Dukungan Infantino Kian Rontok Jelang Pemilu Presiden FIFA

Menjelang Kongres FIFA yang akan menjadi panggung pemilihan presiden berikutnya, posisi Gianni Infantino di kursi tertinggi federasi sepak bola dunia mulai goyah. Dukungan terhadap petahana dilaporkan...

Dukungan Infantino Kian Rontok Jelang Pemilu Presiden FIFA

Menjelang Kongres FIFA yang akan menjadi panggung pemilihan presiden berikutnya, posisi Gianni Infantino di kursi tertinggi federasi sepak bola dunia mulai goyah. Dukungan terhadap petahana dilaporkan terus merosot setelah kasus penjualan saham aset komersial Piala Dunia mencuat ke permukaan dan memicu rentetan pertanyaan dari sejumlah federasi anggota. Jika dibaca dari peta politik sepak bola global, ini adalah skor terburuk Infantino sejak ia pertama kali memenangkan kursi presiden pada 2016. Dari total 211 federasi anggota FIFA, sedikitnya tiga konfederasi disebut mulai menjaga jarak dengan kubu petahana — sebuah sinyal yang nyaris tak pernah terlihat dalam dua periode kepemimpinan sebelumnya.

Kasus Penjualan Saham Piala Dunia Menjadi Titik Balik

Pemicu utama erosi dukungan ini adalah keputusan FIFA menjual sebagian saham atas hak komersial Piala Dunia kepada mitra investasi eksternal. Transaksi yang digambarkan sebagai langkah monetisasi aset itu justru memunculkan banyak tanda tanya di internal federasi. Beberapa federasi anggota mempertanyakan transparansi valuasi, mekanisme pengawasan, dan alur persetujuan, sementara sebagian lainnya menilai keputusan strategis sebesar itu seharusnya melewati konsultasi yang jauh lebih luas sebelum dieksekusi. Yang membuat situasi kian panas, kasus ini merebak di waktu yang paling tidak menguntungkan bagi Infantino: fase pemanasan menuju pemilihan presiden. Alih-alih berkampanye dengan agenda prestasi, ia justru harus menghabiskan energi untuk merespons pertanyaan demi pertanyaan dari federasi yang merasa ditinggalkan dalam proses pengambilan keputusan.

Dampaknya langsung terasa di meja perundingan. Sejumlah federasi yang sebelumnya bungkam kini mulai berani bersuara terbuka, dan sebagian lainnya dikabarkan menunggu arah angin sebelum menentukan sikap. Ini adalah dinamika yang tidak biasa bagi Infantino, yang selama dua periode menjabat hampir selalu berhasil membangun konsensus di belakang layar. Jika tren ini berlanjut, pertarungan menuju Kongres bisa menjadi kontestasi paling sengit sejak era kepemimpinan Sepp Blatter berakhir.

Peta Dukungan di Enam Konfederasi

Untuk memenangkan pemilihan presiden FIFA, seorang kandidat hanya butuh mayoritas sederhana dari suara sah yang dikeluarkan dalam Kongres. Namun secara politik, dukungan jarang datang dari hitungan individual — ia datang dari blok konfederasi. Dalam peta kekuatan enam konfederasi, erosi dukungan terhadap Infantino disebut paling terasa di kawasan yang selama ini menjadi basis suara terbesarnya. Sementara beberapa konfederasi lain memilih sikap menunggu, dua atau tiga blok dikabarkan mulai membuka pintu bagi kandidat alternatif. Jumlah suara yang berpotensi berpindah tangan diperkirakan cukup untuk mengubah hasil akhir, meski angka pastinya masih menjadi bahan perhitungan rahasia di ruang-ruang tertutup.

Yang menarik, para pengamat menilai kasus penjualan saham Piala Dunia menjadi semacam uji loyalitas. Federasi yang selama ini menikmati program pendanaan FIFA — yang totalnya mencapai miliaran dolar AS per siklus — kini berada di posisi sulit: mempertahankan hubungan baik dengan petahana atau ikut serta dalam gelombang tuntutan akuntabilitas. Keseimbangan suara bisa berubah dalam hitungan minggu, tergantung bagaimana Infantino merespons tuntutan transparansi dan apakah ia mampu mengembalikan kepercayaan blok-blok yang mulai ragu.

Taruhan Besar di Balik Agenda Piala Dunia

Runtuhnya dukungan politik di waktu krusial ini membawa risiko besar terhadap agenda kompetisi yang sedang berjalan. Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi perdana dengan format 48 tim yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, disusul Piala Dunia 2030 yang unik karena tersebar di tiga benua — Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai tuan rumah utama, ditambah tiga laga centenary di Argentina, Uruguay, dan Paraguay. Belum lagi Piala Dunia 2034 yang sudah diarahkan ke Arab Saudi. Jika kursi presiden diperebutkan dengan sengit, jadwal, penjadwalan pertandingan, hingga distribusi pendapatan komersial yang dijadwalkan mencapai proyeksi miliaran dolar bisa menjadi alat tawar-menawar politik.

Kekhawatiran terbesar federasi anggota bukan pada kompetisinya, melainkan pada tata kelola. Kasus penjualan saham ini menyeret kembali isu transparansi yang sempat meredup setelah reformasi besar pasca-2015. Bagi banyak federasi, kepercayaan adalah aset paling berharga, dan setiap keputusan yang dianggap mengabaikan suara mereka adalah pengurangan dukungan yang nyata. Semakin dekat hari pemilihan, semakin sulit bagi petahana untuk memulihkan reputasi yang sudah terlanjur tercoreng.

Skenario Menuju Kongres Pemilihan

Dengan waktu yang terus berjalan menuju Kongres, skenario yang paling mungkin adalah Infantino harus berhadapan dengan penantang resmi untuk pertama kalinya sejak 2016. Sejumlah nama mulai disebut-sebut di ruang diplomasi sepak bola, meski belum ada yang secara resmi mendeklarasikan diri. Bila satu kandidat kuat dari kawasan yang merasa terabaikan muncul, peta suara bisa berubah drastis. Seorang sumber internal menggambarkan situasi ini sebagai “pertandingan yang memasuki babak tambahan — siapa pun yang menguasai penguasaan bola di lini tengah politik akan menentukan skor akhir.”

Infantino bukan tipe yang menyerah tanpa perlawanan. Rekam jejaknya menunjukkan ia mampu membalikkan tekanan menjadi peluang, dan jumlah federasi yang masih setia kepadanya tetap lebih besar daripada yang berbalik arah. Namun dalam politik sepak bola, suara yang diam bisa menjadi penentu. Jika kasus penjualan saham Piala Dunia tidak ditangani dengan cepat dan transparan, gelombang ketidakpercayaan ini bisa menjadi awal dari babak baru kekuasaan di FIFA — yang pertama kalinya dalam satu dekade terakhir kursi presiden benar-benar dipertaruhkan. Semua mata kini tertuju pada Kongres, di mana pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User