Elkan Baggott: Dua Momen Terindah Bersama Garuda

Skor akhir 1-0 atas Vietnam di laga pamungkas Grup D Piala Asia 2023 mengunci tiket bersejarah Timnas Indonesia ke babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah. Bagi Elkan Baggott, bek tengah Mi...

Aug 24, 2026 - 17:50
0 0
Elkan Baggott: Dua Momen Terindah Bersama Garuda

Skor akhir 1-0 atas Vietnam di laga pamungkas Grup D Piala Asia 2023 mengunci tiket bersejarah Timnas Indonesia ke babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah. Bagi Elkan Baggott, bek tengah Millwall FC yang tampil penuh sebagai starter di lini pertahanan, momen itu menjadi kenangan paling berharga selama berseragam Garuda. Namun di daftar memorinya, tersimpan satu nama lain yang tak kalah istimewa: Argentina. Dua panggung berbeda, dua level tekanan berbeda, dan satu kesimpulan yang sama—Garuda mampu berdiri di panggung terbesar Asia.

Lolos dari Neraka Grup D: Jalan Berliku di Qatar

Perjalanan Indonesia di Piala Asia 2023 nyaris berakhir sebelum waktunya. Di laga pembuka, Garuda harus menyerah 1-3 dari Irak, lalu kembali tumbang dengan skor identik 1-3 saat menghadapi Jepang. Dua kekalahan itu membuat posisi Indonesia terpuruk di dasar klasemen, namun tak lantas memupus asa. Syaratnya sederhana namun berat: wajib menang atas Vietnam di laga terakhir sembari berharap hasil grup lain berpihak.

Menit ke-42, Asnawi Mangkualam melepaskan tendangan penalti yang menjadi gol tunggal pertandingan. Pelanggaran terhadap Rafael Struick di kotak terlarang sempat ditinjau lewat VAR sebelum wasit menunjuk titik putih, dan eksekusi dingin Asnawi mengunci clean sheet pertama Garuda di turnamen. Skor akhir 1-0 membawa Indonesia menuntaskan fase grup dengan tiga poin, cukup untuk lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.

Data pertandingan memperlihatkan betapa berharganya kemenangan itu. Penguasaan bola Indonesia hanya 39 persen melawan 61 persen milik Vietnam, tetapi efisiensi serangan balik menjadi pembeda utama. Garuda melepaskan empat shots on target dari tujuh percobaan, sementara kiper Vietnam dipaksa bekerja keras. Disiplin lini belakang yang digalang Baggott, Jordi Amat, dan Rizky Ridho dalam formasi tiga bek menjadi fondasi keberhasilan tersebut, termasuk saat menerapkan trap offside yang rapi di babak kedua.

Malam GBK: Menghadapi Sang Juara Dunia

Enam bulan sebelum Qatar, Baggott merasakan atmosfer yang sama sekali berbeda. Skor akhir 0-2 untuk Argentina dalam laga uji coba 19 Juni 2023 di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi kelas ujian tertinggi dalam karier internasionalnya. Meski Lionel Messi absen, juara dunia itu tetap menurunkan starting XI bertabur bintang: Lautaro Martínez, Julián Álvarez, Alexis Mac Allister, hingga Enzo Fernández.

Menit ke-38, Leandro Paredes memecah kebuntuan lewat eksekusi penalti setelah pelanggaran di area terlarang. Garuda mencoba keluar dari tekanan dan sempat membangun serangan, tetapi menit ke-51, sundulan Cristian Romero menggandakan keunggulan. Tuan rumah menuntaskan laga dengan penguasaan bola 38 persen melawan 62 persen milik tim tamu, sebuah cermin betapa dominannya sang juara dunia dalam mengontrol ritme permainan.

Bagi Baggott, duel itu adalah kurikulum sepak bola paling mahal yang pernah ia terima. Menghadapi pergerakan tanpa bola para penyerang level dunia memaksanya membaca permainan lebih cepat dan memangkas ruang lebih ketat. Meski dua gol bersarang di gawang Ernando Ari, atmosfer lebih dari 60.000 penonton yang memadati GBK menjadi dukungan kandang terbaik yang pernah ia rasakan sepanjang kariernya.

Raksasa 1,95 Meter di Lini Pertahanan Garuda

Dalam dua momen besar tersebut, Baggott tampil sebagai tembok kedua setelah kiper. Dengan tinggi 1,95 meter, ia memenangi mayoritas duel udara dan menjadi andalan saat menghadapi umpan silang maupun situasi bola mati. Catatan sapuan bersih dan intersepsi yang konsisten membuatnya kerap menjadi pembersih terakhir di lini belakang, termasuk saat menjaga keunggulan tipis melawan Vietnam.

Namun statistik juga menunjukkan sisi yang perlu diwaspadai. Kecepatannya yang terbatas kerap diekspos ketika lawan memanfaatkan ruang di belakang pertahanan, dan kartu kuning yang ia terima saat menghadapi Jepang menjadi contoh bagaimana pressing tinggi bisa merepotkan bek berpostur besar. Di Millwall FC, menit bermain yang stabil di Championship menjadi modal penting untuk menjaga ketajaman sebelum kembali memperkuat Garuda.

"Ini baru permulaan. Kami tidak hanya ingin tampil di Piala Asia, kami ingin terus bersaing di level tertinggi," ujar pelatih Shin Tae-yong, nada yang selaras dengan ambisi Baggott untuk menambah babak baru dalam karier internasionalnya.

Menatap Kualifikasi Piala Dunia 2026

Dua momen terindah itu kini menjadi modal psikologis menuju babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Indonesia tergabung di Grup C bersama Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan China—sebuah grup yang menuntut level konsistensi jauh lebih tinggi daripada sekadar lolos dari fase grup. Persaingan di posisi bek tengah pun kian ketat dengan hadirnya Jay Idzes, Mees Hilgers, hingga Rizky Ridho yang sama-sama tampil impresif.

Bagi Baggott, tantangan itu justru menjadi motivasi. Pengalaman menghadapi Argentina dan momen bersejarah di Qatar memberinya keyakinan bahwa dirinya layak bersaing di level dunia. Jika mampu menjaga performa dan kebugaran, bukan mustahil dua kenangan terindah itu akan segera mendapat tambahan babak baru—entah di Piala Asia 2027 di Arab Saudi, atau bahkan panggung yang lebih besar: Piala Dunia 2026.

Sejarah menanti, dan Baggott jelas tak berniat menjadi penonton.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User