BRIN Ungkap Pengendalian Rayap Harus Menyasar Struktur Koloni Bawah Tanah
JAKARTA — Pendekatan konvensional dalam membasmi hama rayap yang hanya berfokus pada titik kerusakan dinilai sudah tidak lagi relevan dan kerap berujung pa
JAKARTA — Pendekatan konvensional dalam membasmi hama rayap yang hanya berfokus pada titik kerusakan dinilai sudah tidak lagi relevan dan kerap berujung pada kegagalan jangka panjang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa pemberantasan rayap bawah tanah membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap karakteristik tanah serta struktur sosial koloni yang sangat adaptif.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Bramantyo Wikantyoso, memaparkan bahwa membasmi rayap hanya pada kayu atau dinding yang terserang tidak mematikan sumber masalah utama. Satu koloni rayap bawah tanah memiliki kemampuan membentuk jaringan sarang yang kompleks dan tersebar di area yang luas.
"Pengendalian rayap bawah tanah tidak ideal jika hanya dilakukan pada titik serangan. Strategi perlu mempertimbangkan area yang lebih luas, karena satu koloni dapat membentuk beberapa sarang baru di bawah permukaan tanah yang dapat terhubung atau terpisah dari sarang utama," ujar Bramantyo dalam forum ilmiah Zoopedia Series.
Dinamika Sarang Satelit dan Reproduksi Sekunder
Kajian biosains menunjukkan bahwa koloni rayap tanah tidak hanya bertumpu pada satu ratu atau satu sarang tunggal. Keberadaan satellite nest atau sarang satelit menjadi tantangan terbesar dalam mitigasi struktural bangunan.
- Sarang Utama: Pusat koloni tempat ratu primer memproduksi ribuan telur setiap hari.
- Sarang Satelit (Satellite Nest): Ruang cabang yang dihuni oleh kasta pekerja, prajurit, hingga individu reproduktif sekunder (neotenic reproductives).
- Kemandirian Koloni Cabang: Jika sarang utama terganggu atau terisolasi pestisida, sarang satelit mampu berkembang mandiri menjadi koloni baru secara cepat.
Respon Pertahanan: Fenomena Burial dan Secondary Repellent
Kegagalan aplikasi termitisida kimia sering kali dipicu oleh mekanisme pertahanan alami rayap. Bramantyo menjelaskan adanya perilaku burial (mengubur individu yang terpapar racun) dan timbulnya secondary repellent.
Ketika sebagian pekerja rayap terpapar bahan kimia dosis tinggi secara mendadak, anggota koloni lain akan mendeteksi bahaya tersebut. Mereka segera menutup dan menimbun terowongan (mud tubes) menuju area yang diaplikasikan racun. Akibatnya, tercipta dinding penghalang alami yang justru melindungi sisa koloni besar di dalam tanah dari penetrasi bahan pengendali.
Rekomendasi Tahapan Pengendalian Terpadu
Untuk memutus siklus hidup hama perusak struktur bangunan ini secara berkelanjutan, BRIN merekomendasikan pendekatan bertahap berbasis lanskap:
- Inspeksi Komprehensif: Pemetaan jalur jelajah rayap tidak hanya di dalam gedung, tetapi mencakup radius perimeter tanah luar dan kelembapan sekitar pondasi.
- Penggunaan Umpan Beraksi Lambat (Slow-acting Bait): Mengaplikasikan bahan aktif penghambat sintesis kitin agar racun terbawa ke sarang utama dan sarang satelit melalui mekanisme transfer makanan (trophallaxis) sebelum terowongan ditutup.
- Pemasangan Penghalang Kimia atau Fisik Menyeluruh: Menginjeksi termitisida non-repelen ke sepanjang perimeter pondasi guna memastikan proteksi tanah jangka menengah dan panjang.
Comments (0)