BPBD Jatim Catat 14 Gunung Terbakar Selama Kemarau 2026

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mencatat sedikitnya 14 kawasan pegunungan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sep

Sep 18, 2026 - 06:30
0 0
BPBD Jatim Catat 14 Gunung Terbakar Selama Kemarau 2026

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mencatat sedikitnya 14 kawasan pegunungan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang musim kemarau 2026. Kombinasi antara cuaca kering ekstrem, angin kencang, dan vegetasi yang mengering memicu percepatan perambatan api di berbagai lereng dataran tinggi, di mana beberapa titik api hingga kini dilaporkan masih dalam status penanganan intensif.

Secara analitis, eskalasi kebakaran pada tahun ini menunjukkan pola kerentanan yang berulang di kawasan konservasi dan hutan lindung. Karhutla tidak hanya merusak vegetasi endemik dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu ancaman bencana lanjutan, seperti tanah longsor saat musim hujan tiba serta gangguan kualitas udara bagi masyarakat di sekitar kaki gunung.

Kronologi dan Eskalasi Karhutla di Jawa Timur

Berdasarkan rekapitulasi data dan pemantauan satelit cuaca, eskalasi kebakaran hutan di Jawa Timur berkembang melalui beberapa fase kritis:

  1. Fase Awal Kemarau: Titik panas (hotspot) mulai terdeteksi sporadis di kawasan lereng bawah akibat aktivitas pembukaan lahan dan pembakaran serasah yang tidak terkendali.
  2. Puncak Kekeringan: Penurunan kelembapan udara secara drastis menyebabkan percikan api merembet cepat ke area savana dan vegetasi kering di dataran tinggi, termasuk di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan kompleks Arjuno-Welirang.
  3. Eskalasi Meluas: Angin kencang mempercepat perambatan api hingga mencakup 14 kawasan pegunungan, mempersulit upaya pemadaman manual di punggungan curam.
  4. Fase Tanggap Darurat: BPBD bersama tim gabungan mengerahkan pemadaman darat dan menjajaki opsi water bombing untuk menjangkau jurang terjal yang tidak bisa diakses personel.
"Kondisi topografi yang curam dan hembusan angin kencang menjadi kendala utama operasi pemadaman di lapangan. Kami terus memetakan pergerakan titik api untuk memastikan kebakaran tidak meluas ke area pemukiman warga," ujar perwakilan Pusdalops BPBD Jawa Timur.

Dampak Ekologis dan Tantangan Penanganan Lapangan

Karakteristik kebakaran pegunungan di Jawa Timur menghadirkan tantangan logistik yang kompleks. Aksesibilitas yang terbatas di ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) menuntut koordinasi lintas instansi antara BPBD, Perhutani, Balai Besar Taman Nasional, TNI, Polri, dan relawan masyarakat peduli api.

Beberapa dampak krusial dari karhutla di 14 gunung ini mencakup:

  • Degradasi Habitat Satwa: Rusaknya koridor alami fauna liar yang berpotensi memicu konflik satwa dengan warga lokal di area perkebunan kaki gunung.
  • Gangguan Jalur Pendakian dan Wisata: Penutupan berkala sejumlah destinasi wisata alam dan jalur pendakian demi keselamatan publik.
  • Kerusakan Daerah Tangkapan Air (Catchment Area): Penurunan kapasitas resapan air tanah yang berisiko memperparah krisis air bersih regional di masa mendatang.

Evaluasi mitigasi bencana menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini berbasis sensor kelembapan serta patroli terpadu guna meminimalkan faktor kelalaian manusia di titik-titik rawan api.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User