Erick Thohir Gandeng NYU Bangun Ekosistem Olahraga Nasional

Jakarta — Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, resmi menjalin kemitraan strategis dengan Preston Robert Tisch Institute for Global Sport yang berada di bawah naungan New York University (NYU)....

Erick Thohir Gandeng NYU Bangun Ekosistem Olahraga Nasional

Jakarta — Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, resmi menjalin kemitraan strategis dengan Preston Robert Tisch Institute for Global Sport yang berada di bawah naungan New York University (NYU). Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah menghadirkan lompatan kualitas pembinaan atlet, tata kelola organisasi, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan di sektor olahraga Tanah Air. Langkah tersebut secara simbolik dilakukan di sela pertemuan bilateral yang membahas masa depan sport science dan sport management di Indonesia.

Dalam kesepakatan yang diteken, kedua pihak sepakat untuk merancang sejumlah program unggulan yang menyentuh aspek pendidikan, riset, dan pelatihan. Erick Thohir menekankan bahwa kerja sama ini tidak sekadar seremoni, melainkan akan segera diwujudkan melalui kurikulum bersama, pertukaran pelatih dan akademisi, hingga program beasiswa bagi atlet muda potensial. “Kami ingin memastikan bahwa pengetahuan kelas dunia dari NYU bisa langsung diadaptasi di lapangan. Ini bagian dari transformasi olahraga nasional yang kami canangkan,” ujar Erick dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (16/1).

Cakupan dan Program Strategis

Di bawah payung MoU ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Tisch Institute akan fokus pada tiga pilar utama. Pertama, pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan bersertifikat bagi pelatih, manajer klub, dan pengurus federasi. Kedua, riset terapan di bidang sport science yang meliputi analisis performa berbasis data, nutrisi olahraga, psikologi atlet, dan pencegahan cedera. Ketiga, pertukaran pengetahuan dan kebijakan publik yang akan melibatkan mahasiswa serta birokrat muda untuk belajar langsung di kampus NYU di New York.

Program pertukaran pelatih dan atlet menjadi salah satu poin yang paling dinantikan. Dalam dua tahun pertama, Kemenpora menargetkan sedikitnya 50 pelatih dari 10 cabang olahraga prioritas akan mengikuti short course di Tisch Institute. Sementara itu, mahasiswa Indonesia berprestasi di bidang keolahragaan berpeluang mendapatkan beasiswa untuk menempuh program master di NYU, khususnya pada jurusan Global Sport Management. “Kami tidak hanya mengirim orang untuk belajar, tetapi juga mendatangkan pakar dari NYU untuk melakukan riset kolaboratif di Indonesia. Jadi sifatnya dua arah,” jelas Erick.

Dampak Nyata bagi Transformasi Olahraga

Kerja sama dengan institusi selevel NYU ini diproyeksikan mampu mempercepat implementasi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang telah menjadi peta jalan Kemenpora. Data Kemenpora mencatat bahwa pada 2023 lalu, Indonesia hanya memiliki sekitar 1.200 pelatih bersertifikat internasional, sementara kebutuhan ideal mencapai lebih dari 5.000. Melalui intervensi program capacity building bersama Tisch Institute, angka tersebut diharapkan meningkat dua kali lipat dalam kurun empat tahun ke depan.

Di sisi sport science, Indonesia masih tertinggal dalam hal pemanfaatan teknologi untuk pemantauan performa atlet. MoU ini membuka akses bagi peneliti Indonesia untuk mempelajari langsung penerapan teknologi wearable sensor, motion capture, dan big data analytics yang sudah menjadi standar di liga-liga profesional Amerika Serikat. Transfer teknologi semacam ini diyakini mampu memperbaiki sistem pemanduan bakat, meminimalkan risiko cedera, serta memperpanjang usia karier atlet nasional.

Lebih dari sekadar prestasi, kerja sama ini juga menyasar aspek industri. Dengan bekal manajemen olahraga modern, pemerintah berharap lahir lebih banyak sport entrepreneur yang bisa mengelola liga, event, maupun fasilitas olahraga secara profesional sehingga menciptakan efek berganda bagi perekonomian. “Olahraga bukan hanya medali. Kami ingin membangun ekosistem yang berkelanjutan, dari hulu pendidikan hingga hilir industri,” tambah Erick.

Respons dan Langkah Lanjutan

Guru Besar Tisch Institute, Profesor Arthur Miller, menyambut positif penandatanganan ini dan menyebut Indonesia sebagai mitra potensial dengan populasi muda yang besar dan semangat olahraga yang terus tumbuh. “Kami melihat ada peluang luar biasa untuk berkolaborasi dalam riset, terutama pada bidang community sport dan youth development. NYU berkomitmen penuh untuk mendampingi transformasi ini,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, Kemenpora akan membentuk gugus tugas yang terdiri dari perwakilan internal dan akademisi dari universitas negeri ternama untuk memastikan bahwa setiap program berjalan sesuai kerangka waktu. Target pertama adalah meluncurkan pilot project di cabang olahraga bulu tangkis dan atletik menjelang akhir tahun ini. Dua cabor tersebut dipilih karena memiliki tradisi panjang dan infrastruktur yang relatif siap untuk mengadopsi pendekatan sports analytics.

Rencana jangka menengah juga mencakup pendirian pusat riset olahraga bersama di Indonesia yang akan menjadi simpul kolaborasi antara peneliti dalam negeri dan mitra internasional. Pusat riset itu diharapkan dapat menjadi pusat unggulan di kawasan Asia Tenggara. Dengan langkah konkret ini, pemerintah optimistis bahwa investasi di bidang pengetahuan akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi di panggung internasional, termasuk target ambisius pada Olimpiade 2032 yang tengah diperjuangkan Indonesia sebagai tuan rumah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User