Cinta Laura, Tiara Andini Curi Perhatian di Peragaan Tunggal Anniversary Wilsen Willim
JAKARTA — Suasana glamor dan penuh pesona menyelimuti gelaran peragaan busana tunggal yang digelar desainer kenamaan Wilsen Willim dalam rangka merayakan s
JAKARTA — Suasana glamor dan penuh pesona menyelimuti gelaran peragaan busana tunggal yang digelar desainer kenamaan Wilsen Willim dalam rangka merayakan satu dekade kiprahnya di industri mode Tanah Air. Sederet selebritas papan atas tampil memesona dengan balutan koleksi terbaru sang desainer, mencuri perhatian di tengah riuh tepuk tangan undangan. Cinta Laura Kiehl dan Tiara Andini menjadi dua bintang yang paling menyedot sorotan, hadir dengan penampilan kontras namun sama-sama memukau.
"Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Saya ingin perayaan ini menjadi bentuk syukur sekaligus pernyataan bahwa mode Indonesia terus bertumbuh. Koleksi ini sangat personal, karena saya menuangkan perjalanan emosional saya ke dalam setiap potongan kain," ujar Wilsen Willim saat ditemui di sela acara.
Gelaran bertajuk "Decadance: A Decade of Dreams" itu berlangsung di sebuah ballroom megah di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam. Sejak gerbang masuk, para tamu disambut instalasi seni dari untaian benang perak yang membentuk siluet gaun—sebuah metafora tentang bagaimana mimpi dirangkai helai demi helai. Set piece panggung dibuat menyerupai taman surealis dengan pepohonan kristal, menciptakan latar yang impresif untuk koleksi bertema romantisisme futuristik.
Cinta Laura Kiehl hadir mengenakan gaun malam berpotongan asimetris dari material taffeta sutra berwarna merah delima yang menyala. Bagian bahu dihiasi detail draping dramatis, sementara sisi rok mengembang dengan aksen obi metalik—memadukan kelembutan dan kekuatan. Penampilannya dilengkapi kalung choker bertabur kristal hitam yang semakin menonjolkan aura percaya diri sang aktris. Sementara itu, Tiara Andini memilih palet lebih lembut: gaun berwarna dusty lilac dengan detail bordir tiga dimensi berupa kelopak bunga yang tampak seperti melayang di atas permukaan kain. Siluet pas badan dengan ekor pendek yang mengalir memberinya kesan klasik namun tetap segar.
Tidak hanya dua nama besar tersebut, deretan selebritas lain yang turut menambah kilau acara antara lain Wulan Guritno yang tampil dalam balutan setelan celana putih bersih dengan cape transparan berpayet, serta Tissa Biani yang memancarkan kesan muda dengan rok mini bertumpuk dari organza biru elektrik. Kehadiran mereka membuktikan bahwa koleksi Wilsen Willim mampu mengakomodasi beragam karakter dan generasi.
- Koleksi bertema "Decadance" memadukan siluet klasik dengan detail futuristik.
- Bahan-bahan daur ulang seperti sisa sutra dan katun organik menjadi bagian penting dari misi keberlanjutan rumah mode ini.
- Teknik bordir tangan digunakan pada 80 persen koleksi, menonjolkan keterampilan artisan lokal.
Dalam konferensi pers sebelum acara, Wilsen Willim mengungkapkan bahwa koleksi ini terinspirasi dari perjalanan emosionalnya selama sedekade: fase keraguan, pencarian jati diri, hingga akhirnya meraih keyakinan. Ia menerjemahkan setiap fase ke dalam empat segmen pertunjukan: Awakening (busana serba putih dengan potongan bersih), Chaos (dipenuhi warna-warna berani dan layer kompleks), Reflection (palet lembut dengan detail cermin kecil), dan Euphoria (gaun-gaun pesta penuh volume dan kilau).
"Saya memakai salah satu gaun dari segmen Awakening karena ingin merepresentasikan bahwa karir saya juga sedang dalam fase baru yang penuh harapan. Gaun ini sangat ringan, tapi strukturnya memberi saya kepercayaan diri yang luar biasa," kata Tiara Andini.
Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika Cinta Laura Kiehl berjalan di runway sebagai bagian dari segmen final Euphoria. Langkahnya yang tegas dan busana merah yang berkibar meninggalkan kesan mendalam bagi sekitar 500 tamu yang hadir. Tepuk tangan bergemuruh, menandai pencapaian desainer yang telah mendandani banyak publik figur penting selama satu dekade. Di penghujung acara, Wilsen Willim tampil untuk memberikan penghormatan, didampingi kedua orang tuanya yang terlihat haru.
Selain pertunjukan mode, malam itu juga dimeriahkan dengan sajian musik dari Maliq & D'Essentials yang membawakan beberapa lagu mereka secara akustik, menciptakan suasana intim di tengah kemewahan. Para tamu dijamu dengan canapé khas Nusantara yang diolah secara modern, menggarisbawahi konsep pesta yang tetap membumi.
Sejumlah pengamat mode yang hadir memberikan catatan positif terhadap konsistensi Wilsen Willim dalam merawat identitas desainnya: feminin, terstruktur, namun tetap memberi kejutan melalui detail-detail tak terduga. Keberhasilan acara ini sekaligus menjadi sinyal bahwa peragaan tunggal dengan cerita yang kuat masih menjadi ajang penting untuk membangun koneksi personal antara desainer dan audiens.
Comments (0)