Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengonfirmasi bahwa Indonesia sedang mengembangkan kandidat vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD), yang berpotensi menjadi yang pertama di dunia. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan komitmen penuh lembaganya untuk mengawal inovasi ini hingga masuk tahap uji klinis dan siap digunakan masyarakat. “Ini akan menjadi sejarah, vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah,” ujarnya dalam konferensi pers Rabu (8/7/2026). Dari kacamata ekonomi, terobosan ini bukan sekadar berita kesehatan—melainkan sinyal lompatan besar dalam rantai nilai biofarmasi nasional yang dapat menekan beban fiskal sekaligus membuka peluang ekspor bernilai miliaran dolar.
Beban Ekonomi DBD dan Celah Pasar yang Menjanjikan
Penyakit DBD tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga menggerus produktivitas dan anggaran kesehatan. Data Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2025 terdapat
127.000 kasus DBD di Indonesia dengan
1.100 kematian. Estimasi biaya langsung medis per pasien mencapai Rp8,5 juta hingga Rp14 juta untuk perawatan inap. Belum termasuk opportunity cost kehilangan hari kerja keluarga, total kerugian ekonomi tahunan akibat DBD di Indonesia diperkirakan menembus
Rp4,8 triliun. Angka ini menjadikan vaksinasi sebagai intervensi paling cost-effective. Selama ini, vaksin dengue yang beredar—Dengvaxia (Sanofi) dan Qdenga (Takeda)—menggunakan platform virus hidup yang dilemahkan, sehingga penggunaannya terbatas pada kelompok seropositif atau rentang usia tertentu. Vaksin mRNA menawarkan profil keamanan lebih fleksibel dan kecepatan produksi yang lebih tinggi, karakteristik yang mendesak di tengah perubahan iklim yang memperluas wilayah sebaran nyamuk Aedes aegypti.
Potensi Ekonomi Industri Vaksin mRNA Nasional
Jika berhasil, vaksin mRNA dengue buatan Indonesia dapat menangkap ceruk pasar yang masih terbuka lebar. Laporan pasar dari MarketResearchBiz menunjukkan nilai pasar vaksin dengue global tumbuh pada laju tahunan majemuk (CAGR)
8,2% dan diproyeksikan mencapai
US$1,7 miliar pada 2030. Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta dan insiden DBD yang tinggi, merupakan pasar primer yang atraktif. Dengan menguasai teknologi mRNA, Indonesia juga dapat memperpendek rantai pasok, menekan biaya produksi per dosis, dan berpotensi mengekspor vaksin ke negara-negara tropis lain di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika.
Dari sisi industri, kabar ini dapat menjadi katalis positif bagi emiten farmasi plat merah seperti PT Bio Farma (Persero) serta perusahaan bioteknologi swasta yang terlibat dalam riset dan manufaktur. Investor akan mencermati progres uji klinis karena potensi revenue stream baru dari lini vaksin mRNA bisa mendongkrak valuasi.
“Jika uji klinis fase III berhasil, dampaknya bisa menyerupai lompatan valuasi yang dialami Moderna atau BioNTech saat pandemi COVID-19, meski dalam skala yang disesuaikan,” kata ekonom kesehatan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, Rizky Andika, yang kami hubungi secara terpisah.
Perbandingan Platform Vaksin Dengue yang Ada
| Parameter | Dengvaxia (Sanofi) | Qdenga (Takeda) | mRNA Dengue (Kandidat RI) |
| Platform | Virus hidup dilemahkan (rekombinan yellow fever) | Virus hidup dilemahkan (strain dengue-2 backbone) | mRNA |
| Efikasi keseluruhan | ~60% | ~80% (demam berdarah yang dikonfirmasi) | Belum diketahui (uji klinis tahap awal) |
| Syarat pemberian | Hanya untuk seropositif (pernah terinfeksi) | Dapat diberikan tanpa tes seropositif | Potensial tanpa tes serologis |
| Harga per dosis (estimasi) | US$70–100 | US$50–70 | Ditargetkan lebih rendah ( |
| Kecepatan produksi | Relatif lambat (kultur sel) | Relatif lambat (kultur sel) | Cepat (sintesis enzimatik) |
| Status pasar | Tersedia terbatas, kontroversial | Disetujui di >30 negara, termasuk Indonesia | Dalam pengembangan, didampingi BPOM |
Tabel di atas memperlihatkan bahwa keunggulan utama platform mRNA terletak pada potensi harga yang kompetitif dan kemudahan modifikasi sekuens untuk menghadapi varian baru virus dengue. BPOM mengisyaratkan mekanisme rolling review agar uji klinis dapat berjalan paralel dengan evaluasi mutu, sehingga time-to-market bisa dipercepat tanpa mengorbankan aspek keamanan.
Prospek dan Catatan Hati-hati
Meski optimisme tinggi, tantangan tetap ada. Riset mRNA dengue menghadapi kompleksitas lebih tinggi dibanding mRNA COVID-19 karena virus dengue memiliki empat serotipe yang dapat menimbulkan fenomena antibody-dependent enhancement (ADE). Biaya investasi fasilitas produksi mRNA dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP) juga tidak kecil, diperkirakan membutuhkan
US$150 juta–200 juta untuk kapasitas 100 juta dosis per tahun. Namun jika ekosistem ini terbangun, Indonesia akan memiliki kapasitas plug-and-play yang dapat dialihkan untuk vaksin penyakit tropis lainnya, memperkuat kemandirian farmasi nasional sekaligus menciptakan efek pengganda ekonomi pada sektor riset, manufaktur, dan logistik.
Comments (0)