Keributan Otamendi dan Molina Warnai Kemenangan Argentina di Final Piala Dunia
Skor akhir 2-1 untuk Argentina, tapi malam final Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026), tidak berakhir di papan skor. Begitu peluit panjang berbunyi, euforia juara dunia ...
Skor akhir 2-1 untuk Argentina, tapi malam final Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026), tidak berakhir di papan skor. Begitu peluit panjang berbunyi, euforia juara dunia itu berubah menjadi ketegangan: Nicolas Otamendi (nomor 19) dan Nahuel Molina (nomor 26) terlibat keributan dengan gelandang Spanyol Rodri di tengah lapangan, tepat di depan tribun yang dipadati puluhan ribu penonton di stadion dekat New York itu.
Duel kedua tim berjalan sengit sejak menit pertama. Argentina turun dengan formasi 4-3-3, sementara Spanyol menjawab lewat 4-4-2 yang lincah. Penguasaan bola memang milik La Roja — 52 persen berbanding 48 persen — tetapi Argentina tampil lebih mematikan: 7 shots on target dari 14 tembakan, sedangkan Spanyol hanya 5 shots on target dari 12 percobaan. Angka itu menegaskan bahwa laga ini bukan soal dominasi, melainkan soal efisiensi di kotak penalti.
Babak Pertama: Jual-Beli Serangan yang Ketat
Dua starting XI terkuat saling jegal sejak kick-off. Menit ke-23, Rodri melepaskan tendangan dari luar kotak penalti yang nyaris membuka skor, namun kiper Argentina bereaksi cepat menepis bola ke sudut. Tiga menit berselang, giliran Argentina mengancam lewat serangan balik cepat Molina di sisi kanan. Sepak pojok demi sepak pojok bergantian, dan wasit harus mengeluarkan kartu kuning pertama untuk gelandang Spanyol pada menit ke-31 akibat tekel keras di tengah lapangan.
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-34. Umpan terobosan membelah lini belakang Spanyol dan Lautaro Martínez menyambutnya dengan penyelesaian first-time ke pojok bawah gawang. 1-0 Argentina, gol yang lahir dari kerja sama apik di lini tengah. Spanyol mencoba merespons, tetapi lini pertahanan Argentina yang dikomandoi Otamendi tampil disiplin. Beberapa kali offside Spanyol menggagalkan peluang, dan sampai turun minum, skor bertahan 1-0.
Babak Kedua: VAR, Gol Balasan, dan Pemenang
Spanyol keluar dengan tempo lebih tinggi di babak kedua. Hasilnya datang di menit ke-58: Lamine Yamal menyamakan kedudukan dengan tembakan terukur ke tiang jauh setelah menerima assist dari sisi kiri. 1-1, stadion bergemuruh. Namun euforia Spanyol hanya bertahan lima menit. Menit ke-63, gol kedua Spanyol dianulir VAR karena offside dalam proses umpan terakhir — keputusan yang memicu protes panjang pemain Spanyol di pinggir lapangan.
Momen genting itu justru dimanfaatkan Argentina. Menit ke-71, Molina naik membantu serangan dari posisi bek kanan, melepaskan assist matang ke kotak penalti, dan Julián Álvarez menuntaskannya dengan sundulan ke sudut gawang. 2-1 Argentina. Sisa laga menjadi ujian ketahanan fisik: Spanyol menggempur dengan penguasaan bola tinggi, tetapi Otamendi berulang kali memenangi duel udara dan memblok tembakan. Tidak ada clean sheet malam itu, dan tidak ada ruang untuk lengah satu detik pun.
Keributan Pasca-Final: Emosi yang Meluap
Situasi memanas justru setelah laga usai. Dalam dokumentasi foto di lapangan, Otamendi dan Molina tampak berhadapan langsung dengan Rodri, dengan gestur saling tunjuk dan tatapan tajam. Keributan itu sempat membuat ofisial kedua tim ikut turun ke lapangan, dan petugas keamanan harus memisahkan ketiganya. Wasit tidak bisa mengeluarkan kartu merah karena insiden terjadi setelah pertandingan resmi berakhir. Belum ada pernyataan resmi soal sanksi disiplin, tetapi insiden seperti ini biasanya berujung pada penyelidikan FIFA — apalagi melibatkan final Piala Dunia yang disaksikan seluruh dunia.
“Final Piala Dunia selalu menyisakan emosi. Di lapangan, kami bertarung habis-habisan untuk kemenangan. Soal insiden setelah laga, itu urusan yang akan kami bicarakan secara internal,” ujar pelatih Argentina usai pertandingan.
Analisis Statistik: Kunci Kemenangan Argentina
Jika ditelisik dari data, kemenangan Argentina bukan kebetulan. Mereka hanya butuh 14 tembakan untuk mencetak dua gol, jauh lebih efisien dibanding Spanyol yang harus melepaskan 12 tembakan untuk satu gol. Tidak ada hat-trick malam itu, tetapi kerja sama sayap Molina-Álvarez terbukti menjadi pembeda terbesar. Duet lini tengah Argentina memenangi lebih banyak duel, dan starting XI yang dirotasi di babak kedua memberi energi baru tepat saat Spanyol mulai kelelahan. Sementara itu, Rodri yang menjadi otak permainan Spanyol tetap tampil impresif dengan akurasi umpan di atas 90 persen, tetapi malam itu ia gagal membawa timnya merebut gelar.
Satu hal yang pasti: laga ini akan dikenang bukan hanya karena gol dan drama VAR, tetapi juga karena tensi yang bertahan bahkan setelah peluit panjang berbunyi. Keributan Otamendi, Molina, dan Rodri menjadi babak penutup yang tak akan dilupakan siapa pun yang hadir di East Rutherford malam itu.
Comments (0)