BNPB: Karhutla Kalimantan Barat Tembus 48 Ribu Hektare
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperketat pengawasan titik panas (hotspot) menyusul lonjakan signifikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperketat pengawasan titik panas (hotspot) menyusul lonjakan signifikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Berdasarkan data pemantauan terpadu satelit dan verifikasi darat per September 2026, total akumulasi area yang hangus terbakar di provinsi tersebut telah menembus angka 48.000 hektare. Sebagian besar area terdampak terkonsentrasi di lahan gambut yang memiliki tingkat kerentanan pembakaran tinggi dan sulit dipadamkan.
Kondisi kemarau ekstrem yang diperparah anomali cuaca lokal mendorong perluasan karhutla secara eksponensial di sejumlah kabupaten prioritas, termasuk Kubu Raya, Ketapang, dan Sambas. BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta unsur TNI-Polri kini mengerahkan strategi operasi ganda melalui satgas darat dan operasi pemadaman udara (water bombing) guna menekan pelepasan emisi karbon dan mencegah kabut asap lintas batas.
Kronologi Eskalasi Karhutla di Wilayah Kalimantan Barat
Dinamika meluasnya karhutla di Kalimantan Barat sepanjang musim kemarau tahun ini tercatat melalui rangkaian fase perkembangan berikut:
- Fase Deteksi Dini (Juni–Juli): Pemantauan satelit Terra/Aqua dan NOAA mulai mendeteksi klaster titik panas sporadis di area bukaan lahan dan perimeter perkebunan dengan total area terbakar awal di bawah 5.000 hektare.
- Fase Penjalaran Gambut (Agustus): Penurunan curah hujan secara drastis menyebabkan muka air tanah gambut menyusut di bawah ambang batas kritis 40 sentimeter, memicu kebakaran bawah tanah (subsurface fire) di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya hingga luasan melonjak melampaui 25.000 hektare.
- Fase Kritis dan Mobilisasi Maksimal (September): Pembentukan satgas gabungan diperluas ke 14 kabupaten/kota seiring luasan area terbakar melampaui 48.000 hektare, memaksa pengerahan helikopter patroli dan bom air secara intensif di titik-titik krusial yang mengancam permukiman dan infrastruktur transportasi.
"Karakteristik gambut Kalbar yang dalam menjadikan kebakaran bawah tanah sebagai ancaman laten. Pemadaman dari udara harus disinergikan dengan pembasahan total di tingkat tapak agar bara api tidak kembali menyala saat ditiup angin kencang," tegas juru bicara BNPB dalam laporan resminya.
Analisis Kerentanan Ekologis dan Mitigasi Berkelanjutan
Ditinjau dari perspektif analisis tata kelola lingkungan, luasan karhutla yang mencapai 48 ribu hektare ini mengindikasikan rapuhnya sistem hidrologi gambut yang telah mengalami degradasi akibat kanalisasi berlebih. Ketika kanal-kanal pengeringan tidak disekat (canal blocking) secara optimal menjelang puncak kemarau, gambut mengering dan berubah menjadi bahan bakar padat yang sangat reaktif.
Untuk meredam dampak kerusakan yang lebih luas, BNPB menerapkan langkah-langkah penanganan komprehensif:
- Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Penyemaian awan higroskopis secara selektif di atas koridor atmosfer yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.
- Penguatan Sekat Kanal dan Sumur Bor: Reaktivasi infrastruktur pembasahan gambut di zona rawan guna memulihkan kelembapan vegetasi.
- Penegakan Hukum Berbasis Spasial: Pemanfaatan citra satelit resolusi tinggi untuk memetakan kepemilikan konsesi dan lahan masyarakat yang terindikasi dibakar secara sengaja.
Comments (0)