Skor akhir tidak menjadi satu-satunya cerita di Etihad Stadium. Gianluigi Donnarumma, penjaga gawang Manchester City, terlihat meninggalkan lapangan begitu wasit meniup peluit panjang pertandingan pekan ke-35 Premier League melawan Everton, Selasa (05/05/2026) dini hari WIB. Momen itu langsung mencuri perhatian, terutama karena laga tersebut berlangsung ketat dan penuh tekanan di fase akhir musim.
Pertandingan sendiri berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. City, yang tampil dengan formasi 4-2-3-1, memegang kendali permainan lewat penguasaan bola mencapai 64 persen sepanjang 90 menit. Everton memilih bertahan rapat dengan blok rendah dan sesekali mengandalkan serangan balik cepat. Namun, yang menjadi sorotan bukan hanya taktik kedua tim, melainkan bagaimana Donnarumma menjalani laga ini hingga akhir.
Jalannya Pertandingan: Tekanan Tinggi Sejak Menit Awal
Menit ke-12, City mendapat peluang pertama melalui tendangan dari luar kotak penalti. Bola mengarah ke sudut kanan gawang, tetapi kiper Everton masih mampu mengamankan. Everton merespons dengan skema serangan balik yang mengincar sisi kiri pertahanan City. Menit ke-23, sebuah umpan terobosan menusuk ke kotak penalti, dan Donnarumma harus keluar dari sarangnya untuk menutup ruang tembak. Aksi itu berhasil, meski ia sempat terjatuh dan bangkit dengan hati-hati.
Sepanjang babak pertama, City mencatatkan 7 shots on target dari total 11 percobaan. Everton hanya melepaskan 3 tembakan, dua di antaranya tepat sasaran. Donnarumma mencatatkan 3 penyelamatan penting, termasuk satu refleks cepat di menit ke-41 yang membuat bola membentur mistar. Kartu kuning pertama di laga ini keluar di menit ke-38 untuk gelandang Everton akibat pelanggaran taktis menghentikan serangan balik.
Peran Donnarumma dan Dinamika di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, tempo tidak menurun. City meningkatkan tekanan lewat overlapping bek sayap kanan. Menit ke-52, sebuah sepak pojok menghasilkan kemelut di depan gawang Everton, tetapi bola akhirnya dibuang ke luar kotak penalti. Everton mulai berani keluar dari tekanan dan menciptakan dua peluang beruntun pada menit ke-58 dan ke-61. Donnarumma kembali menjadi tembok terakhir, menepis bola hasil tembakan mendatar ke arah tiang dekat.
Statistik mencatat penguasaan bola City tetap dominan, tetapi efektivitas serangan Everton justru efisien. Dari 6 tembakan, 4 mengarah ke gawang. Di sinilah peran Donnarumma terasa krusial. Ia beberapa kali melakukan distribusi cepat untuk memulai serangan balik, dengan akurasi umpan mencapai 88 persen. Namun, menjelang menit ke-75, ia terlihat memberi isyarat ke bangku cadangan, meminta perhatian medis. Pertandingan sempat terhenti sebentar sebelum ia melanjutkan hingga peluit akhir.
Menit ke-84, City akhirnya memecah kebuntuan melalui sundulan setelah umpan silang terukur dari sisi kanan. Skor berubah menjadi 1-0, dan gol itu bertahan hingga akhir. Everton mencoba menekan di sisa waktu, tetapi pertahanan City bersama Donnarumma mampu menjaga clean sheet. Wasit menambah 5 menit injury time, dan di masa itu tidak ada gol tambahan tercipta.
Reaksi dan Sorotan Pasca Pertandingan
Setelah peluit panjang, kamera menangkap Donnarumma langsung berjalan menuju terowongan tanpa banyak berinteraksi dengan rekan setim. Beberapa pengamat menyebut momen itu wajar setelah laga melelahkan, tetapi sebagian lain menilai ada hal yang perlu dicermati menjelang laga-laga sisa musim. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari klub mengenai kondisi kiper asal Italia tersebut.
"Kami bermain dengan disiplin tinggi. Tiga poin di fase ini sangat berarti, dan para pemain tahu betul artinya," ujar pelatih Manchester City dalam sesi konferensi pers usai laga, tanpa menyebut secara khusus kondisi Donnarumma.
Dari sisi statistik, laga ini menegaskan peran kiper sebagai penentu hasil. City mencatat 18 tembakan dengan 8 tepat sasaran, sementara Everton 6 tembakan dengan 4 on target. Penguasaan bola 64-36 persen, tendangan sudut 9-3, dan pelanggaran 11-14. Satu kartu kuning untuk masing-masing tim, tanpa kartu merah maupun intervensi VAR yang mengubah keputusan besar.
Dengan tambahan tiga poin, posisi City di papan atas semakin kokoh, meski persaingan menuju akhir musim masih ketat. Everton tetap harus berjuang menjauh dari zona bawah. Yang jelas, pertandingan ini akan dikenang bukan hanya karena gol kemenangan, tetapi juga karena momen Donnarumma meninggalkan lapangan yang menyisakan tanda tanya bagi para pendukung.
Pekan ke-35 memang sering menjadi titik krusial. Rotasi pemain, kelelahan, dan tekanan mental menjadi faktor yang tak terhindarkan. Bagi City, menjaga stabilitas di lini belakang sama pentingnya dengan ketajaman lini depan. Dan bagi Donnarumma, laga melawan Everton menjadi pengingat bahwa peran seorang kiper bukan sekadar penjaga gawang, melainkan fondasi dari seluruh struktur pertahanan tim.
Comments (0)