BRIN Kembangkan Model Agribisnis Terpadu di Lahan Bekas Tambang Kaltim

Bentang alam Kalimantan Timur yang selama berdekade-dekade didominasi oleh cekungan bekas galian tambang batu bara kini mulai diarahkan menuju transformasi

Sep 14, 2026 - 18:14
0 0
BRIN Kembangkan Model Agribisnis Terpadu di Lahan Bekas Tambang Kaltim

Bentang alam Kalimantan Timur yang selama berdekade-dekade didominasi oleh cekungan bekas galian tambang batu bara kini mulai diarahkan menuju transformasi ekologis dan ekonomi baru. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan kajian mendalam mengenai formulasi model agribisnis terpadu di atas lahan pascatambang. Langkah ini diambil guna mengubah lanskap kritis yang terdegradasi menjadi zona produktif yang mumpuni dalam menopang ketahanan pangan kawasan.

Kondisi tanah di area bekas tambang umumnya mengalami kerusakan struktur fisik, tingkat keasaman (pH) yang ekstrem, serta penurunan drastis kandungan hara organik. Melalui pendekatan ilmiah terintegrasi, BRIN mencoba mengombinasikan sektor peternakan, pertanian, perikanan, hortikultura, hingga perkebunan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Skema ini dirancang tidak hanya untuk memulihkan fungsi lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah konsesi.

Transformasi Lahan Marginal Melalui Sains Terapan

Mengubah kubangan devastasi tambang menjadi benteng pangan memerlukan intervensi teknologi biosains dan tata kelola lahan yang presisi. Penelitian BRIN berfokus pada teknik remedi biologis untuk melepaskan ketergantungan pada pupuk kimia sintesis yang berlebihan. Penggunaan void atau lubang bekas tambang yang telah melalui proses netralisasi air dimanfaatkan sebagai sarana budi daya perikanan darat serta sumber irigasi pertanian.

Parameter Lahan Kondisi Awal Pascatambang Pendekatan Agribisnis Terpadu BRIN
Tingkat Kesuburan Tanah Sangat rendah, miskin unsur hara makro Pemanfaatan pupuk organik dari kotoran ternak (integrasi peternakan)
Kondisi Air (Void) Asam (pH rendah), berpotensi logam berat Netralisasi hayati dan perlakuan filter alami untuk budi daya air
Nilai Ekonomis Lahan mangkrak/biaya reklamasi tinggi Komoditas multisektor (hortikultura, daging, buah, dan ikan)

Pola interaksi terintegrasi ini memungkinkan limbah dari satu sektor menjadi input bagi sektor lainnya. Sebagai contoh, kotoran ternak dari sektor peternakan diolah menjadi biogas dan pupuk komposting untuk mendukung sektor hortikultura dan perkebunan. Sebaliknya, residu hasil panen pertanian dijadikan pakan bernilai gizi bagi ternak.

Sinergi Ekonomi Sirkular dan Penyangga Pangan IKN

Kedekatan geografis Kalimantan Timur dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) memberikan urgensi strategis tersendiri bagi riset ini. Seiring dengan peningkatan populasi di kawasan ibu kota baru, kebutuhan akan pasokan pangan segar—seperti daging, sayuran, dan ikan—diproyeksikan melonjak tajam. Model agribisnis terpadu di lahan bekas tambang ini disiapkan sebagai salah satu benteng penyangga (buffer zone) logistik pangan regional.

"Reklamasi lahan bekas tambang tidak boleh lagi sekadar dimaknai sebagai kegiatan kewajiban menanam pohon penutup (cover crops). Kita harus melangkah lebih jauh menuju komersialisasi berlanjut berbasis sains, di mana ekosistem yang rusak dipulihkan sekaligus menghasilkan nilai tambah ekonomi yang inklusif," ujar peneliti senior riset agribisnis BRIN dalam analisis kebijakan pemanfaatan lahan marginal.

Meski memiliki potensi besar, terdapat tantangan teknis yang tidak sedikit. BRIN menggarisbawahi pentingnya pemetaan karakteristik tanah secara mikro sebelum implementasi komoditas dilakukan. Karakteristik bekas tambang batu bara memiliki variasi keasaman dan kandungan logam berat yang berbeda di setiap titik, sehingga perlakuan remediasinya memerlukan kepatuhan standar lingkungan yang ketat.

Tantangan Regulasi dan Pembagian Peran Industri

Secara regulasi, pengalihan fungsi lahan bekas konsesi tambang menjadi kawasan agribisnis memerlukan sinergi kuat antara pemerintah daerah, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), dan kelompok tani lokal. Perusahaan tambang memiliki kewajiban moral dan legal dalam melakukan reklamasi serta pascatambang, sementara pemanfaatan model BRIN memberikan jalan keluar konkret agar dana jaminan reklamasi dialokasikan tepat sasaran.

Jika model kajian ini berhasil diimplementasikan secara luas di Kalimantan Timur, skema agribisnis terpadu ini berpotensi menjadi percontohan nasional untuk daerah-daerah penambangan lain di Indonesia. Pemulihan lingkungan tidak lagi menjadi beban biaya semata, melainkan transformasi modal ekologis menuju ketahanan pangan berkelanjutan berbasis sains terintegrasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User