Argentina Berpaling dari Selebrasi Spanyol di Final Kontroversial

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol di MetLife Stadium, 19 Juli 2026, tak hanya memutus mimpi Argentina mempertahankan gelar, tetapi juga melahirkan salah satu momen paling panas dalam sejarah final Piala Du...

Jul 27, 2026 - 21:57
0 0
Argentina Berpaling dari Selebrasi Spanyol di Final Kontroversial

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol di MetLife Stadium, 19 Juli 2026, tak hanya memutus mimpi Argentina mempertahankan gelar, tetapi juga melahirkan salah satu momen paling panas dalam sejarah final Piala Dunia. Ketika kapten Spanyol Rodri mengangkat trofi emas, seluruh pemain Argentina—dipimpin Lionel Messi dan Emiliano Martínez—berbalik serempak, membelakangi perayaan La Roja. Adegan yang langsung viral itu kini menemukan penjelasan resmi lewat bek tangguh Lisandro Martinez, yang buka suara setelah kabut kontroversi mulai menipis.

Pertandingan dimulai dalam tensi tinggi. Formasi 4-3-3 yang diterapkan kedua tim menciptakan duel sengit di lini tengah. Spanyol unggul lebih dulu pada menit ke-23 lewat sundulan Álvaro Morata memanfaatkan umpan silang Lamine Yamal, setelah tinjauan VAR selama 140 detik membatalkan klaim offside Argentina. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, dengan penguasaan bola 58% untuk Spanyol dan 3 shots on target berbanding 2 milik Argentina. Namun, kemarahan La Albiceleste meletup setelah apa yang terjadi di babak kedua.

Kronologi Momen yang Memicu Kemarahan

Menit ke-56, Julian Alvarez menyamakan kedudukan melalui skema serangan balik cepat yang diakhiri tembakan rendah kaki kiri, assist dari Enzo Fernández. Skor 1-1 membuat laga seperti akan berlanjut ke perpanjangan waktu. Petaka bagi Argentina datang pada menit ke-78. Nico Williams menusuk dari sisi kiri, mengirim bola ke kotak penalti. Terjadi body check antara Lisandro Martinez dan Dani Olmo saat bola masih di udara. Wasit asal Prancis, François Letexier, yang awalnya melanjutkan permainan, mendadak menghentikan laga setelah sinyal dari asisten video. Setelah peninjauan monitor lapangan, penalti diberikan untuk Spanyol—keputusan yang memicu protes besar-besaran. Sergio Busquets, yang turun sebagai pengganti, dengan dingin mengeksekusi tendangan 12 pas dan membawa Spanyol unggul 2-1. Rekaman sudut berbeda memperlihatkan kontak minimal, namun Letexier menilai handsball Cristian Romero dalam proses sebelumnya. Argentina kehilangan momentum.

Setelah gol tersebut, intensitas permainan meningkat. Argentina mencatatkan 6 shots on target sepanjang laga, tapi Xavi Simons sebagai gelandang bertahan Spanyol tampil luar biasa dengan 4 tekel krusial. Sampai peluit panjang, skor tidak berubah. Statistik akhir: penguasaan bola 52% untuk Spanyol, 48% Argentina; total shots 13-9; operan sukses 487-423. Data xG (expected goals) bahkan menunjukkan angka 1.35 untuk Spanyol dan 1.28 untuk Argentina—mengonfirmasi bahwa duel ini sangatlah ketat dan keputusan penalti menjadi pembeda absolut.

Penjelasan Lisandro Martinez: “Kami Tidak Bisa Menghormati Yang Tidak Adil”

Dalam wawancara eksklusif selepas kembali ke kamp latihan Boca Juniors, Lisandro Martinez—yang tampil sebagai bek kiri dalam starting XI Argentina—akhirnya mengungkap motif di balik pembiaran selebrasi. “Keputusan itu bukan hanya soal penalti. Sejak menit awal, kami merasa ada inkonsistensi. Banyak tekel dari belakang terhadap Messi tidak diganjar kartu, sementara kami langsung dapat kartu kuning untuk pelanggaran pertama. Saat mereka merayakan, kami sudah kehilangan kepercayaan pada keadilan di lapangan,” ujar pemain Manchester United itu dengan ekspresi tegas. Martinez menekankan bahwa aksi membelakangi bukanlah bentuk tidak hormat kepada sepak bola, melainkan pesan tegas kepada badan wasit. “Kami mencintai fans Spanyol, tapi kami tidak bisa berdiri dan bertepuk tangan untuk sesuatu yang kami yakini telah dicuri dari kami,” tambahnya. Ia juga menyinggung momen di mana gelandang Argentina Alexis Mac Allister ditarik bajunya di kotak penalti Spanyol pada menit ke-72 tanpa respons VAR—sebuah inkonsistensi yang menurutnya fatal.

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, dalam konferensi pers pasca-pertandingan, tidak secara langsung mengkritik wasit namun memberikan pernyataan samar:

“Saya pikir dunia menyaksikan apa yang terjadi. Kami selalu diajarkan untuk menerima kekalahan dengan anggun, tapi ada batas ketika transparansi dipertanyakan.”
Sementara itu, pelatih Spanyol Luis de la Fuente menilai reaksi Argentina sebagai bentuk frustrasi kekalahan semata. “Kami mencetak gol sah. VAR sudah bekerja. Saya tidak melihat alasan untuk tidak menghormati selebrasi kami,” tutupnya.

Analisis Taktik dan Dampak Insiden

Di luar kontroversi, final ini menyajikan pertarungan taktik yang memikat. Spanyol dengan false nine Morata dan pergerakan Yamal yang eksplosif berhasil memecah formasi low-block Argentina yang biasanya solid. Messi, yang mencatatkan 3 key passes dan 1 assist, tetap menjadi pusat kreasi, tapi penyelesaian akhir menjadi masalah—kali ini Spanyol lebih klinis. Kartu kuning yang diterima Rodrigo De Paul dan Marcos Acuña di babak pertama memaksa Argentina bermain lebih hati-hati, sementara Spanyol mencatatkan clean sheet kedua di turnamen. Absennya clean sheet di sisi Argentina menunjukkan betapa tekanan konstan La Roja benar-benar mengancam dari semua sektor: sepuluh dari 13 tembakan mereka berasal dari inside box.

Pasca insiden, federasi sepak bola Argentina (AFA) menyatakan akan mengirim surat protes resmi kepada FIFA mengenai penerapan protokol VAR di final. Sementara itu, Lisandro Martinez dan rekan-rekannya telah menjadi simbol perlawanan diam—sebuah gestur yang akan terus dikenang sebagai pernyataan keras soal keadilan dalam sepak bola, melebihi sekadar trofi yang diangkat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User