Antonio Scurati Peringatkan Bahaya Populisme Mussolini terhadap Demokrasi Modern
Penulis ternama asal Italia, Antonio Scurati, kembali melontarkan peringatan keras mengenai kerentanan tatanan demokrasi modern seiring dengan peluncuran v
Penulis ternama asal Italia, Antonio Scurati, kembali melontarkan peringatan keras mengenai kerentanan tatanan demokrasi modern seiring dengan peluncuran volume kelima sekaligus penutup dari seri novel biografi monumentalnya, M. Scurati menegaskan bahwa diktator fasis Italia, Benito Mussolini, bukan sekadar anomali sejarah masa lalu, melainkan arketipe utama dari populisme kontemporer yang teknik politiknya masih kerap direplikasi oleh para pemimpin masa kini.
Melalui riset arsip yang mendalam selama bertahun-tahun, Scurati membedah bagaimana fasisme pertama kali lahir bukan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai gerakan oportunis yang memanfaatkan kecemasan massa, kebencian sosial, dan ketidakpercayaan terhadap institusi tradisional.
"Mussolini adalah arketipe sejati seorang populis. Demokrasi bukanlah kondisi alamiah yang bertahan dengan sendirinya; ia menuntut komitmen aktif dari warga untuk membelanya, atau ia akan binasa," tegas Antonio Scurati dalam ulasannya.
Kronologi Transformasi Fasisme dan Rekayasa Politik Mussolini
Dalam karya pentaloginya, Scurati menyusun rekonstruksi kronologis bagaimana Mussolini mengubah lanskap politik Eropa dari awal abad ke-20 hingga keruntuhannya:
- 1919 (Kelahiran Gerakan): Pembentukan Fasci Italiani di Combattimento di Milan, menandai awal pemanfaatan rasa frustrasi pasca-Perang Dunia I dan sentimen anti-kemapanan.
- 1922 (Pawai Menuju Roma / Marcia su Roma): Tekanan massa bersenjata yang berhasil memaksa monarki menyerahkan mandat kekuasaan, sebuah taktik intimidasi politik terbuka.
- 1925 (Konsolidasi Diktator): Pembongkaran sistematis lembaga-lembaga demokrasi, penutupan pers independen, dan eliminasi oposisi politik.
- 1938–1945 (Aliansi Otoriter dan Kejatuhan): Adopsi undang-undang rasial, aliansi fatal dengan rezim Nazi Jerman, hingga kehancuran total fasisme di medan perang.
Anatomi Arketipe Populis Menurut Scurati
Secara analitis, Scurati menyoroti kesamaan pola antara strategi politik Mussolini pada dekade 1920-an dengan taktik para demagog populis abad ke-21. Karakteristik utama yang dibangun meliputi:
- Eksploitasi Emosi Ketimbang Rasio: Membangun narasi politik berbasis ketakutan, viktimisasi, dan kebangkitan identitas nasional yang semu.
- Retorika Anti-Elite dan Delegitimasi Lembaga: Meruntuhkan kepercayaan publik terhadap pers bebas, sistem peradilan, dan parlemen dengan menuduh mereka sebagai musuh rakyat.
- Personalisasi Kekuasaan: Memosisikan figur pemimpin sebagai satu-satunya representasi sah dari "kehendak rakyat murni" tanpa memerlukan perantara hukum atau institusi formal.
Peringatan bagi Ketahanan Demokrasi Abad ke-21
Bagi Scurati, penyelesaian volume kelima seri M bukan sekadar perayaan literatur sejarah, melainkan instrumen refleksi kritis bagi masyarakat global. Kemunduran demokrasi yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini menunjukkan bahwa ilusi fasisme dan godaan otorianisme populis tetap hidup.
Ia menekankan bahwa bahaya terbesar bagi kebebasan sipil bukanlah agresi dari luar, melainkan sikap pasif, apatisme, dan rasa puas diri dari masyarakat demokratis yang menganggap hak-hak politik mereka tidak akan pernah terancam. Tanpa adanya kewaspadaan sipil dan partisipasi aktif, sejarah mencatat bahwa sistem demokrasi dapat dihancurkan dari dalam melalui mekanisme legal yang disediakan oleh demokrasi itu sendiri.
Comments (0)