Gianni Infantino: Skor Akhir Kepemimpinan dan Revolusi Data FIFA

Skor akhir dari dua periode Gianni Infantino di kursi presiden FIFA memang tidak pernah tampil di papan skor stadion, tetapi datanya bicara lantang: pada siklus 2019–2022, FIFA membukukan pendapatan...

Aug 24, 2026 - 02:25
0 0
Gianni Infantino: Skor Akhir Kepemimpinan dan Revolusi Data FIFA

Skor akhir dari dua periode Gianni Infantino di kursi presiden FIFA memang tidak pernah tampil di papan skor stadion, tetapi datanya bicara lantang: pada siklus 2019–2022, FIFA membukukan pendapatan 7,5 miliar dolar AS, rekor tertinggi sepanjang sejarah federasi. Sejak dilantik pada Februari 2016 menggantikan Sepp Blatter, pria Swiss itu mengubah wajah sepak bola dunia lewat serangkaian keputusan besar, mulai dari perluasan Piala Dunia hingga revolusi teknologi di lapangan.

Perluasan Piala Dunia: dari 32 menjadi 48 Tim

Gebrakan paling kontroversial di era Infantino adalah penambahan peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim mulai edisi 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Keputusan ini mengubah peta persaingan: jumlah laga naik dari 64 menjadi 104, sementara peluang tim-tim dari Asia, Afrika, dan Amerika Utara untuk tampil di panggung utama ikut membesar. Tak heran, dari 211 asosiasi anggota FIFA, mayoritas mendukung langkah ini.

Konsekuensinya terasa di kantong. Jika pada Piala Dunia 2022 di Qatar total hadiah yang disiapkan FIFA mencapai 440 juta dolar AS, maka untuk edisi 2026 angka itu meroket mendekati 1 miliar dolar AS. Kenaikan hampir dua kali lipat ini menjadi daya tarik utama bagi 48 negara yang lolos, sekaligus bukti bahwa mesin komersial FIFA berjalan tanpa henti di bawah komando Infantino.

Piala Dunia Antarklub 32 Tim: Kompetisi Baru, Pendapatan Baru

Infantino juga menciptakan turnamen yang sebelumnya tidak pernah ada: Piala Dunia Antarklub FIFA dengan 32 peserta yang digelar perdana pada pertengahan 2025 di Amerika Serikat. Format anyar ini mempertemukan juara liga dan turnamen dari seluruh konfederasi, dari Real Madrid hingga klub-klub Asia dan Afrika, dalam ajang yang digadang menjadi "mini Piala Dunia" dengan rentang jadwal hingga 35 hari. Kritik federasi Eropa soal padatnya kalender tidak menyurutkan langkahnya; baginya, kompetisi baru berarti sumber pendapatan baru.

VAR dan Offside Semi-Otomatis Mengubah Laga

Di lapangan, era Infantino identik dengan dominasi teknologi. Video Assistant Referee (VAR) pertama kali dipakai di Piala Dunia 2018, lalu disempurnakan dengan semi-automated offside technology pada 2022. Pembuktian terbaik terjadi di final Qatar: Argentina melawan Prancis dengan formasi 4-3-3 berhadapan 4-2-3-1, dan skor akhir 3-3 setelah 120 menit sebelum Argentina menang adu penalti 4-2. Menit ke-80, Kylian Mbappé mengeksekusi penalti; dua menit berselang ia kembali menyamakan kedudukan. Hat-trick perdana di final Piala Dunia sejak Geoff Hurst 1966 itu tak cukup membawa Prancis juara.

Menit ke-36, Lionel Messi bahkan sempat memberi assist matang yang dituntaskan Ángel Di María menjadi gol kedua Argentina. Data laga itu memperlihatkan betapa ketatnya panggung final: penguasaan bola Argentina 55 persen berbanding 45 persen, shots on target 10 melawan 7, dan sepanjang turnamen tercatat 172 kartu kuning serta 4 kartu merah. Keputusan VAR yang sempat menuai protes, termasuk di partai final, tetap dipertahankan FIFA dengan dalih akurasi yang lebih tinggi daripada mata wasit.

Kutipan Kontroversial di Tengah Rekor Pendapatan

"This was the best World Cup ever," ujar Infantino menanggapi perhelatan Qatar 2022.

Pernyataan itu tetap memicu perdebatan, terutama soal hak asasi manusia dan kepadatan kalender kompetisi. Kendati demikian, pada Kongres FIFA di Kigali, Rwanda, Maret 2023, Infantino kembali terpilih tanpa lawan untuk periode kedua. Ia bahkan mewacanakan perpanjangan masa jabatan hingga 2031 demi mengawal Piala Dunia 2030 di Spanyol, Portugal, dan Maroko, serta Piala Dunia 2034 di Arab Saudi. Pendukungnya menilai kontinuitas ini penting demi stabilitas kalender internasional, sementara para pengkritik menyebut konsentrasi kekuasaan kian besar.

Di atas kertas, statistik tidak pernah bohong. FIFA memproyeksikan pendapatan siklus 2023–2026 menembus 11 miliar dolar AS, sementara Maroko mengukir sejarah dengan dua clean sheet beruntun di fase gugur 2022 sebelum takluk di semifinal. Bahkan keputusan starting XI klub-klub elite kini mulai dipengaruhi data pelacakan yang digenjot FIFA. Selama angka-angka itu terus naik, posisi Infantino di puncak organisasi sepak bola dunia tampak semakin sulit digoyahkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User