Gianni Infantino dan Era Baru FIFA yang Penuh Angka

Kongres FIFA ke-73 di Kigali, Rwanda, 16 Maret 2023, menjadi panggung yang tak terlupakan. Gianni Infantino kembali terpilih sebagai presiden FIFA untuk periode ketiga dengan 186 suara dukungan dari 2...

Aug 24, 2026 - 09:04
0 0
Gianni Infantino dan Era Baru FIFA yang Penuh Angka

Kongres FIFA ke-73 di Kigali, Rwanda, 16 Maret 2023, menjadi panggung yang tak terlupakan. Gianni Infantino kembali terpilih sebagai presiden FIFA untuk periode ketiga dengan 186 suara dukungan dari 211 asosiasi anggota — hasil nyaris bulat yang jarang terjadi dalam sejarah organisasi. Tujuh tahun sejak pertama kali menjabat, pria kelahiran Brig, Swiss, itu kini memegang kendali penuh atas kompetisi paling bergengsi di planet ini.

Dari Birokrat UEFA Menjadi Starting XI FIFA

Infantino bukan nama asing di dunia sepak bola Eropa. Sebelum menjabat presiden FIFA pada 26 Februari 2016, ia adalah sekretaris jenderal UEFA — posisi yang membuatnya terbiasa berkutat dengan regulasi, hak siar, dan neraca keuangan. Jika FIFA diibaratkan sebuah tim, kehadirannya di posisi puncak ibarat masuknya starting XI berpengalaman di menit-menit krusial. Ia menggantikan Sepp Blatter yang tersandung skandal korupsi, dan sejak hari pertama ia menjanjikan transparansi serta pemerataan pembangunan sepak bola global.

Gaya kepemimpinannya agresif dan penuh ekspansi. Dalam delapan tahun, tidak ada periode yang tidak diwarnai perubahan format kompetisi. Dari perombakan Piala Dunia hingga kompetisi antarklub elite dunia, semua diubah dengan satu kata kunci: pertumbuhan.

Final 2022: Panggung Data yang Sempurna

Salah satu momen paling berkesan di era Infantino terjadi di Lusail, 18 Desember 2022. Skor akhir Argentina 3-3 Prancis setelah perpanjangan waktu, sebelum duel penalti ditutup dengan kemenangan 4-2 untuk La Albiceleste. Laga ini menyajikan data yang nyaris sempurna: penguasaan bola 56-44 persen untuk Argentina, shots on target 7 berbanding 5, dan 88.966 penonton memadati stadion. Lionel Messi mencetak dua gol, sementara Kylian Mbappé mencetak hat-trick — hanya yang kedua dalam sejarah final Piala Dunia setelah Geoff Hurst pada 1966.

Menit ke-80 menjadi titik balik dramatis: Prancis yang tertinggal dua gol bangkit lewat penalti Mbappé, lalu gol keduanya hanya 97 detik berselang. Di babak perpanjangan, Messi menuntaskan peluang kedua, tetapi Mbappé kembali menyamakan kedudukan dari titik putih. Penalti menjadi penentu: eksekusi Kingsley Coman dimentahkan Emiliano Martínez dan tendangan Aurélien Tchouaméni melenceng — cukup bagi Gonzalo Montiel untuk mengunci gelar ketiga Argentina. Messi menutup turnamen dengan Bola Emas dan tujuh gol, sementara Mbappé merebut Sepatu Emas dengan delapan gol.

Ekspansi 48 Tim dan Revolusi Kompetisi

Di bawah Infantino, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menjadi edisi pertama dengan 48 tim dan 104 pertandingan — melampaui 64 laga pada edisi 2022. Formatnya kini 12 grup berisi empat tim, dengan dua besar setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik lolos ke babak 32 besar. Penambahan 16 tim berarti peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang, sekaligus beban kalender yang jauh lebih berat bagi para pemain top Eropa.

Ambisi serupa diarahkan ke Piala Dunia Antarklub. Edisi 2025 di Amerika Serikat mempertemukan 32 klub dari seluruh dunia dengan total hadiah satu miliar dolar AS — angka yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah turnamen antarklub. Sementara itu, Piala Dunia Wanita 2023 mencatat kenaikan hadiah dari sekitar 30 juta dolar AS pada 2019 menjadi sekitar 150 juta dolar AS.

Transformasi Finansial yang Terukur

Angka-angka di atas bukan kebetulan. Dalam siklus 2019-2022, FIFA membukukan pendapatan sekitar 7,5 miliar dolar AS, didorong kontrak hak siar dan kemitraan komersial. Piala Dunia 2022 sendiri menyediakan total hadiah 440 juta dolar AS, dengan juara dunia menerima 42 juta dolar AS. Program FIFA Forward juga digelontorkan sekitar 2,25 miliar dolar AS untuk pengembangan sepak bola di asosiasi anggota.

Era Infantino juga identik dengan teknologi. VAR resmi diperkenalkan di Piala Dunia 2018, disusul teknologi semi-otomatis untuk deteksi offside pada 2022. Data kini menjadi bagian dari keputusan wasit, dan Infantino berulang kali menyebut statistik sebagai dasar setiap kebijakan barunya.

Kritik di Balik Angka

Tidak semua pihak memuji. Penambahan jumlah laga memicu kekhawatiran cedera dan kelelahan pemain.

“Jadwalnya terlalu padat. Pemain bukan robot — mereka butuh waktu istirahat dan pemulihan yang layak,” pernah ditegaskan Pep Guardiola, pelatih Manchester City.

Infantino membalas dengan data yang sama: lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak pendapatan yang disalurkan ke seluruh dunia, termasuk ke federasi kecil yang selama ini nyaris tanpa perhatian. Perjalanan periode ketiganya baru dimulai, dan satu hal pasti — setiap langkahnya akan selalu diukur, baik dalam satuan gol, suara, maupun dolar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User