Gianni Infantino: Dekade Kepemimpinan yang Mengubah Wajah Sepak Bola Dunia
Gianni Infantino bukan sekadar nama di kop surat FIFA. Pria kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970 ini adalah arsitek utama transformasi sepak bola global dalam satu dekade terakhir. Dari ruang sidang K...
Gianni Infantino bukan sekadar nama di kop surat FIFA. Pria kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970 ini adalah arsitek utama transformasi sepak bola global dalam satu dekade terakhir. Dari ruang sidang Kongres Luar Biasa di Zurich hingga panggung final Piala Dunia, jejaknya terasa di hampir setiap kebijakan besar badan tertinggi olahraga paling populer di dunia itu.
Mengambil Kemudi Saat FIFA Terpuruk
Babak pertama kisah Infantino di FIFA dimulai pada momen paling kelam organisasi tersebut. Skandal korupsi 2015 membuat FIFA terguncang hebat, dan dunia menantikan sosok yang mampu memulihkan kepercayaan. Pada Kongres Luar Biasa di Zurich, 26 Februari 2016, mantan Sekretaris Jenderal UEFA itu keluar sebagai pemenang setelah putaran kedua pemungutan suara. Angka bicara: 115 suara untuk Infantino, mengalahkan Sheikh Salman bin Ibrahim Al-Khalifa yang hanya meraih 88 suara.
Kemenangan itu bukan hadiah gratis. Ia harus menaklukkan tiga rival berat — Sheikh Salman, Pangeran Ali bin Al-Hussein, dan Jérôme Champagne — dalam bursa presiden yang dinilai sebagai salah satu yang paling ketat dalam sejarah FIFA. Mandat pertama pun langsung diisi agenda besar: reformasi tata kelola, transparansi keuangan, dan pemulihan citra di mata 211 federasi anggota.
Kepercayaan kongres tidak berhenti di satu periode. Juni 2019, Infantino terpilih kembali tanpa lawan. Empat tahun berselang, tepatnya 16 Maret 2023 di Kigali, Rwanda, ia dikukuhkan lagi untuk masa jabatan hingga 2027. Tiga kali dilantik, satu gaya kepemimpinan: ambisius dan tidak takut mengubah tradisi.
Piala Dunia 48 Tim: Taruhan Terbesar
Jika ada satu kebijakan yang paling melekat dengan nama Infantino, jawabannya jelas: ekspansi Piala Dunia. Disetujui Januari 2017, keputusan menambah peserta dari 32 menjadi 48 tim memicu debat panjang di seluruh penjuru globe. Para kritikus menyebut format baru ini lahir dari motif komersial semata. Pendukungnya menilai lebih banyak negara kini mendapat kesempatan tampil di panggung tertinggi.
Apa pun pendapatnya, angka-angkanya spektakuler. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menampilkan 104 pertandingan, melonjak drastis dari 64 laga pada edisi-edisi sebelumnya. Turnamen pertama dengan tiga tuan rumah ini diproyeksikan menjangkau miliaran penonton layar kaca sekaligus membuka pintu bagi federasi-federasi kecil untuk pertama kalinya mencicipi atmosfer Piala Dunia.
Gelombang ekspansi juga menjalar ke sepak bola wanita. Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru digelar dengan 32 tim, naik dari 24 peserta pada edisi 2019. Hasilnya nyata: level persaingan meningkat tajam dan penjualan tiket tembus lebih dari satu jua lembar — rekor baru bagi ajang sepak bola wanita.
VAR, Klub World Cup, dan Mesin Uang FIFA
Infantino juga dikenang sebagai pengawal masuknya teknologi ke lapangan hijau. Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi edisi pertama yang menggunakan Video Assistant Referee (VAR) secara penuh. Keputusan kontroversial kini bisa ditinjau ulang, meski VAR sendiri kerap memicu perdebatan segar di antara pecinta sepak bola.
Inovasi berlanjut lewat Piala Dunia Antarklub berformat baru. Mulai 2025, kompetisi antarklub bergengsi itu dihelat dengan 32 tim — format serupa Piala Dunia tingkat negara — menggantikan sistem lama yang hanya menampilkan tujuh klub. Turnamen panjang ini dijanjikan sebagai panggung elit global, meski kalender padat membuat banyak pelatih top mengeluh soal beban main para pemainnya.
Dari sisi finansial, mesin uang FIFA justru semakin deras di era Infantino. Siklus 2015-2018 mencatatkan pendapatan sekitar 6,4 miliar dolar AS. Siklus berikutnya, 2019-2022, naik menjadi 7,5 miliar dolar AS. Target siklus 2023-2026 bahkan ditetapkan di kisaran 11 miliar dolar AS — lonjakan yang digerakkan hak siar, sponsor, dan deretan turnamen baru.
Warisan yang Masih Ditulis
Setiap transformasi besar selalu datang bersama kritik. Jadwal kompetisi yang makin padat, keberpihakan pada proyek-proyek komersial megah, hingga gaya komunikasi Infantino yang kadang provokatif menjadi bahan sorotan publik. Namun sulit memungkiri satu fakta: di bawah kendalinya, FIFA berubah dari institusi yang lumpuh oleh skandal menjadi raksasa bisnis olahraga yang terus berekspansi.
Sisa masa jabatan hingga 2027 masih panjang, dan agenda besar sudah menunggu di garis start: Piala Dunia 2026 yang bakal menjadi turnamen terbesar dalam sejarah. Satu hal pasti — era Gianni Infantino di kursi tertinggi FIFA akan dikenang sebagai babak paling dinamis dalam sejarah sepak bola modern.
Comments (0)