Perunggu BWF 2026 Jadi Modal Amri/Nita Kejar Prestasi Lebih Tinggi
Skor akhir 21-18, 19-21, 16-21 menutup perjalanan Amri/Nita di Kejuaraan Dunia BWF 2026. Di babak semifinal, ganda campuran Indonesia itu harus mengakui keunggulan unggulan pertama dalam duel yang ber...
Skor akhir 21-18, 19-21, 16-21 menutup perjalanan Amri/Nita di Kejuaraan Dunia BWF 2026. Di babak semifinal, ganda campuran Indonesia itu harus mengakui keunggulan unggulan pertama dalam duel yang berlangsung selama 74 menit. Namun begitu medali perunggu resmi dikalungkan ke leher mereka, senyum lebar justru terpancar dari wajah keduanya. Ini adalah podium pertama Indonesia di nomor ganda campuran di turnamen ini sejak lama, sekaligus pencapaian tertinggi karier Amri dan Nita di panggung dunia.
Perunggu ini bukan hadiah hiburan. Sepanjang turnamen, pasangan peringkat sembilan dunia itu mencatat empat kemenangan beruntun sebelum semifinal dengan agregat 8-2 dalam perolehan game. Mereka bahkan hanya dua kali kehilangan satu game lawan dalam perjalanan menuju empat besar. Konsistensi itulah yang membuat banyak pengamat menilai perunggu mereka pantas, bukan sekadar keberuntungan undian.
Jalan Berliku Menuju Semifinal
Perjalanan Amri/Nita dimulai dari babak 32 besar. Di laga pembuka, mereka menang telak 21-14, 21-16 hanya dalam 38 menit. Ganda campuran asal Denmark yang menjadi lawan tak pernah bisa keluar dari tekanan penguasaan tempo permainan ala Amri/Nita. Dropshot tajam Nita yang berulang kali memaksa lawan mendorong bola ke belakang menjadi menu utama serangan mereka.
Babak 16 besar menjadi ujian sesungguhnya. Menghadapi unggulan kedelapan asal Jepang, Amri/Nita sempat terjebak dalam reli panjang. Skor akhir 21-19, 20-22, 21-17 memaksa mereka bertarung hingga 81 menit. Pada menit ke-60 pertandingan, Amri sempat kehilangan fokus dan membuat tiga unforced error beruntun, namun Nita yang bermain apik di area net berhasil menstabilkan ritme. Di game penentu, pasangan Indonesia mengoleksi lima pukulan smash mematikan di atas 380 km/jam yang menjadi pembeda.
Perempat final berjalan lebih mulus. Lawan dari China ditundukkan 21-13, 21-18 dalam 44 menit. Statistik mencatat Amri/Nita unggul 61 persen poin dari penguasaan lapangan dan menghasilkan 27 pukulan efektif berbanding 19 milik lawan. Di babak inilah pasangan Indonesia mulai diperhitungkan sebagai kuda hitam.
Analisis: Ketajaman Amri di Belakang, Ketenangan Nita di Depan
Kunci permainan Amri/Nita terletak pada pembagian peran yang tegas. Amri beroperasi dominan di area belakang dengan formasi depan-belakang khas ganda campuran, melepaskan serangan dari posisi baseline sementara Nita menjaga sektor net. Pola ini membuat lawan kesulitan memecah pertahanan: setiap bola pendek langsung disambar Nita dengan drive silang, sementara bola panjang dihabisi Amri lewat smash lintas lapangan.
Di babak semifinal, formula itu sempat berjalan mulus di game pertama. Amri/Nita menang 21-18 dengan catatan 74 persen keberhasilan pukulan pertama. Namun di game kedua, pengembalian servis lawan yang semakin dalam membuat Amri kehilangan posisi ideal. Ia tiga kali terpaksa memukul dari posisi di bawah bola, menghasilkan 12 kesalahan sendiri di sepanjang pertandingan — angka tertinggi mereka di turnamen ini.
Nita layak dapat sorotan. Di lima pertandingan, ia mencatat rata-rata 14 kemenangan poin langsung dari netting per laga, termasuk enam kali di semifinal. Keberaniannya merebut bola di titik tercepat reli menjadi senjata yang membuat lawan enggan bermain pendek. Jika ada ruang perbaikan, itu ada pada pengambilan keputusan di saat interval: pada tiga momen interval krusial, Amri/Nita hanya memenangi satu.
Perunggu Bukan Garis Akhir
Pelatih ganda campuran Indonesia tak menutupi rasa bangganya.
"Perunggu di kejuaraan dunia bukan pencapaian kecil, tapi kami tidak akan berhenti di sini. Saya sudah melihat perkembangan mereka dari turnamen ke turnamen. Level semifinal sudah mereka tembus, sekarang tinggal bagaimana menembus partai final,"ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Amri sendiri mengaku hasil ini memicu motivasi baru. "Kami datang ke sini untuk belajar, tapi ternyata bisa melangkah lebih jauh. Kekalahan di semifinal justru memberi kami gambaran jelas tentang apa yang harus diperbaiki: konsistensi servis dan ketenangan saat tertinggal," kata Amri. Nita menimpali, perunggu ini akan dijadikan fondasi menuju turnamen berikutnya di sirkuit BWF World Tour, termasuk upaya merebut gelar pertama mereka di level Super 1000.
Dengan usia keduanya yang masih berada di bawah 24 tahun, waktu masih berpihak. Indonesia terakhir kali meraih emas ganda campuran di kejuaraan dunia pada 2019, dan publik kini berharap Amri/Nita menjadi generasi penerus yang memutus puasa itu. Tekanan memang datang, tapi bagi pasangan yang baru saja mencicipi podium dunia ini, tekanan justru dianggap bahan bakar. Skor akhir 21-18, 19-21, 16-21 memang pahit, tetapi babak baru karier mereka baru saja dimulai.
Comments (0)