Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Inggris di Olympiastadion, Berlin, Jerman, pada laga final Euro 2024, Senin dini hari WIB (15/7/2024). La Roja memastikan gelar keempat sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di putaran final Euro, sebuah koleksi yang mengukuhkan posisi mereka sebagai tim tersukses di kompetisi benua Eropa tersebut, melewati Jerman yang mengoleksi tiga trofi.
Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi sejak menit awal. Inggris, yang mengusung formasi 4-2-3-1, mencoba menekan lini tengah Spanyol dengan pressing tinggi. Namun, Spanyol yang tampil memakai skema 4-3-3 justru lebih efektif menguasai bola. Statistik menunjukkan penguasaan bola Spanyol mencapai 58 persen berbanding 42 persen milik Inggris. Spanyol juga mencatatkan 6 shots on target dari total 14 percobaan, sedangkan Inggris hanya 3 shots on target dari 9 tendangan.
Jalannya Babak Pertama: Spanyol Lebih Efisien
Menit ke-12, Lamine Yamal nyaris membuka keunggulan lewat tendangan kaki kiri dari luar kotak penalti. Bola masih melebar tipis di sisi kanan gawang Jordan Pickford. Yamal, yang baru berusia 17 tahun, tampil sebagai starter termuda di final Euro, mencatatkan 4 dribel sukses dan 1 assist sepanjang laga.
Menit ke-23, giliran Nico Williams melepaskan tendangan mendatar dari sisi kiri. Pickford masih sigap menepis bola. Tekanan Spanyol akhirnya berbuah pada menit ke-47 lewat gol pembuka. Nico Williams menerima umpan terukur dari Yamal, lalu melepaskan tendangan kaki kiri yang tidak mampu dijangkau Pickford. Skor berubah 1-0 untuk Spanyol. Gol itu tercatat sebagai gol tercepat kedua di babak kedua final Euro sejak 2004.
Inggris merespons melalui skema 4-2-3-1 yang berubah menjadi 4-3-3 saat menguasai bola. Menit ke-53, Jude Bellingham melepaskan tendangan voli dari dalam kotak penalti, namun bola masih membentur tiang gawang. Peluang emas itu menjadi sinyal kebangkitan The Three Lions.
Momen Kunci dan Drama Menit Akhir
Menit ke-73, Inggris akhirnya menyamakan kedudukan. Cole Palmer, yang masuk sebagai pemain pengganti, melepaskan tendangan kaki kiri dari luar kotak penalti setelah menerima umpan dari Bellingham. Bola meluncur deras ke sudut kiri gawang Unai Simon. Skor menjadi 1-1. Statistik mencatat Palmer hanya membutuhkan 3 menit sejak masuk untuk mencetak gol.
Namun, Spanyol tidak tinggal diam. Menit ke-86, Mikel Oyarzabal menjadi pahlawan. Berawal dari skema serangan cepat, Dani Olmo melepaskan umpan silang mendatar yang disambut Oyarzabal dengan tendangan kaki kiri dari jarak dekat. Bola masuk ke gawang Pickford. Skor berubah 2-1 untuk Spanyol. Oyarzabal masuk sebagai pengganti pada menit ke-68 dan hanya membutuhkan 18 menit untuk mencetak gol kemenangan.
Wasit menambahkan 5 menit waktu tambahan. Inggris berusaha keras menyamakan kedudukan. Menit ke-90+2, Harry Kane melepaskan tendangan kepala dari dalam kotak penalti, tetapi bola masih melebar. Hingga peluit panjang berbunyi, skor tetap 2-1. Spanyol keluar sebagai juara.
Statistik dan Kutipan Pelatih
Sepanjang turnamen, Spanyol mencatatkan 7 kemenangan dari 7 pertandingan, mencetak 15 gol dan hanya kebobolan 4 gol. Mereka juga mencatatkan 3 clean sheet. Ini menjadi gelar Euro keempat bagi Spanyol setelah 1964, 2008, dan 2012. Inggris harus puas menjadi runner-up untuk kedua kalinya secara beruntun setelah Euro 2020.
"Kami bermain dengan identitas kami. Penguasaan bola dan pressing tinggi adalah kunci. Para pemain muda seperti Yamal dan Williams menunjukkan kualitas luar biasa," ujar pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, dalam konferensi pers usai laga.
Sementara itu, pelatih Inggris, Gareth Southgate, mengakui keunggulan lawan. "Kami kehilangan momentum di menit-menit akhir. Spanyol lebih efektif dalam memanfaatkan peluang," katanya.
Kartu kuning tercatat untuk 3 pemain Inggris dan 2 pemain Spanyol. Tidak ada kartu merah dalam laga ini. Teknologi VAR juga digunakan untuk memeriksa satu potensi offside pada gol pertama Spanyol, namun keputusan wasit tetap sah.
Dengan hasil ini, Spanyol menegaskan dominasi mereka di sepak bola Eropa. Gelar keempat ini menjadi bukti regenerasi yang berjalan mulus, memadukan pemain senior seperti Oyarzabal dan Rodri dengan talenta muda seperti Yamal dan Williams. Inggris harus menunggu kesempatan berikutnya untuk mengakhiri puasa gelar besar sejak Piala Dunia 1966.
Comments (0)