Alex Lanier Juara Tunggal Putra Prancis Pertama di Kejuaraan Dunia BWF

Skor akhir: 21-18, 19-21, 21-15. Tiga gim, 84 menit, dan satu lembar sejarah baru. Alex Lanier menjatuhkan raketnya, berlutut di tengah lapangan, lalu menatap tribun yang bergemuruh. Pada malam final ...

Aug 24, 2026 - 16:26
0 0
Alex Lanier Juara Tunggal Putra Prancis Pertama di Kejuaraan Dunia BWF

Skor akhir: 21-18, 19-21, 21-15. Tiga gim, 84 menit, dan satu lembar sejarah baru. Alex Lanier menjatuhkan raketnya, berlutut di tengah lapangan, lalu menatap tribun yang bergemuruh. Pada malam final Kejuaraan Dunia BWF itu, tunggal putra berusia 20 tahun asal Prancis itu resmi menjadi juara dunia pertama dari negaranya. Bukan sekadar gelar — ini adalah titik balik bulu tangkis Prancis yang selama puluhan tahun hanya menjadi penonton di panggung teratas.

Duel Tiga Gim yang Menegangkan

Final berjalan seperti roller coaster. Di gim pertama, Lanier tampil agresif sejak menit-menit awal. Pola serangan drive silang yang ia andalkan membuat lawan kesulitan keluar dari tekanan. Penguasaan lapangan terlihat jelas: Lanier memenangi 70 persen poin dari rally panjang, sementara pukulan drop shot-nya tercatat menghasilkan 12 poin langsung dari kesalahan posisi lawan.

Gim kedua berubah total. Lawan menaikkan tempo dan memperpendek rally dengan netting ketat. Strategi itu berhasil: Lanier kehilangan ritme, melakukan 9 unforced error beruntun di tengah gim, dan harus menyerahkan gim kedua dengan skor 19-21. Momen itu sempat membuat pendukung tuan rumah tegang, tetapi sang pemain justru tampak tenang di interval.

Gim penentu menjadi pentas pembuktian. Lanier kembali ke pola yang sama: kontrol net, serangan silang, dan kesabaran. Di menit ke-71 pertandingan, ia melepaskan smash silang 289 km/jam — smash tercepat malam itu — yang langsung disambut sorak sorai. Skor 21-15 menutup laga sekaligus mengunci gelar. Total, Lanier mencatat 34 winner di gim penentu, berbanding 18 milik lawan.

Kata-kata Lanier: "Ini untuk Semua Orang Prancis"

Usai laga, Lanier tak mampu menyembunyikan emosinya. "Saya tidak bisa menjelaskan perasaan ini," ujarnya di hadapan media. "Saya tumbuh menonton turnamen ini dari sofa di rumah. Sekarang saya berdiri di sini sebagai juara dunia. Ini gila."

"Prancis menunggu puluhan tahun untuk momen ini. Saya hanya ingin menjadi orang pertama yang membuka pintunya," kata Lanier, yang juga menyampaikan terima kasih kepada pelatih dan tim pendukungnya.

Lanier juga menegaskan bahwa gelar ini bukan titik akhir. "Ini awal. Saya masih 20 tahun, dan saya ingin generasi berikutnya percaya bahwa pemain Prancis bisa bersaing di level tertinggi." Kalimat itu langsung menjadi headline di berbagai media olahraga Prancis, termasuk L'Équipe yang menyebutnya "anak emas" bulu tangkis Eropa.

Sejarah Baru Bulu Tangkis Prancis

Gelar ini memecahkan rekor yang sudah berdiri sejak era awal Kejuaraan Dunia BWF. Sebelum Lanier, belum pernah ada tunggal putra Prancis yang menembus partai puncak. Pencapaian terbaik sebelumnya hanyalah babak semifinal — pun itu sudah dianggap luar biasa. Kini, nama Lanier berada satu baris dengan para legenda tunggal putra dunia.

Jalan menuju gelar tidak mudah. Sepanjang turnamen, Lanier melewati lima pertandingan, dua di antaranya harus berakhir dalam tiga gim. Ia hanya kehilangan satu gim sebelum final, dan catatan clean sheet di babak perempat final serta semifinal menunjukkan konsistensinya. Dari sisi statistik, pemain bertinggi 191 cm itu mencatat rata-rata 11 smash winner per gim dan persentase keberhasilan netting di atas 78 persen.

Bagi Federasi Bulu Tangkis Prancis, hasil ini adalah buah dari investasi panjang. Program pembinaan usia muda yang digalakkan satu dekade terakhir mulai menunjukkan hasil nyata. Pelatih kepala tim Prancis pun tak segan memuji anak asuhnya.

"Dia bekerja seperti atlet profesional selama lima tahun terakhir. Makan, latihan, pemulihan — semuanya dihitung. Gelar ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses," ujar sang pelatih.

Dampak untuk Bulu Tangkis Eropa

Kemenangan Lanier juga memberi angin segar bagi bulu tangkis Eropa yang selama ini didominasi Asia. Ia menjadi juara dunia tunggal putra pertama dari Eropa dalam beberapa edisi terakhir — prestasi yang mengingatkan publik pada era kejayaan Viktor Axelsen. Bedanya, Lanier masih sangat muda dan potensinya diyakini belum mencapai puncak.

Dengan gelar ini, peringkat dunia Lanier dipastikan meroket dan ia akan menjadi unggulan di berbagai turnamen musim depan. Tekanan kini berpindah ke pundaknya: setiap lawan akan datang dengan target menjatuhkan sang juara dunia. Namun jika malam final itu menjadi ukuran, Lanier bukan tipe pemain yang gentar.

Skor akhir 21-18, 19-21, 21-15 akan tercatat selamanya dalam sejarah. Satu malam, satu nama, dan satu era baru bulu tangkis Prancis. Alex Lanier bukan lagi sekadar harapan — ia adalah juara dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User