Menit ke-93 lewat 20 detik. Etihad Stadium bergemuruh. Sergio Aguero, striker asal Argentina itu, melepaskan tendangan kaki kiri dari dalam kotak penalti yang menghujam gawang Queens Park Rangers. Skor akhir 3-2 untuk Manchester City. Sebuah gol yang tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga mengunci gelar Premier League 2012 — trofi liga pertama City dalam 44 tahun.
Pertandingan yang berlangsung pada 13 Mei 2012 itu menjadi salah satu laga paling dramatis dalam sejarah sepak bola Inggris. City tampil dominan sejak awal dengan penguasaan bola mencapai 68 persen dan 19 shots on target dari total 24 percobaan. Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Roberto Mancini menempatkan Aguero sebagai ujung tombak tunggal, didukung David Silva, Samir Nasri, dan Yaya Toure di lini tengah.
Jalannya Pertandingan: Dua Kali Tertinggal, Satu Kali Bangkit
Menit ke-39, Pablo Zabaleta membuka keunggulan City setelah menerima assist dari David Silva. Tendangan kaki kanannya dari sudut sempit menembus gawang Paddy Kenny. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Babak kedua berjalan penuh drama. Menit ke-48, Djibril Cisse menyamakan kedudukan memanfaatkan kelengahan lini belakang City. Skor 1-1. Menit ke-66, Jamie Mackie mencetak gol kedua QPR setelah memenangkan duel udara dengan Joleon Lescott. City tertinggal 1-2 di kandang sendiri.
Mancini merespons dengan memasukkan Edin Dzeko dan Mario Balotelli. Menit ke-92, Dzeko menyundul bola hasil tendangan sudut Silva. Skor 2-2. Hanya berselang 90 detik, Aguero mencetak gol kemenangan yang membuat City mengumpulkan 89 poin, sama dengan Manchester United, tetapi unggul selisih gol +64 berbanding +56.
Statistik Kunci dan Peran Aguero
Aguero mencatatkan 23 gol di Premier League 2011-2012, menjadikannya top skor kedua klub setelah Dzeko. Dalam laga kontra QPR, ia melepaskan 6 shots on target, menciptakan 3 peluang emas, dan memenangkan 7 duel darat. Kontribusinya tidak hanya sebagai finisher, tetapi juga sebagai penghubung antara lini tengah dan sayap.
David Silva menjadi arsitek permainan dengan 2 assist dan akurasi umpan mencapai 91 persen. Yaya Toure mengontrol tempo dengan 112 sentuhan bola sepanjang pertandingan. Sementara itu, QPR yang berjuang menghindari degradasi tampil disiplin dengan formasi 4-4-2, meski harus mengakui keunggulan City di babak akhir.
"Kami tidak pernah menyerah. Para pemain menunjukkan karakter juara. Gol Sergio akan dikenang selamanya," ujar Roberto Mancini dalam konferensi pers usai laga.
Dampak dan Warisan 93:20
Kemenangan ini mengakhiri dominasi Manchester United yang dilatih Sir Alex Ferguson. City meraih gelar Premier League pertama sejak 1968 dan menjadi fondasi era keemasan klub di bawah kepemilikan Abu Dhabi United Group. Momen 93:20 kemudian dicetak dalam sejarah sebagai salah satu gol paling ikonik, sering disebut sebagai "Agueroooo" oleh komentator Martin Tyler.
Bagi QPR, kekalahan ini tidak menghalangi mereka bertahan di Premier League musim berikutnya. Namun, bagi City, laga ini menjadi titik balik mentalitas. Dua musim berikutnya, City kembali juara pada 2014 dengan skor akhir 86 poin. Aguero tetap menjadi andalan dengan total 26 gol di musim 2013-2014.
Hingga kini, laga City vs QPR 2012 dianggap sebagai salah satu penentu gelar paling dramatis dalam sejarah Premier League, bersanding dengan momen Michael Thomas pada 1989 dan Sergio Aguero pada 2012. Statistik mencatat: 3 gol, 2 comeback, dan 1 trofi yang lahir dari detik-detik terakhir. Sebuah bukti bahwa dalam sepak bola, pertandingan tidak berakhir sampai wasit meniup peluit panjang.
Comments (0)