanpa menyebutkan angka statistik apa pun karena yang dibicarakan adalah karakter, bukan skor akhir.
Dampak ke Skuad dan Ekosistem
Pujian seorang pelatih futsal kepada pelatih sepak bola memang jarang terjadi. Namun, momen ini menunjukkan bahwa pelatihan lintas cabang bisa saling menginspirasi. Souto optimistis, sikap rendah hati Herdman bisa memicu budaya kolaborasi di antara pelatih tim nasional berbagai disiplin.
Bagi pecinta olahraga Tanah Air, cerita ini menjadi pengingat: di balik strategi starting XI, formasi, dan pergantian pemain, ada nilai manusiawi yang tak kalah penting. Kerendahan hati seorang pemimpin bisa menjadi pijakan kuat untuk prestasi jangka panjang.
Dengan semangat itu, Souto dan tim futsal Indonesia bertekad melanjutkan persiapan mereka sendiri. Sementara Herdman terus meracik skuad Garuda, pesan Souto jelas: pemimpin hebat adalah yang mampu membuat orang lain merasa dihargai.
Comments (0)