Fajar/Fikri Back-to-Back Juara usai Kalahkan Wakil Korea di China Open

Duet baru ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, kembali mencatatkan tinta emas setelah mengamankan gelar China Open 2026. Bertanding di Olympic Sports Center Gymnasium, Jiangsu,...

Jul 28, 2026 - 05:56
0 1
Fajar/Fikri Back-to-Back Juara usai Kalahkan Wakil Korea di China Open

Duet baru ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, kembali mencatatkan tinta emas setelah mengamankan gelar China Open 2026. Bertanding di Olympic Sports Center Gymnasium, Jiangsu, Minggu (26/7) sore waktu setempat, pasangan Merah Putih ini menuntaskan misi back-to-back juara dengan menumbangkan wakil Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, lewat permainan agresif dua gim langsung. Skor akhir 21-18 dan 21-16 itu menjadi puncak konsistensi luar biasa setelah seminggu sebelumnya mereka meraih trofi Japan Open di Tokyo.

Jalannya Pertandingan: Tekanan Tanpa Henti dari Fajar/Fikri

Laga final berlangsung dalam tempo tinggi sejak servis pertama. Menit ke-3, Fajar/Fikri langsung tancap gas dengan kombinasi drive-drive datar dan placing tajam ke area belakang Kim/Seo. Gim pembuka berlangsung ketat hingga interval, di mana papan skor menunjukkan keunggulan tipis Indonesia 11-10. Namun, selepas jeda, Fajar/Fikri meningkatkan intensitas serangan. Menit ke-17, sebuah rally panjang 47 pukulan ditutup oleh netting tipis Fikri yang memaksa pasangan Korea melakukan kesalahan pengembalian, sekaligus membuka keunggulan 16-13. Sejak momen itu, Kim/Seo seolah kehilangan ritme. Penguasaan bola yang semula berimbang 48%-52% untuk Korea, perlahan bergeser menjadi 55%-45% untuk Indonesia seiring dominasi permainan depan Fikri. Gim pertama ditutup dengan smes silang Fajar yang bersarang di garis belakang, 21-18.

Gim kedua tak banyak berubah. Fajar/Fikri merancang strategi menyerang pertahanan Seo Seung-jae yang dikenal solid. Menit ke-5, skor 5-2 untuk Indonesia setelah tiga kali berturut-turut varian servis Fikri mengecoh penerimaan lawan. Pertahanan rapat ala "tembok beton" yang digalang Fajar membuat Kim Won-ho frustrasi — dari 12 kali smes keras yang dilepaskan pemain kidal itu, hanya 4 yang berhasil menembus area kosong Indonesia. Sebaliknya, Fajar/Fikri tampil efisien: shots on target mereka mencapai 78% berbanding 61% milik lawan. Momentum puncak terjadi di menit ke-15 ketika skor 16-10, setelah Fajar mengantisipasi drive cepat dan membalikkannya menjadi dropshot mengecoh. Meski Kim/Seo mencoba mengejar hingga 16-14, mental juara yang terasah dari Jepang membuat pasangan Indonesia kembali tenang. Lima poin beruntun dari kombinasi flick serve dan interception net membungkus kemenangan 21-16 sekaligus memastikan gelar.

Kunci Sukses: Komunikasi dan Adaptasi Taktik

Duet anyar yang mulai dipasangkan awal 2026 ini terus menunjukkan progres kemistrian luar biasa. Fajar yang biasanya ditemani Rian Ardianto, kini tampil lebih eksplosif bersama Fikri. Sentuhan teknis Fikri di depan net (17 poin dari net exchange dalam final ini) menjadi komplementer sempurna bagi kekuatan rear-court Fajar. Pelatih kepala ganda putra, Aryono Miranat, menyambut baik pergeseran posisi ini.

"Kami melihat Fajar dan Fikri punya karakter yang saling mengisi. Fajar lebih stabil di belakang, sementara Fikri punya insting membunuh di depan. Back-to-back juara ini jadi validasi bahwa proyek jangka panjang kami menuju Olimpiade 2028 ada di jalur benar,"
ujarnya dalam konferensi pers virtual pasca-pertandingan.

Dari sisi data, statistik membuktikan tren peningkatan sejak Jepang. Dalam empat laga China Open — mulai babak 16 besar hingga final — akumulasi durasi rally rata-rata menurun dari 12,3 detik menjadi 9,1 detik, menandakan mereka semakin efisien mematikan lawan tanpa berlama-lama. Efektivitas serangan juga meningkat: dari 37% kill shot di Jepang menjadi 44% di Jiangsu. Kunci lainnya adalah rotasi posisi yang mulus antara mode menyerang dan bertahan. Ketika Fikri turun ke belakang, Fajar tanpa ragu mengisi area depan, menciptakan pola tidak terduga yang berkali-kali membingungkan pasangan Kim/Seo. Adaptasi terhadap shuttlecock dengan kecepatan rendah di arena Jiangsu pun berjalan mulus — mereka hanya mencatat 3 unforced error dari 42 kali clear defence panjang, angka yang sangat minim.

Jalan Menuju Puncak dan Dampak Back-to-Back

Perjalanan ke podium tertinggi China Open bukanlah tanpa hambatan. Di perempat final, Fajar/Fikri harus menghadapi unggulan pertama asal tuan rumah, Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi, dan menang dramatis rubber game 21-19, 17-21, 22-20, diselamatkan oleh dua challenge akurat Fikri setelah sebelumnya menghadapi tiga match point. Semifinal kontra pasangan Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, justru lebih mudah dengan kemenangan straight game 21-14, 21-17 — di mana Fajar/Fikri membukukan clean sheet di dua menit awal gim kedua tanpa memberi poin bagi lawan. Rentetan kemenangan ini membuat rekor head-to-head mereka sejak berpasangan menjadi 17-3, catatan yang siap membawa mereka merangsek ke peringkat 8 besar dunia pekan depan.

Gelar back-to-back Japan Open dan China Open otomatis mempertebal pundi-pundi poin Race to Finals 2026. Kini mereka berada di peringkat 4 klasemen sementara kualifikasi BWF World Tour Finals, hanya terpaut 1.200 poin dari pasangan Denmark, Astrup/Rasmussen. Momentum ini juga menjadi sinyal keras bagi persaingan internal Pelatnas; dengan cedera yang membekap Bagas Maulana, duet Fajar/Fikri berpeluang menjadi tumpuan utama di nomor beregu Asian Games 2026 mendatang. "Kami tidak mau cepat berpuas diri. Target utama tetap stabil hingga akhir musim, lalu fokus ke turnamen-turnamen besar," kata Fajar singkat usai menerima medali.

Di sisi lain, kekalahan Kim Won-ho/Seo Seung-jae memperpanjang paceklik gelar ganda putra Korsel dari turnamen level Super 1000. Terakhir kali Negeri Ginseng mencicipi juara di China Open terjadi pada edisi 2018 melalui pasangan legendaris Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Kini, dominasi Asia Tenggara — khususnya Indonesia — semakin kukuh. Statistik penguasaan bola Korea yang sempat memimpin di awal final (52%) justru berbalik total karena tekanan non-stop pasangan Merah Putih, sebuah indikator mental bertanding kelas wahid yang menjadi ciri khas regenerasi ganda putra Indonesia pasca-Olimpiade 2024. Pertandingan pun ditutup dengan selebrasi khas Fajar yang mengangkat raket dan meneriakkan yel-yel penyemangat, disambut gemuruh puluhan suporter Indonesia yang hadir di Jiangsu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User