Final Piala Dunia 2026: Argentina Tekuk Spanyol, Gavi Terlibat Keributan

Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol menutup final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026) malam waktu setempat. Namun peluit panjang wasit bukanlah...

Aug 10, 2026 - 05:03
0 0
Final Piala Dunia 2026: Argentina Tekuk Spanyol, Gavi Terlibat Keributan

Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol menutup final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026) malam waktu setempat. Namun peluit panjang wasit bukanlah akhir dari cerita. Hanya beberapa menit setelah laga usai, gelandang Spanyol Gavi tersungkur di atas rumput setelah bersitegang dengan Leandro Paredes dan Thiago Almada — puncak dari ketegangan yang sudah mendidih sepanjang 90 menit.

Babak Pertama: La Albiceleste Mencuri Inisiatif

Spanyol turun dengan formasi 4-3-3: Unai Simón di bawah mistar; Dani Carvajal, Pau Cubarsí, Aymeric Laporte, dan Marc Cucurella mengawal pertahanan; Rodri, Pedri, dan Dani Olmo membangun lini tengah; sementara Lamine Yamal, Álvaro Morata, dan Nico Williams menjadi trisula di depan. Argentina merespons dengan skema 4-3-3 yang lebih pragmatis, mengandalkan Emiliano Martínez di bawah mistar, Cristian Romero dan Lisandro Martínez di jantung pertahanan, serta Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, dan Thiago Almada menopang striker Julián Álvarez.

La Roja langsung mendominasi penguasaan bola, mencatatkan 63 persen sepanjang babak pertama. Namun justru Argentina yang lebih berbahaya lewat transisi cepat. Menit ke-23, Almada melepaskan umpan terobosan yang membelah dua bek tengah Spanyol, dan Julián Álvarez menyelesaikannya dengan sepakan kaki kiri ke sudut jauh. Skor 1-0. Spanyol nyaris menyamakan kedudukan menit ke-38 ketika Nico Williams menceploskan bola ke gawang Emiliano Martínez, tetapi bendera offside berkibar — marginnya hanya seujung sepatu.

Babak Kedua: Yamal Menjawab, Lautaro Menutup

Interval tidak mengubah peta permainan: Spanyol menekan, Argentina bertahan rapat sambil mengintai serangan balik. Menit ke-57, publik La Roja meledak. Pedri mengirim assist matang ke sisi kanan, dan Lamine Yamal — winger 19 tahun yang bersinar sepanjang turnamen — melepaskan tendangan melengkung ke tiang jauh. Kedudukan imbang 1-1, dan final kembali terbuka.

Spanyol hampir berbalik unggul menit ke-78 ketika Morata dijatuhkan di area terlarang, tetapi tinjauan VAR menyatakan kontak terjadi tepat di luar kotak penalti — keputusan yang memicu protes keras dari bench Spanyol. Enam menit berselang, hukuman itu datang. Menit ke-84, serangan balik kilat Argentina diakhiri umpan silang Mac Allister, dan supersub Lautaro Martínez menyundul bola melewati jangkauan Unai Simón. 2-1. VAR kembali memeriksa posisi sang striker dua menit kemudian, dan gol dinyatakan sah.

Keributan Usai Peluit Panjang

Emosi yang tertahan sepanjang laga akhirnya meledak begitu wasit meniup peluit akhir. Gavi — yang sudah mengantongi kartu kuning menit ke-71 setelah tekel keras terhadap De Paul — terlihat menghampiri Leandro Paredes. Keduanya terlibat adu mulut yang berujung aksi saling dorong. Thiago Almada datang mendekat, namun situasi justru makin panas. Di tengah kerumunan itu, Gavi kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke rumput, memicu para pemain kedua tim berlarian mendekat.

Ofisial pertandingan dan petugas keamanan stadion bergegas memisahkan kedua kubu sebelum insiden meluas. Tidak ada kartu tambahan yang dikeluarkan karena laga sudah resmi berakhir, tetapi momen tersebut menjadi noda pada malam yang seharusnya penuh perayaan bagi kubu Argentina.

Statistik: Dominasi Tak Selalu Berarti Gelar

Angka-angka laga ini mencerminkan paradoks sepak bola modern. Spanyol unggul telak dalam penguasaan bola 63 berbanding 37 persen, melepaskan 16 tembakan dengan 7 shots on target, sementara Argentina hanya mencatat 9 percobaan dan 5 tembakan tepat sasaran. Namun efisiensi La Albiceleste di kotak penalti — dua gol dari lima shots on target — menjadi pembeda. Tidak ada clean sheet malam ini; kedua kiper sama-sama harus memungut bola dari jalanya.

Wasit mengeluarkan total tujuh kartu kuning — tiga untuk Spanyol, empat untuk Argentina — tanpa satu pun kartu merah, gambaran duel yang keras namun masih terkendali hingga menit akhir. Bagi Argentina, ini gelar Piala Dunia keempat dalam sejarah mereka. Bagi Spanyol, malam di East Rutherford berakhir dengan dua kekalahan sekaligus: di papan skor, dan dalam menjaga emosi.

"Ini final Piala Dunia. Semua orang bermain dengan hati, dan terkadang emosi meluap setelah peluit berbunyi. Yang terpenting, tidak ada yang cedera, dan kami pulang membawa trofi," ujar pelatih Argentina usai pertandingan.

Bagi Gavi, malam ini akan menjadi pelajaran berharga. Talentanya tidak pernah diragukan, tetapi final sekelas ini menuntut kepala dingin hingga detik terakhir — bahkan setelah wasit meniup peluit panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User