Duel Taktik Unai Emery dan PSG Mewarnai UEFA Super Cup
Skor akhir 1-2 untuk kemenangan Aston Villa atas Paris Saint-Germain (PSG) pada UEFA Super Cup 2026 di Red Bull Arena, Salzburg, Austria, Kamis (13/8/2026). PSG yang datang sebagai juara Liga Champion...
Skor akhir 1-2 untuk kemenangan Aston Villa atas Paris Saint-Germain (PSG) pada UEFA Super Cup 2026 di Red Bull Arena, Salzburg, Austria, Kamis (13/8/2026). PSG yang datang sebagai juara Liga Champions justru harus mengakui keunggulan The Villans, juara Europa League, lewat dua gol balasan di babak kedua. Kedua tim menurunkan starting XI terbaiknya, dan kemenangan ini mempertegas reputasi Unai Emery sebagai spesialis kompetisi Eropa.
Sejak kick-off, tensi langsung terasa. PSG turun dengan formasi 4-3-3 yang menekan, sementara Aston Villa memilih formasi 4-2-3-1 yang lebih pragmatis. Emery, yang pernah melatih PSG pada 2016-2018, terlihat intens memberi instruksi dari pinggir lapangan sepanjang laga, sesekali berteriak mengoreksi posisi gelandangnya.
Babak Pertama: Dominasi PSG yang Belum Berbuah Banyak
Menit ke-23, PSG membuka keunggulan lewat aksi individual Ousmane Dembélé. Menerima umpan terobosan Vitinha di sisi kanan, Dembélé memotong ke dalam dan melepaskan tembakan kaki kiri yang tak mampu dijangkau Emiliano Martínez. Gol itu lahir setelah PSG mencatatkan 68 persen penguasaan bola pada 20 menit pertama, membuat lini belakang Villa bertahan dengan blok rendah.
Usai gol, PSG terus menggempur. Menit ke-31, tendangan jarak jauh João Neves masih melambung tipis di atas mistar. Dua peluang emas lainnya datang dari Bradley Barcola, namun dua kali pula digagalkan Martínez. Hingga turun minum, PSG unggul penguasaan bola 61 berbanding 39 persen dan melepaskan 7 tembakan, tetapi hanya 2 yang mengarah ke gawang.
Aston Villa nyaris tanpa peluang bersih di babak pertama. Satu-satunya ancaman lahir dari sundulan Ollie Watkins pada menit ke-41 yang mudah ditangkap Gianluigi Donnarumma. PSG menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0, sementara Villa hanya mencatatkan satu shots on target.
Babak Kedua: Kebangkitan Villa dan Putusan VAR
Emery melakukan perubahan taktis di jeda istirahat. John McGinn ditarik lebih melebar dan tim mulai berani menekan lebih tinggi. Hasilnya langsung terlihat. Menit ke-58, umpan silang Morgan Rogers disambut sundulan keras Watkins yang tak bisa dihalau Donnarumma. Skor berubah 1-1, dan gol itu tercatat sebagai assist keenam Rogers di kompetisi Eropa musim ini.
Kebangkitan Villa kian lengkap pada menit ke-81. Wasit menghentikan permainan setelah insiden di kotak penalti PSG, lalu meninjau tayangan ulang melalui VAR. Keputusannya: penalti untuk Villa karena Marquinhos melanggar Leon Bailey. Youri Tielemans yang maju sebagai eksekutor menuntaskan tugas dengan tenang ke sudut kiri gawang, mengubah skor menjadi 2-1.
PSG berusaha bangkit di sisa waktu. Menit ke-86, gol Dembélé — yang musim lalu membukukan hat-trick di semifinal Liga Champions — dianulir karena offside setelah peninjauan VAR. Menit ke-90+3, tendangan bebas Vitinha menghantam tiang. Empat menit injury time berjalan dramatis, tetapi pertahanan Villa yang dipimpin Pau Torres bertahan hingga peluit akhir.
Faktor Emery: Taktik yang Membungkam Favorit
Kemenangan ini menegaskan kejeniusan Emery dalam laga satu babak. Ia kini mengoleksi lima trofi Eropa sepanjang karier, termasuk empat gelar Europa League bersama Sevilla dan Villarreal. Yang menarik, dua trofi terakhirnya justru diraih dengan mengalahkan tim-tim favorit di laga final.
"Kami tahu PSG adalah tim terbaik Eropa musim lalu, tetapi di laga final semua dihitung dari 90 menit. Para pemain menjalankan rencana dengan disiplin luar biasa," ujar Emery usai pertandingan.
Data akhir memperlihatkan PSG unggul penguasaan bola 58 berbanding 42 persen dan melepaskan 16 tembakan, tetapi hanya 4 yang mengarah ke gawang. Villa justru lebih efisien: 9 tembakan, 5 shots on target. Martínez gagal mencatatkan clean sheet setelah kebobolan di menit ke-23, tetapi melakukan lima penyelamatan penting. Wasit mengeluarkan tiga kartu kuning, dua untuk PSG dan satu untuk Villa, tanpa kartu merah sepanjang laga.
Dengan trofi ini, Aston Villa menyamai jejak klub-klub Inggris lain yang pernah menjuarai Super Cup. Bagi Emery, ini menjadi pembuktian lain bahwa ia tetap salah satu pelatih terbaik Eropa dalam format kompetisi knock-out, dan Salzburg akan dikenang sebagai panggung kembalinya sang spesialis ke puncak Eropa.
Comments (0)