Aguero dan Momen Ikonik Gelar Premier League 2012 Man City

Etihad Stadium meledak. Menit ke-90+4, Sergio Aguero melepaskan tendangan rendah ke sudut kanan gawang Queens Park Rangers. Skor akhir 3-2 untuk Manchester City. Dalam sekejap, stadion berubah menjadi...

Oct 08, 2026 - 11:02
0 0
Aguero dan Momen Ikonik Gelar Premier League 2012 Man City

Etihad Stadium meledak. Menit ke-90+4, Sergio Aguero melepaskan tendangan rendah ke sudut kanan gawang Queens Park Rangers. Skor akhir 3-2 untuk Manchester City. Dalam sekejap, stadion berubah menjadi lautan biru yang bergemuruh, sementara bangku cadangan City kosong karena semua orang melompat ke lapangan. Gol itu bukan sekadar kemenangan biasa—ia mengunci gelar Premier League 2012, trofi liga pertama City dalam 44 tahun.

Pertandingan penutup musim 2011/12 itu memang berjalan di luar nalar. City memimpin lebih dulu lewat Pablo Zabaleta pada menit ke-39. Penguasaan bola City sepanjang babak pertama mencapai 68 persen, dengan sembilan shots on target dari total 15 percobaan. Formasi 4-2-3-1 yang dipasang Roberto Mancini mengandalkan Aguero sebagai ujung tombak tunggal, disokong David Silva dan Samir Nasri di kedua sayap. Tapi QPR, yang berjuang lepas dari degradasi, tak mau jadi penonton.

Babak Kedua yang Berjalan di Luar Skrip

Menit ke-48, Djibril Cisse menyamakan kedudukan lewat serangan balik cepat. City kembali unggul pada menit ke-66 melalui kepala Edin Dzeko yang masuk sebagai pengganti. Namun drama belum selesai. Bek QPR, Jamie Mackie, mencetak gol pada menit ke-66—beberapa catatan menempatkannya di menit ke-66 hingga 68—membuat skor 2-2. Yang lebih pahit, Joey Barton menerima kartu merah pada menit ke-55 setelah terlibat insiden dengan Carlos Tevez. Bermain dengan sepuluh pemain, QPR justru tampil bertahan rapat dan sempat merepotkan lini belakang City yang digalang Vincent Kompany dan Joleon Lescott.

Di sisi lain, Manchester United sementara unggul 1-0 atas Sunderland lewat gol Wayne Rooney. Artinya, City butuh gol tambahan untuk merebut gelar dari rival sekota. Statistik menunjukkan City mencatat 23 shots sepanjang laga, dengan 11 di antaranya tepat sasaran. Tekanan demi tekanan dilancarkan, tapi kiper QPR, Paddy Kenny, tampil gemilang dengan sejumlah penyelamatan penting.

Menit ke-93: Aguero Menulis Sejarah

Ketika waktu tambahan lima menit diumumkan, harapan mulai menipis. Namun pada menit ke-93, Aguero menerima bola dari Mario Balotelli di tepi kotak penalti. Dengan keseimbangan tubuh luar biasa, ia melewati satu pemain bertahan dan melepaskan tembakan keras yang tak mampu dijangkau Kenny. Gol itu membuat skor menjadi 3-2, sekaligus memastikan City mengumpulkan 89 poin, sama dengan United, tapi unggul selisih gol +64 berbanding +56.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya hanya menendang bola dan berdoa," ujar Aguero usai laga, dikutip dari wawancara pascapertandingan. "Momen ini untuk semua orang di Manchester City."

Musim itu sendiri menjadi musim terbaik Aguero bersama City. Striker asal Argentina tersebut mencatat 23 gol dan 10 assist di Premier League, menjadikannya top skor kedua klub setelah Dzeko. Kombinasinya dengan Silva menjadi salah satu duet paling produktif di liga, dengan 47 peluang tercipta dari kerja sama keduanya sepanjang musim.

Dampak Jangka Panjang dan Warisan Gelar

Gelar 2012 bukan hanya trofi. Ia menandai titik balik proyek jangka panjang City di bawah pemilik dari Abu Dhabi. Sejak saat itu, City menjelma menjadi kekuatan dominan di Inggris, meski baru kembali juara pada 2014. Momen Aguero menjadi salah satu gol paling ikonik dalam sejarah Premier League, sering disebut sebagai "93:20"—merujuk pada menit dan detik terjadinya gol.

Bagi QPR, kekalahan itu tetap menyelamatkan mereka dari degradasi berkat hasil lain yang menguntungkan. Namun sorotan tetap tertuju pada City dan Aguero. Kombinasi tekanan, taktik, dan ketenangan di menit-menit akhir menjadi pelajaran bahwa dalam sepak bola, pertandingan tidak selesai sampai peluit panjang berbunyi.

Sepuluh tahun kemudian, gol itu masih diputar ulang di berbagai kanal highlight. Bagi fans City, Aguero bukan sekadar striker—ia adalah simbol kebangkitan. Dan bagi Premier League, laga 13 Mei 2012 itu menjadi salah satu final hari terakhir paling dramatis yang pernah tercatat dalam buku sejarah kompetisi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User