Drama Adu Penalti, Singapura Tersingkir dari Semifinal Piala AFF 2026

Thailand menang adu penalti 4-3 atas Singapura setelah skor akhir 2-2 secara agregat dalam leg kedua semifinal Piala AFF 2026 di Stadion Nasional Singapura, Rabu malam. Satu eksekusi penalti yang memb...

Drama Adu Penalti, Singapura Tersingkir dari Semifinal Piala AFF 2026

Thailand menang adu penalti 4-3 atas Singapura setelah skor akhir 2-2 secara agregat dalam leg kedua semifinal Piala AFF 2026 di Stadion Nasional Singapura, Rabu malam. Satu eksekusi penalti yang membentur mistar gawang menjadi petaka terbesar tuan rumah, sekaligus tiket final bagi tim tamu di hadapan lebih dari 50 ribu pendukung tuan rumah.

Babak Pertama: Efisiensi Singapura Melawan Dominasi Thailand

Singapura tampil dengan formasi 4-3-3 dan menekan sejak menit awal, sementara Thailand memilih 4-2-3-1 dengan dua gelandang jangkar. Menariknya, starting XI tuan rumah justru paling nyaman saat kehilangan bola: penguasaan bola Singapura hanya 42 persen, tetapi setiap serangan balik mereka terasa tajam. Tiga gelandang bertipe pekerja keras juga diturunkan di lini tengah untuk memutus alur umpan pendek Thailand.

Menit ke-18, Adam Syafiq melepaskan tendangan first-time ke sudut kiri gawang Thailand setelah menerima assist terobosan Zulfahmi dari sisi kanan. Stadion bergemuruh, Singapura unggul 1-0 pada laga ini dan 2-1 secara agregat. Thailand merespons dengan kesabaran khas mereka: menit ke-33, Sornchai menuntaskan umpan silang datar Kittipat dari sayap kiri dengan sundulan keras ke tiang jauh. Skor 1-1, agregat kembali imbang 2-2.

Babak pertama ditutup dengan shots on target 3-2 untuk Singapura. Thailand unggul jauh dalam penguasaan bola, tetapi efektivitas penyelesaian akhir justru milik tuan rumah yang lebih banyak menunggu momen transisi.

Babak Kedua: Tekanan Thailand dan Gol Dramatis yang Lolos Pemeriksaan VAR

Memasuki babak kedua, pelatih Thailand menaikkan garis pertahanan dan menambah satu penyerang murni. Keputusan itu membuahkan hasil di menit ke-67 ketika Peerapat mencetak gol dari jarak dekat memanfaatkan bola muntah di kotak penalti. Gol itu lahir setelah tiga umpan cepat dari lini kedua, pola yang sama yang mereka gunakan sepanjang turnamen. Thailand berbalik unggul 2-1 pada malam itu dan 3-2 secara agregat.

Singapura menjawab dengan memasukkan dua pemain sayap murni untuk melebarkan serangan. Menit ke-84, sundulan Fadhli menggetarkan jala gawang Thailand dan stadion nyaris meledak, sebelum VAR memeriksa dugaan offside dalam proses gol tersebut. Setelah peninjauan berlangsung hampir tiga menit, gol dinyatakan sah. Skor 2-2, agregat 2-2, dan pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan.

Dua puluh menit extra time berjalan sengit dengan intensitas tinggi. Kartu kuning mulai bertebaran: total lima kartu kuning (tiga untuk Thailand, dua untuk Singapura) sepanjang 120 menit. Kedua pelatih hanya menyisakan satu pergantian masing-masing menjelang akhir, dan kelelahan mulai terlihat dari gerakan para gelandang. Tidak ada clean sheet dalam laga ini, tetapi kedua penjaga gawang melakukan penyelamatan krusial yang membuat skor tetap 2-2 hingga peluit panjang.

Adu Penalti: Satu Tembakan ke Mistar Menentukan Segalanya

Drama puncak terjadi dari titik putih. Ronde pertama hingga ketiga berjalan sempurna: Thailand dan Singapura sama-sama mencetak tiga gol, termasuk satu eksekusi gaya Panenka dari penendang ketiga Thailand yang membuat kiper tuan rumah tertipu. Ronde keempat menjadi pembeda — penendang Thailand menuntaskan eksekusi ke sisi kanan dengan tenang, lalu giliran penendang keempat Singapura: tendangan mengarah ke tengah gawang, namun bola membentur mistar dan memantul keluar. Skor adu penalti 4-3 untuk Thailand, dan pertandingan pun berakhir.

Beberapa pemain Singapura terlihat menutup wajah di tengah lapangan. Hanya satu tembakan dari jarak 11 meter yang memisahkan mereka dari final turnamen.

“Kami sudah memberikan segalanya. Sepak bola kadang kejam, tetapi anak-anak layak bangga dengan perjuangan mereka,” ujar pelatih Singapura dalam konferensi pers seusai laga.
“Kunci kami adalah ketenangan dalam tekanan. Kami percaya penuh pada kiper kami, dan para eksekutor menjalankan tugasnya dengan dingin,” kata pelatih Thailand.

Analisis: Efisiensi versus Dominasi

Data akhir laga menunjukkan duel yang kontras. Penguasaan bola Thailand 57 persen berbanding 43 persen, dengan 15 percobaan tembakan melawan 9 milik Singapura. Namun dalam shots on target, keduanya nyaris seimbang: 6-4 untuk keunggulan tipis Thailand. Tendangan pojok tercatat 8-4, sementara offside justru lebih banyak diderita Singapura dengan tiga kali terjebak garis pertahanan lawan.

Kiper Thailand tampil sebagai pahlawan dengan menepis satu penalti, ditambah tiga penyelamatan gemilang selama 120 menit. Efisiensi Singapura nyaris membawa mereka ke final, tetapi momen terbesar justru gagal dimanfaatkan di titik putih ketika tekanan berada di puncaknya.

Dengan hasil ini, Thailand melaju ke final Piala AFF 2026. Bagi Singapura, perjalanan yang luar biasa harus berakhir dengan cara paling pahit — di hadapan publik sendiri, oleh tendangan yang gagal melewati garis gawang dari jarak 11 meter.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User