Argentina Kembali Tanpa Trofi, Ribuan Suporter Sambut di Ezeiza

Bus berkelir biru-putih yang memboyong skuat Argentina dari Bandara Internasional Ministro Pistarini memasuki kompleks Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) di Ezeiza tepat pukul 11.45 siang, Senin (20/...

Jul 28, 2026 - 04:21
0 0
Argentina Kembali Tanpa Trofi, Ribuan Suporter Sambut di Ezeiza

Bus berkelir biru-putih yang memboyong skuat Argentina dari Bandara Internasional Ministro Pistarini memasuki kompleks Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) di Ezeiza tepat pukul 11.45 siang, Senin (20/7). Cuaca musim dingin Buenos Aires yang cerah seolah menjadi metafora: meski langit biru, suhu dingin menyelimuti hati para pemain. Argentina baru saja mendarat setelah penerbangan 16 jam dari Doha, usai menelan kekalahan 1-3 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 malam sebelumnya. Ribuan suporter yang menanti sejak pukul 5 pagi langsung membanjiri akses masuk dengan nyanyian dan air mata haru.

Perjalanan Panjang Menuju Final Kedua Beruntun

Argentina memulai turnamen dengan status juara bertahan dan langsung menunjukkan taringnya di fase grup: menundukkan China 4-0, menang tipis atas Meksiko 2-1, dan bermain imbang 1-1 melawan Portugal. Di fase gugur, drama demi drama tercipta. Kemenangan adu penalti melawan Belanda di babak 16 besar terasa melelahkan secara mental, dan kemenangan 2-0 atas Brasil di semifinal dipandang sebagai puncak taktik Scaloni. Namun, menghadapi Spanyol di final, segalanya runtuh. Penguasaan bola Argentina hanya 38% sepanjang 90 menit, dengan akurasi operan 78%—jauh di bawah rata-rata tim sebesar 85%. Garis pertahanan tinggi yang diterapkan Scaloni justru menjadi bumerang karena gagal menjebak Lamine Yamal dan Nico Williams yang lincah.

Menit 14, umpan pendek Rodri berhasil dipotong oleh pressing Argentina, tetapi terlalu cepat dikembalikan ke lini tengah. Operan vertikal Pedri memecah pertahanan dan Gavi dengan dingin menaklukkan Emiliano Martinez. Argentina sempat bereaksi. Lionel Messi, yang menjadi starter meski sempat mengalami ketegangan otot betis, meningkatkan intensitas di babak kedua. Satu-satunya gol Argentina lahir dari skema sepak pojok pada menit ke-67: sepakan melengkung Julian Alvarez dari luar kotak penalti mengenai bek Spanyol dan mengecoh Unai Simon. Sayang, euforia hanya bertahan 15 menit. Serangan balik Spanyol yang klinis memaksa Cristian Romero menjatuhkan Yamal di kotak terlarang—wasit langsung menunjuk titik putih, dikonfirmasi VAR. Pedro Gimenez mengeksekusi tenang.

Statistik akhir: Argentina hanya mencatatkan 4 shots on target dari 11 total percobaan, sementara Spanyol melesakkan 8 shots on target dari 15 upaya. Tiga gol di gawang Martinez terjadi dari build-up yang terstruktur, menandai pertama kalinya sang kiper kebobolan tiga gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.

Sambutan Hangat di Tengah Kekecewaan

Bus yang ditumpangi perlahan merayap di antara massa, dan para pemain membuka jendela untuk melambaikan tangan. Di bagian depan bus, Lionel Messi duduk berdampingan dengan Angel Di Maria, yang telah mengumumkan pengunduran diri dari timnas seusai laga final. Keduanya terlihat berbicara pelan, sesekali menyeka sudut mata. "Gracias, Fideo!" teriak seorang bocah laki-laki yang diangkat ayahnya ke bahu. Di Maria, yang turun terlebih dahulu, menyempatkan diri menandatangani beberapa kaus sebelum masuk ke gedung AFA.

Pelatih Lionel Scaloni memberikan sambutan singkat di depan awak media.

"Kami kalah dari lawan yang pantas juara. Spanyol menunjukkan penguasaan bola yang superior dan transisi bertahan yang luar biasa. Tapi saya bangga dengan proses enam bulan terakhir: para pemain berjuang tanpa henti. Sepak bola tidak selalu tentang piala; tentang bagaimana kami mewakili rakyat Argentina."
Scaloni juga menegaskan komitmennya untuk tetap melatih hingga Copa America 2028, meredakan spekulasi pengunduran diri pasca-final.

Keluarga para pemain ikut menyapa pendukung. Antonela Roccuzzo, istri Messi, beserta tiga anak mereka, tampak berjalan bersama kerumunan, disambut sorakan. Pihak AFA menyediakan sesi foto internal dan sarapan bersama di lobi utama sebelum seluruh tim dipersilakan pulang. Kepolisian setempat mencatat kehadiran sekitar 5.000 orang, namun tidak ada laporan kerusuhan. Relawan dari klub-klub lokal justru mengoordinasi pengumpulan sampah sisa kerumunan, menambah kesan humanis di balik euforia.

Masa Depan Albiceleste: Proyek Panjang Menuju 2030

Kekalahan di final memicu diskusi tentang regenerasi. Messi yang kini berusia 39,3 tahun telah menyatakan bahwa ini adalah Piala Dunia terakhirnya. Sebagai kapten, ia mencetak 4 gol dan 5 assist dalam 7 laga, namun data jarak tempuh rata-rata per laga—hanya 8,2 km—menunjukkan bahwa intensitasnya mulai terbatas. Alejandro Garnacho (22), Facundo Buonanotte (21), dan Valentin Carboni (21) adalah aset masa depan yang tampil impresif di sepanjang turnamen, dengan Garnacho mencetak dua gol penting. Namun, lini tengah yang dihuni Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister butuh kedalaman lebih besar. Nico Paz dan Alan Varela muncul sebagai kandidat pendamping.

Lini belakang menjadi pekerjaan rumah utama: Cristian Romero masih mengalami inkonsistensi, dan Nicolas Otamendi (38 tahun) hampir pasti pensiun. Kehadiran Lucas Martínez Quarta dan Marco Pellegrino mesti segera diakselerasi. Sementara itu, posisi penjaga gawang tetap aman di tangan Martinez (33), yang akan menjadi kapten baru pasca-Messi.

Argentina mengakhiri Piala Dunia 2026 sebagai runner-up, menambah rekor dua gelar dan tiga final dalam 15 tahun terakhir. Meski tak membawa pulang trofi, sambutan di Ezeiza membuktikan bahwa ikatan antara tim dan rakyat Argentina tak tergoyahkan. Kini, perhatian beralih ke Copa America 2028 yang akan digelar di Ekuador—sebuah kesempatan baru untuk merajut mimpi lagi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User