Final Soekarno Cup 2026: Talenta Muda Bersinar, Solidaritas untuk NTT
Skor akhir 3-2 untuk Seleksi Indonesia Timur U-18 menjadi penutup paling dramatis dalam Final Soekarno Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu malam. Kapten Yohanes Kefi mencetak gol kemena...
Skor akhir 3-2 untuk Seleksi Indonesia Timur U-18 menjadi penutup paling dramatis dalam Final Soekarno Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu malam. Kapten Yohanes Kefi mencetak gol kemenangan pada menit ke-89, menyempurnakan malam yang seluruh perhatiannya dialamatkan kepada korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Trofi perdana bagi tim perwakilan Indonesia Timur ini diraih lewat perlawanan yang nyaris mustahil dipercaya.
Kedua starting XI turun dengan ambisi penuh. Seleksi Jawa yang dibesut Bagas Nugroho memilih formasi 4-3-3 dengan trio serang Raka Pradana, Fadhil Ramadhan, dan Bima Aryasatya. Di kubu lawan, pelatih Frans Woda menjawab dengan struktur 4-2-3-1 yang menempatkan Kefi sebagai penyerang tunggal, didukung tiga gelandang serang di belakangnya.
Babak Pertama: Dominasi Awal yang Sia-Sia
Menit ke-14, Seleksi Jawa membuka keunggulan. Bima Aryasatya melepaskan umpan silang terukur dari sisi kanan — assist perdana di turnamen ini — dan Raka Pradana menyambutnya dengan sundulan tajam di depan gawang. Skor 1-0. Dua puluh menit pertama mencatat penguasaan bola 58 persen untuk tim asal Jawa, lengkap dengan tiga peluang berbahaya lainnya.
Namun sepak bola punya caranya menyeimbangkan laga. Menit ke-23, kiper Marcel Lakotani melakukan penyelamatan gemilang atas tembakan voli Fadhil Ramadhan dari luar kotak penalti. Momentum itu menular ke seluruh barisan Indonesia Timur. Menit ke-38, eksekusi sepak pojok dimanfaatkan maksimal: sundulan kepala Kefi menembus sudut jauh. Skor berubah 1-1, dengan statistik shots on target babak pertama 4-3.
Babak Kedua: VAR, Kartu Merah, dan Offside Tipis
Menit ke-52, Seleksi Jawa kembali unggul lewat serangan balik kilat. Assist kedua Raka Pradana menemukan Fadhil Ramadhan yang menceploskan bola dengan tenang. Keunggulan 2-1 memindahkan tekanan psikologis ke bangku Indonesia Timur.
Jawaban datang pada menit ke-67. Wasit menunjuk titik penalti setelah meninjau ulang layar VAR selama hampir dua menit — bola menyentuh tangan bek Jawa di dalam kotak penalti. Kefi maju sebagai eksekutor dan menaklukkan kiper dengan tendangan rendah ke sudut kiri. 2-2, dan stadion meledak.
Drama belum selesai. Menit ke-74, kartu merah langsung diterima bek tengah Seleksi Jawa akibat tackle berbahaya dari belakang. Bermain dengan sepuluh orang, tim Bagas Nugroho terpaksa mundur total. Menit ke-81, gol yang sempat dirayakan Indonesia Timur justru dianulir karena posisi offside tipis — keputusan VAR kedua dalam satu babak.
Menit ke-89, momen penentu akhirnya tiba. Umpan terobosan dari gelandang bertahan diterima Kefi di tepi kotak penalti. Tanpa banyak sentuhan, ia melepaskan tendangan first-time yang menghujam sudut atas. Skor akhir 3-2. Empat menit tambahan waktu tidak cukup bagi Seleksi Jawa untuk bangkit.
Rekap statistik akhir: penguasaan bola 54 persen versus 46 persen, shots on target 8-5, sepak pojok 7-4, kartu kuning 3-2, dan satu kartu merah di pihak Seleksi Jawa.
Yohanes Kefi: Anak Kupang yang Menyalakan Malam
Brace Kefi menjadi cerita utama malam itu. Penyerang berusia 17 tahun kelahiran Kupang itu mencatat lima shots on target secara individu, empat dribble sukses, dan akurasi passing 87 persen — angka langka untuk seorang penyerang tunggal. Lebih dari sekadar gol, kepemimpinannya sebagai kapten terlihat dari cara ia mengatur tempo serangan ketika timnya tertinggal.
"Setiap sentuhan bola malam ini kami persembahkan untuk saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur. Kami tidak hanya bermain demi trofi," ujar Kefi seusai laga.
"Saat lawan bermain dengan sepuluh orang, kami meminta anak-anak menaikkan intensitas pressing. Mereka menjawabnya dengan gol di menit-menit akhir. Ini bukti mental generasi baru kita," kata pelatih Frans Woda.
Semangat Gotong Royong Melampaui Skor
Luar lapangan, final ini berlangsung sebagai malam solidaritas. Satu menit penghormatan dihelat menjelang kick-off untuk para korban gempa NTT, sementara kedua tim mengenakan ban lengan hitam sepanjang pertandingan. Panitia juga membuka gerai donasi serta melelang jersey resmi kedua tim, termasuk jersey yang dikenakan Kefi saat mencetak gol kemenangan.
Hingga laga usai, panitia mengumumkan pengumpulan dana sementara senilai Rp2,3 miliar yang akan disalurkan untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan dan lapangan olahraga di wilayah terdampak. Gerai donasi tetap dibuka hingga tujuh hari setelah final digelar.
Final Soekarno Cup 2026 membuktikan bahwa panggung talenta muda tak harus berhenti pada urusan skor akhir. Dari rumput hijau GBK, semangat gotong royong ikut tampil sebagai pemenang — bersama nama Yohanes Kefi yang kini tercatat permanen dalam sejarah turnamen.
Comments (0)