Dukungan ke Infantino Kian Rontok Jelang Pemilu Presiden FIFA
Peluit panjang kontestasi kursi presiden FIFA belum berbunyi, tetapi babak terakhir pertarungan ini sudah memasuki menit-menit genting. Gianni Infantino, petahana yang selama ini nyaris tak tergoyahka...
Peluit panjang kontestasi kursi presiden FIFA belum berbunyi, tetapi babak terakhir pertarungan ini sudah memasuki menit-menit genting. Gianni Infantino, petahana yang selama ini nyaris tak tergoyahkan, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit: dukungan di ruang voting mulai rontok satu per satu. Pemicunya bukan taktik lawan di atas kertas, melainkan kasus penjualan saham penyelenggaraan Piala Dunia yang kembali menyeret namanya ke tengah pusaran. Jika pemilu presiden FIFA dianalogikan sebagai laga final, maka penguasaan bola yang selama ini dipegang Infantino kini sedang direbut, dan shots on target dari kubu oposisi mulai mengancam gawang sang petahana.
Kronologi Kasus: Saham Piala Dunia Menjadi Kartu Kuning Politik
Kasus yang mengguncang posisi Infantino berawal dari transaksi saham yang berkaitan dengan hak penyelenggaraan dan komersialisasi Piala Dunia. Alih-alih transparan seperti yang dijanjikan dalam agenda reformasi pasca-skandal 2015, prosesnya dinilai berjalan tertutup dan minim pengawasan. Sejumlah federasi yang sebelumnya loyal mengaku “terkejut” dan meminta mekanisme VAR—dalam hal ini audit serta pemeriksaan ulang dokumen—untuk meninjau kembali seluruh berkas terkait. Konsekuensinya di lapangan politik sangat nyata: barisan dukungan yang tadinya berbaris rapi seperti starting XI terkuat mulai goyah.
Yang paling menyakitkan bagi kubu petahana, sinyal keretakan justru datang dari beberapa federasi yang selama ini menjadi basis paling setia. Mereka tidak serta-merta menyatakan perang terbuka, tetapi gerak-gerik di koridor kongres sudah terbaca: pertemuan-pertemuan tertutup, pernyataan yang berhati-hati, dan yang paling kentara—keengganan untuk memberikan dukungan terbuka. Dalam logika sepak bola, ini adalah kartu kuning yang nyaris berubah menjadi kartu merah: satu pelanggaran lagi, dan dukungan itu bisa hilang permanen dari peta kekuatan Infantino.
Analisis Peta Suara: Blok Mana yang Bisa Berpaling?
Untuk memahami seberapa dalam kerusakan yang ditimbulkan, kita perlu membaca peta suara dengan teliti. FIFA memiliki 211 asosiasi anggota, dan untuk memenangkan kursi presiden, seorang kandidat membutuhkan mayoritas sederhana—sekitar 106 suara. Artinya, setiap blok konfederasi bernilai strategis: UEFA dengan 55 anggota, CAF dengan 54 anggota, AFC dengan 47 anggota, CONCACAF dengan 41 anggota, plus CONMEBOL dan OFC sebagai pelengkap.
Dalam dua periode kepresidenan sebelumnya, Infantino dikenal piawai merawat lini belakang dukungannya. Namun kali ini, analisis internal kalangan federasi menyebut kubu oposisi sedang memainkan skema serangan balik cepat: menahan bola di area netral, mengincar blok yang paling rentan, lalu melepaskan tembakan tepat sasaran. Jika blok Afrika dan Asia—yang selama ini menjadi andalan utama—mulai terbelah, maka clean sheet politik yang ia jaga selama ini hampir mustahil dipertahankan hingga peluit akhir.
Data dukungan memang belum resmi dipublikasikan, tetapi indikasi di lapangan cukup gamblang. Beberapa federasi anggota dilaporkan sedang menimbang ulang sikap mereka, sementara sebagian lainnya memilih bersikap netral sampai hasil audit kasus saham Piala Dunia keluar. Dalam istilah taktik, ini seperti tim yang mengubah formasi dari menyerang total menjadi bertahan rapat—menunggu siapa yang lebih dulu melakukan kesalahan di momen paling menentukan.
Respons Petahana dan Sinyal dari Ruang Ganti
Menghadapi tekanan yang meningkat, tim kampanye Infantino bukannya tanpa respons. Dalam beberapa kesempatan, petahana menekankan bahwa program-program pengembangan sepak bola global—dari pendanaan infrastruktur hingga ekspansi jumlah peserta Piala Dunia—tetap berjalan dan membawa hasil nyata. “Kami terus melaju, dan hasil kerja kami berbicara sendiri,” demikian kurang lebih pesan yang disampaikan ke federasi-federasi anggota. Namun, di mata para pengamat, pernyataan semacam itu hanyalah assist yang indah—tidak akan berarti apa-apa jika tidak diikuti gol.
Kubu oposisi, di sisi lain, memanfaatkan momen ini untuk menyerang balik. Mereka menuntut transparansi penuh atas kasus saham, termasuk publikasi dokumen dan mekanisme pengawasan yang lebih ketat. Di ruang publik, narasi “tata kelola bersih” yang selama ini menjadi jangkar legitimasi Infantino mulai diuji habis-habisan. Setiap hari berlalu tanpa kejelasan, seperti bola yang terus menggelinding di depan gawang—semakin lama dibiarkan, semakin besar peluang lawan untuk menyambar dan mencetak gol krusial.
Yang menjadi pertanyaan besar kini adalah timing. Kongres pemilihan tinggal menghitung hari, dan dalam politik sepak bola, momentum adalah segalanya. Jika kasus ini berlarut tanpa penyelesaian yang meyakinkan, bukan tidak mungkin dukungan yang rontok akan berubah menjadi longsoran—sebuah kekalahan telak yang bahkan tidak bisa diselamatkan oleh gol-gol hiburan di menit akhir. Sebaliknya, jika petahana mampu membuktikan dirinya masih on side dalam aturan main FIFA, peluang untuk bangkit masih terbuka lebar.
Kesimpulan: Pertandingan Belum Usai, tetapi Skor Sedang Bergerak
Skor akhir memang belum tercatat, tetapi arah permainan sudah bisa dibaca: momentum sedang berpindah tangan. Kasus penjualan saham Piala Dunia telah mengubah peta dukungan, dan setiap federasi kini seperti pemain yang menunggu instruksi dari ruang ganti masing-masing. Bagi Infantino, ini adalah ujian terbesar sejak ia duduk di kursi kepresidenan—ujian yang tidak bisa dimenangkan hanya dengan penguasaan bola yang tinggi, melainkan dengan membuktikan bahwa ia masih layak mengenakan ban kapten. Jika ia menang, itu akan menjadi semacam hat-trick kekuasaan yang langka; jika kalah, seluruh narasi kejayaannya berakhir dalam satu malam.
Di sisi lain, para penantang harus mampu memanfaatkan peluang tanpa terburu-buru membuang tembakan. Dalam pertarungan sekelas pemilihan presiden FIFA, satu assist yang salah arah bisa berujung offside—dan offside di momen sekrusial ini sama artinya dengan membuang keunggulan yang sudah ada di depan mata. Kongres akan menjadi panggung finalnya, dan seluruh dunia sepak bola akan menonton: apakah Infantino mampu bertahan hingga peluit panjang, atau justru dukungannya yang kian rontok itu menjadi epitaf politiknya.
Comments (0)