Argentina Hantam Swiss di Extra Time, Embolo Diusir Wasit
Skor akhir Argentina 2-1 Swiss dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City, Sabtu (11/7/2026) malam waktu setempat. Kemenangan La Albiceleste tidak datang mudah: mereka harus menunggu hi...
Skor akhir Argentina 2-1 Swiss dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City, Sabtu (11/7/2026) malam waktu setempat. Kemenangan La Albiceleste tidak datang mudah: mereka harus menunggu hingga menit ke-103 untuk memastikan tiket semifinal setelah bermain dengan keunggulan jumlah pemain hampir sepanjang laga menyusul kartu merah langsung Breel Embolo di menit ke-23.
Babak Pertama: Kartu Merah yang Mengubah Wajah Laga
Sejak menit pertama, tensi pertandingan langsung terasa. Argentina turun dengan formasi 4-3-3 kesukaan Lionel Scaloni, sementara Swiss memilih 3-5-2 yang lebih pragmatis dengan fokus menutup ruang di lini tengah. Menit ke-9, peluang pertama datang lewat tendangan jarak jauh Enzo Fernandez yang masih bisa ditepis kiper Swiss. Penguasaan bola di 20 menit awal memang didominasi Argentina, sekitar 64 persen, namun Swiss tampil disiplin tanpa bola.
Semuanya berubah di menit ke-23. Breel Embolo, penyerang yang seharusnya menjadi ujung tombak Swiss, melakukan tekel terlambat dengan studs ke arah pergelangan kaki Rodrigo De Paul di tengah lapangan. Wasit asal Portugal, Joao Pinheiro, langsung mengeluarkan kartu merah tanpa ragu. Setelah pemeriksaan singkat melalui VAR yang mengonfirmasi kontak berbahaya tersebut, keputusan tetap: Swiss harus bermain dengan 10 orang. Momen ini persis seperti skenario terburuk bagi tim asuhan pelatih Swiss, yang harus mengorbankan kreativitas di lini depan demi bertahan total.
Babak Kedua: Swiss Bertahan Hidup, Argentina Akhirnya Membuka Skor
Dengan keunggulan jumlah pemain, Argentina menekan tanpa henti di babak kedua. Shots on target Argentina tercatat delapan sepanjang laga, berbanding hanya tiga milik Swiss yang lebih banyak mengandalkan serangan balik. Namun pertahanan berlapis Swiss sempat membuat frustrasi Messi dan kawan-kawan. Formasi 3-5-2 yang ditarik menjadi 5-4-0 membuat Argentina harus sabar membongkar lini bertahan.
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-58. Lionel Messi, yang bergerak bebas di antara lini tengah dan lini depan, melepaskan umpang terobosan matang ke sisi kiri kotak penalti. Lautaro Martinez menyambutnya dengan first-time finish ke tiang jauh. Gol tersebut adalah assist keempat Messi di turnamen ini, sekaligus gol ketiga Martinez. Sorak penonton di stadion Kansas City langsung bergemuruh, dan tampaknya Argentina di atas angin dengan keunggulan 1-0.
Tetapi Swiss yang bermain 10 orang belum menyerah. Menit ke-79, dari situasi bola mati, Dan Ndoye melepaskan tembakan voli dari tepi kotak penalti yang gagal dijangkau Emiliano Martinez. Skor berubah 1-1, dan Swiss seketika bangkit percaya diri. Sisa waktu normal berjalan dramatis: Argentina menambah tekanan dengan tiga pergantian pemain, termasuk memasukkan Julian Alvarez, namun penyelesaian akhir yang buruk membuat skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang.
“Kami kehilangan kendali setelah kartu merah, tetapi para pemain menunjukkan mentalitas luar biasa dengan bertahan 70 menit dan hampir membawa laga ke adu penalti. Saya bangga dengan mereka,” ujar pelatih Swiss seusai laga.
Extra Time: Ketangguhan Mental Argentina Jadi Pembeda
Memasuki extra time, statistik kelelahan mulai terlihat. Swiss yang sudah kehilangan satu pemain dan banyak berlari menutup ruang mulai kehilangan koordinasi di lini kedua. Argentina tetap sabar memutar bola dengan penguasaan bola akhir mencapai 62 persen berbanding 38 persen, dan total operan sukses 612 berbanding 389.
Gol penentu lahir di menit ke-103. Julian Alvarez, yang masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, menerima bola hasil kemelut di kotak penalti dan melepaskan tembakan keras yang memantul ke tanah sebelum masuk ke gawang. Skor akhir 2-1 untuk Argentina. Tidak ada clean sheet bagi Emiliano Martinez, tetapi tiga penyelamatan pentingnya di babak kedua layak dicatat sebagai faktor krusial. Swiss harus mengakhiri turnamen dengan catatan pahit: satu kartu merah, dua kartu kuning, dan offside sebanyak empat kali akibat lini pertahanan yang terpaksa naik untuk mengejar gol.
Kartu Merah Embolo dan Keputusan Kontroversial Joao Pinheiro
Keputusan wasit Joao Pinheiro tentu menjadi bahan perdebatan. Tekel Embolo memang keras dan terlambat, tetapi sebagian pengamat menilai hukuman kartu kuning sudah cukup mengingat posisi tekel tersebut masih di wilayah tengah lapangan. Namun, setelah meninjau ulang tayangan VAR, pinheiro mempertahankan keputusannya: kontak dengan studs ke area pergelangan kaki dikategorikan sebagai serious foul play. Ini menjadi kartu merah kedua di turnamen ini yang diputuskan setelah intervensi VAR.
Statistik memperlihatkan dampak besar keputusan tersebut. Swiss hanya melepaskan sembilan tembakan sepanjang 120 menit, sementara Argentina melepaskan 17 tembakan dengan delapan di antaranya mengarah ke gawang. Perbedaan formasi juga terlihat jelas: Argentina yang semula 4-3-3 bertransformasi menjadi 4-2-4 di extra time, sementara Swiss tak punya pilihan selain menggantungkan diri pada serangan balik sporadis.
Jalan ke Semifinal
Dengan kemenangan ini, Argentina melaju ke semifinal dan menjaga peluang mempertahankan gelar juara dunia. Scaloni memuji ketenangan timnya. “Mereka mencoba segalanya, tetapi tim ini tahu bagaimana memenangkan pertandingan dengan cara apa pun. Kami tidak selalu bermain cantik, tetapi kami selalu menemukan jalan,” kata sang pelatih. Bagi Swiss, kekalahan ini tetap terhormat: mereka nyaris menahan juara bertahan dengan 10 pemain. Namun sepak bola tidak mengenal hadiah untuk moralitas, dan Argentina kini tinggal selangkah lagi menuju partai puncak di Piala Dunia 2026.
Comments (0)