Blatter dan Platini Kembali Bebas, Pengadilan Swiss Kabulkan Banding
Skor akhir kali ini tidak diukur dengan gol, melainkan dengan vonis. Pada 25 Maret 2025, mantan presiden FIFA Sepp Blatter dan mantan ketua UEFA Michel Platini resmi memenangi babak paling menentukan ...
Skor akhir kali ini tidak diukur dengan gol, melainkan dengan vonis. Pada 25 Maret 2025, mantan presiden FIFA Sepp Blatter dan mantan ketua UEFA Michel Platini resmi memenangi babak paling menentukan dalam pertarungan hukum terpanjang di sejarah tata kelola sepak bola. Majelis hakim di pengadilan banding Swiss kembali membebaskan keduanya dari seluruh dakwaan dalam kasus dugaan pembayaran palsu yang telah menggantung selama lebih dari satu dekade. Ini adalah clean sheet kedua bagi duet yang pernah menjadi dua tokoh paling berpengaruh di sepak bola dunia.
Momen paling ikonik terjadi di luar gedung pengadilan di Muttenz, dekat Basel. Blatter, yang kini berusia 89 tahun, meninggalkan ruang sidang dengan raut wajah tegang namun langkah tegap, didampingi tim kuasa hukumnya. Ia tidak melayani satu pertanyaan pun dari media. Sementara itu, Platini, legenda Timnas Prancis yang pernah membawa negaranya juara Eropa 1984, harus menunggu kepastian jauh lebih lama dari yang pernah ia bayangkan saat pensiun dari lapangan hijau. Keduanya pergi dengan satu pesan tersirat: nama baik mereka akhirnya bersih.
Babak Pertama: Akar Masalah yang Berakar Sejak 2011
Kisah hukum ini berawal dari sebuah transfer dana sebesar dua juta franc Swiss — setara sekitar Rp35 miliar — yang mengalir dari kas FIFA ke rekening Platini pada awal 2011. Uang itu disebut sebagai kompensasi atas jasa konsultasi yang diberikan Platini kepada FIFA antara 1998 dan 2002, periode ketika Blatter masih menjadi presiden. Namun, kejaksaan menilai pembayaran tersebut cacat administrasi karena tidak tercatat dengan jelas dalam pembukuan organisasi, sehingga dugaan pembayaran palsu pun mencuat dan penyelidikan dimulai.
Bukan hanya soal uang. Kasus ini menyeret dua tokoh ke kartu merah terbesar dalam karier administratif mereka. Pada 2015, Komite Etik FIFA menjatuhkan larangan beraktivitas selama delapan tahun kepada Blatter dan Platini. Hukuman itu kemudian dipangkas menjadi enam tahun oleh badan banding FIFA, sebelum akhirnya diturunkan lagi menjadi empat tahun. Dengan kata lain, dua pemain di posisi starting XI terpenting dalam struktur kekuasaan sepak bola dunia itu harus keluar dari lapangan untuk waktu yang sangat lama, persis seperti pemain bintang yang diusir wasit di menit-menit awal laga besar.
Babak Kedua: Dua Vonis Bebas dalam Satu Jalan Panjang
Perjalanan hukum mereka tidak pernah mulus. Pada Juli 2022, Pengadilan Pidana Federal Swiss di Bellinzona untuk pertama kalinya membebaskan keduanya dari tuduhan pengelolaan tidak setia. Saat itu, penguasaan bola sepenuhnya berpihak kepada Blatter dan Platini. Namun, Kejaksaan Agung Swiss tidak menyerah seperti tim yang terus menekan meski bola sudah keluar lapangan: mereka mengajukan banding dan membawa kasus ini ke tingkat berikutnya.
Banding itulah yang akhirnya digelar dan menjadi penentu. Pada 25 Maret 2025, majelis hakim menegaskan pembebasan keduanya, sekaligus menutup salah satu babak paling panjang dalam sejarah hukum olahraga internasional. Jika dihitung dari awal penyelidikan hingga putusan banding, kasus ini berjalan sekitar 14 tahun — lebih lama dari tiga siklus Piala Dunia. Tidak ada offside, tidak ada VAR yang perlu meninjau ulang: keputusan kali ini dianggap final dan mengikat.
Babak Ketiga: Warisan yang Tidak Pernah Kembali
Secara statistik, karier administratif Blatter di FIFA tergolong luar biasa. Ia memimpin organisasi itu selama 17 tahun, dari 1998 hingga 2015, dan hadir dalam delapan edisi Piala Dunia dalam berbagai peran. Platini, di sisi lain, memimpin UEFA dari 2007 hingga 2015 dan berada di balik ekspansi Piala Eropa dari 16 menjadi 24 peserta — perubahan format yang dampaknya masih terasa hingga hari ini di setiap turnamen kontinental.
Namun, vonis bebas tidak otomatis mengembalikan warisan mereka. Sepanjang proses hukum berlangsung, keduanya kehilangan jabatan, pengaruh, dan kursi di meja pengambilan keputusan. Yang lebih menarik, kasus ini justru menjadi pendorong utama reformasi FIFA pasca-2015: pembatasan masa jabatan presiden, transparansi pembayaran eksekutif, dan perombakan struktur komite etik. Dengan kata lain, meski skor akhir pertandingan hukum ini menguntungkan Blatter dan Platini, dampak kasusnya tetap terasa seperti keputusan offside yang mengubah arah permainan — aturan baru dibuat, dan kekuasaan lama tidak pernah kembali.
Bagi pengamat, putusan ini juga mengirim sinyal bahwa pengadilan Swiss menilai tidak ada niat jahat dalam transaksi dua juta franc tersebut. Namun, kritik tetap mengalir deras: banyak pihak menilai proses ini terlalu lama dan menguras sumber daya besar, sementara para pendukung keduanya menyebut perjuangan ini sebagai bukti bahwa nama baik tidak bisa dibeli dengan hukuman yang dipaksakan.
Kini, dengan vonis bebas yang final, Blatter dan Platini dapat menikmati sepak bola tanpa bayang-bayang persidangan. Untuk dua tokoh yang pernah memegang kendali atas lebih dari 200 federasi anggota FIFA, itu mungkin hadiah terbesar — sebuah trofi yang tidak perlu diangkat ke atas kepala, cukup disimpan di dalam hati.
Comments (0)