Harga Telur Terus Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Bogor Menjerit
Kabupaten Bogor - Kondisi sulit tengah melanda para peternak ayam petelur di wilayah Kabupaten Bogor. Tekanan ekonomi datang dari dua arah: harga pakan yang terus merangkak naik dan harga jual telur
Kabupaten Bogor - Kondisi sulit tengah melanda para peternak ayam petelur di wilayah Kabupaten Bogor. Tekanan ekonomi datang dari dua arah: harga pakan yang terus merangkak naik dan harga jual telur yang justru terjun bebas. Kondisi ini membuat banyak peternak menjerit dan terancam gulung tikar.
Harga Pakan Meroket, Untung Makin Tipis
Berdasarkan laporan Beritainti.com, sejumlah peternak di Kecamatan Cibungbulang dan sekitarnya mengeluhkan harga pakan yang kini menyentuh angka Rp450.000 hingga Rp500.000 per kuintal, naik sekitar 15–20 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh melonjaknya harga bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai di pasar global. "Biasanya kami masih bisa menutup biaya operasional meski tipis, tapi sekarang dengan harga pakan setinggi ini dan telur yang murah, kami benar-benar terjepit," ujar Ahmad (45), peternak saat ditemui Beritainti.com.
"Dalam sehari, saya bisa memproduksi 800 kilogram telur. Dulu dengan harga telur Rp25 ribu per kilogram, masih ada sisa. Sekarang harga telur di tingkat peternak hanya Rp19 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram. Sementara biaya pakan sendiri sudah lebih dari separuh pendapatan. Belum lagi biaya listrik, vaksin, dan tenaga kerja. Kami hanya bisa pasrah."
Pasokan Melimpah, Permintaan Lesu
Anjloknya harga telur diduga kuat akibat melimpahnya pasokan di pasaran sementara permintaan cenderung stagnan. Musim libur sekolah dan penurunan daya beli masyarakat pascakenaikan harga kebutuhan pokok lainnya turut memukul penjualan telur. Pedagang di Pasar Cibinong pun mengaku stok telur menumpuk. "Setiap hari ada kiriman telur terus, tapi pembeli sepi. Terpaksa jual murah biar cepat habis, takut busuk," kata Siti, seorang pedagang.
Dampak dan Harapan
Tekanan ini membuat sejumlah peternak skala kecil terpaksa mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti berproduksi. Beberapa di antaranya menjual ayam afkir lebih awal untuk menekan kerugian. Asosiasi peternak setempat mendesak pemerintah untuk segera menstabilkan harga pakan melalui operasi pasar dan mengatur tata niaga telur agar peternak mandiri tidak terus merugi. "Kami berharap ada intervensi, misalnya dengan menyerap telur peternak langsung untuk bantuan pangan atau program gizi. Kalau dibiarkan, peternak rakyat akan mati dan pasokan telur bisa terganggu di masa depan," ujar Ketua Paguyuban Peternak Ayam Mandiri (PPAM) Bogor.
Hingga berita ini diturunkan, peternak masih menanti langkah konkret dari dinas terkait. Sementara itu, mereka hanya bisa bertahan dengan segala keterbatasan sambil berharap harga segera membaik.
Comments (0)