Brighton Bangkit, Hentikan Manchester City 2-1 di Amex
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Brighton and Hove Albion. Stadion American Express bergemuruh saat wasit meniup peluit panjang, Minggu dini hari WIB (10/11/2024), dan Carlos Baleba — gelandang Kamer...
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Brighton and Hove Albion. Stadion American Express bergemuruh saat wasit meniup peluit panjang, Minggu dini hari WIB (10/11/2024), dan Carlos Baleba — gelandang Kamerun bernomor punggung 20 itu — langsung larut dalam selebrasi di tengah lapangan. Bukan tanpa alasan: Brighton baru saja menumbangkan Manchester City, tim yang tak pernah mereka kalahkan di Liga Primer sejak promosi musim 2017-2018. Gol kemenangan tuan rumah lahir dari penalti Joao Pedro pada menit ke-78 dan penyelesaian Matt O'Riley pada menit ke-83, membalas keunggulan lebih dulu Erling Haaland pada menit ke-23.
Bagi Manchester City, kekalahan ini memperpanjang rentetan buruk. Sebelum melawat ke pesisir selatan Inggris, pasukan Pep Guardiola sudah takluk dari Tottenham Hotspur, Bournemouth, dan Sporting CP. Kekalahan dari Brighton pun melengkapi empat kekalahan beruntun di semua kompetisi — sinyal krisis yang mulai menyergap juara bertahan, terutama tanpa kehadiran gelandang jangkar Rodri yang cedera panjang sejak September.
Babak Pertama: Gol Kilat Haaland, City Mendominasi Penguasaan Bola
Brighton membuka laga dengan formasi 4-2-3-1, menempatkan Baleba dan Yasin Ayari sebagai poros ganda untuk membendung City yang tampil dalam skema 4-1-4-1. Starting XI tuan rumah dipercayakan kepada Bart Verbruggen di bawah mistar, lini belakang Joel Veltman, Jan Paul van Hecke, Lewis Dunk, dan Pervis Estupinan, dengan Yankuba Minteh, Georginio Rutter, dan Kaoru Mitoma mendukung Danny Welbeck di lini depan. City menjawab dengan Ederson di bawah mistar, lini tengah yang digerakkan Kevin De Bruyne, serta Haaland di ujung tombak.
Gempuran City nyaris tak terbendung di babak pertama. Menit ke-23, De Bruyne menusuk dari lini kedua dan melepaskan umpan terobosan yang dituntaskan Haaland dengan tembakan first-time ke sudut gawang. Skor berubah 1-0 untuk tim tamu, dan gol itu lahir di tengah dominasi penguasaan bola yang mencolok: 62 persen berbanding 38 persen untuk Brighton. Jebakan offside tuan rumah beberapa kali memutus serangan, sementara Doku dan Savinho bergantian menusuk dari sayap. Hingga turun minum, Brighton bertahan dengan disiplin, meski kesulitan membangun serangan balik yang tajam.
Babak Kedua: Comeback Kilat dalam Lima Menit
Guardiola mencoba mengubah ritme dengan memasukkan pemain segar seperti Phil Foden dari bangku cadangan. Namun, justru Brighton yang tampil lebih berani. Menit ke-78, Joao Pedro dijatuhkan di kotak penalti, dan wasit menunjuk titik putih setelah pemeriksaan VAR memastikan pelanggaran terjadi di area terlarang. Penyerang asal Brasil itu maju sebagai eksekutor, mengecoh Ederson dengan tendangan tenang ke sudut gawang. Skor imbang 1-1, dan Amex mulai hidup kembali.
Lima menit berselang, muncullah pahlawan tak terduga. Matt O'Riley, gelandang asal Denmark yang baru beberapa menit masuk sebagai pemain pengganti, menerima assist Joao Pedro dalam serangan balik cepat. Dari dalam kotak penalti, ia melepaskan tembakan kaki kiri yang tak mampu dijangkau Ederson. Skor akhir 2-1! Itu adalah gol perdana O'Riley untuk Brighton di Liga Primer. Sisa laga menjadi milik tensi: beberapa kartu kuning dikeluarkan wasit untuk meredam permainan yang memanas, sementara Verbruggen tampil gemilang dengan penyelamatan-penyelamatan penting di menit-menit akhir. Tidak ada kartu merah dalam laga ini.
Baleba, Motor Lini Tengah yang Tak Kenal Lelah
Jika ada satu nama yang mewakili kemenangan ini, itu adalah Carlos Baleba. Gelandang berusia 20 tahun asal Kamerun itu bermain penuh energi selama 90 menit: merebut bola, memenangi duel, memecah tekanan, hingga memulai transisi serangan. Ia menjadi alasan Brighton mampu bertahan dari gelombang serangan City sekaligus meluncurkan serangan balik yang membahayakan. Penampilan ini mengingatkan publik bahwa Brighton sudah menyiapkan pewaris Moises Caicedo sejak lama. Setelah peluit panjang, Baleba berjalan melintasi lapangan sambil merayakan kemenangan, berbagi momen dengan rekan setim dan pendukung di tribun — penutup sempurna untuk malam yang tak akan dilupakan.
Analisis Taktik dan Dampak Klasemen
Data akhir pertandingan menyajikan gambaran yang menarik. City unggul penguasaan bola 62 persen berbanding 38 persen, tetapi Brighton melepaskan 13 tembakan dengan lima shots on target, nyaris sebanding dengan 14 tembakan milik City. Tidak ada clean sheet dalam laga ini — kedua gawang kebobolan — dan yang paling rapuh justru pertahanan tim tamu. Brighton berulang kali menyerang ruang di belakang lini belakang City yang bermain tinggi, persis pola yang dieksploitasi lawan-lawannya sejak Rodri absen.
"Kami tidak hanya bertahan, kami berani menekan dan percaya pada proses kami. Kemenangan ini untuk para pendukung yang luar biasa," ujar pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, usai laga.
Sementara itu, Guardiola tak menghindar dari kenyataan. "Kami harus menerima dan memperbaiki banyak hal. Ini masa yang sulit, tetapi kami akan bangkit," katanya singkat.
Bagi Brighton, tiga poin ini adalah pernyataan berharga: racikan 4-2-3-1 Hurzeler terbukti mampu bersaing melawan tim terbaik Inggris, sekaligus mengakhiri paceklik kemenangan dalam beberapa pekan. Bagi City, pekerjaan rumahnya jelas — tanpa jangkar di lini tengah, pertahanan mereka terlalu mudah ditembus. Skor akhir 2-1 tetap terpampang di papan skor saat Baleba masih melambaikan tangan ke tribun: malam bersejarah di pesisir selatan Inggris.
Comments (0)