Gianni Infantino dan Transformasi Besar FIFA Sepanjang Dekade Kepemimpinannya
Zurich menjadi panggung utama perubahan tata kelola sepak bola dunia. Sejak resmi menjabat pada 26 Februari 2016, Gianni Infantino memimpin FIFA melewati lebih dari satu dekade — sebuah rentang wakt...
Zurich menjadi panggung utama perubahan tata kelola sepak bola dunia. Sejak resmi menjabat pada 26 Februari 2016, Gianni Infantino memimpin FIFA melewati lebih dari satu dekade — sebuah rentang waktu yang mencatatkan ekspansi turnamen paling agresif dalam sejarah, lonjakan pendapatan organisasi hingga 7,5 miliar dolar AS dalam satu siklus empat tahunan, serta deretan kontroversi yang tak pernah benar-benar menjauh dari radar publik.
Babak Pertama: Misi Stabilisasi Pasca-Krisis Korupsi
Infantino masuk ke panggung terbesar sepak bola ketika FIFA berada dalam kondisi paling rapuh. Skandal korupsi 2015 memaksa Sepp Blatter turun dari kursi yang dipegangnya sejak 1998. Kongres Luar Biasa di Zurich menjadi arena penentuan: Infantino, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA, mengungguli Sheikh Salman bin Ibrahim Al-Khalifa dari Bahrain pada putaran kedua pemungutan suara.
Mandat pertamanya langsung diuji dengan reformasi tata kelola. Struktur komite eksekutif FIFA direstrukturisasi, mekanisme pengawasan diperkuat, dan kongres kini menghadirkan 211 federasi anggota sebagai konstituen penuh. Angka itu sendiri menegaskan skala tanggung jawabnya — lebih banyak daripada jumlah negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Inovasi Teknis: VAR Mengubah Wajah Wasiting
Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi momen historis secara teknis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen, Video Assistant Referee atau VAR digunakan secara penuh. Keputusan penalti, kartu merah, dan gol yang dipertanyakan dapat ditinjau ulang lewat rekaman video. Statistiknya bicara keras: pada edisi tersebut puluhan keputusan lapangan dikoreksi berkat intervensi VAR, dengan akurasi keputusan wasit melompat dari kisaran 93 persen menjadi lebih dari 99 persen.
Lima tahun kemudian di Qatar 2022, teknologi semi-otomatis offside menyempurnakan sistem tersebut. Sensor di dalam bola dan belasan kamera pelacak mampu memangkas durasi verifikasi posisi offside secara signifikan. Babak final di Stadion Lusail yang dihadiri 88.966 penonton berakhir dengan Argentina mengangkat trofi usai drama adu penalti melawan Prancis — laga pamungkas yang oleh banyak analis disebut salah satu terbaik sepanjang sejarah turnamen.
Ekspansi Grandiose: 48 Tim dan Format Klub Baru
Narasi terbesar era Infantino adalah angka-angka yang terus membengkak. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menghadirkan 48 tim nasional — naik dari 32 — dengan total 104 pertandingan, bertambah 40 laga dibandingkan format lama. Lebih banyak tim, lebih banyak pertandingan, lebih banyak tiket, dan tentu saja proyeksi pendapatan yang jauh lebih besar bagi induk organisasi.
Format serupa diterapkan pada level klub. Piala Dunia Antarklub versi baru yang digelar musim panas 2025 di Amerika Serikat menampilkan 32 klub dari enam konfederasi, menggantikan struktur lama yang hanya mempertemukan tujuh tim. Total hadiah yang digelontorkan menembus angka 1 miliar dolar AS. Di final yang berlangsung tidak imbang, Chelsea menundukkan Paris Saint-Germain dengan skor telak 3-0 untuk merebut gelar juara perdana format baru ini.
Kritik dan Warisan yang Masih Ditulis
Namun, statistik pertumbuhan tidak selalu bercerita utuh. Kritikus menyorati padatnya kalender internasional yang dinilai membebani fisik pemain, keberlanjutan penyelenggaraan turnamen raksasa di tengah isu iklim, serta sentralisasi kekuasaan yang semakin menguat di tangan satu orang. Mandat Infantino diperpanjang hingga 2027 pada kongres 2023 di Kigali, Rwanda — membuka kemungkinan masa jabatannya melampaui dua dekade apabila ia kembali maju.
Satu hal pasti: di bawah kendali mantan pekerja UEFA kelahiran Brig, Swiss ini, FIFA bertransformasi menjadi mesin komersial dan produsen acara olahraga berskala belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah warisan itu akan dicatat sebagai babak keemasan atau babak yang terlalu rakus, jawabannya akan terus ditulis — pertandingan demi pertandingan — hingga peluit panjang terakhirnya dibunyikan pada 2027 mendatang.
Comments (0)