Zulhas Tegaskan Masyarakat Sekitar Hutan Harus Jadi Penerima Utama Manfaat Ekonomi Karbon
Implementasi pasar karbon di Indonesia memasuki babak baru yang lebih konkret. Langkah ini ditandai dengan diserahkannya Persetujuan Menteri Kehutanan untuk proyek perdagangan karbon serta diresmikan
Implementasi pasar karbon di Indonesia memasuki babak baru yang lebih konkret. Langkah ini ditandai dengan diserahkannya Persetujuan Menteri Kehutanan untuk proyek perdagangan karbon serta diresmikannya Indonesia Forestry Carbon Hub, sebuah platform yang akan menjadi pusat aktivitas perdagangan karbon berbasis sektor kehutanan di Tanah Air.
Menteri Koordinator Bidang Pangan yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa arah utama dari perdagangan karbon bukan sekadar mengejar nilai transaksi yang fantastis. Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya memastikan bahwa manfaat ekonomi dari mekanisme ini benar-benar sampai kepada masyarakat yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan.
"Masyarakat di sekitar hutan harus menjadi pihak yang pertama merasakan manfaat ekonomi karbon. Mereka menjaga hutan, maka mereka juga harus memperoleh nilai tambah dari kelestarian hutan tersebut. Pasar karbon harus menjadi instrumen yang menghadirkan kesejahteraan sekaligus menjaga hutan Indonesia tetap lestari,"
Pernyataan tersebut disampaikan Zulkifli Hasan dalam keterangan tertulis pada Selasa (7/7/2026). Ia menekankan bahwa masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan memiliki peran krusial dalam menjaga ekosistem. Oleh karena itu, sudah sepatutnya mereka mendapatkan kompensasi dan insentif ekonomi dari upaya konservasi yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Pemerintah memandang bahwa perdagangan karbon bukan hanya sekadar instrumen pasar, melainkan juga alat transformasi sosial dan ekonomi yang dapat mengangkat taraf hidup masyarakat di wilayah pedesaan dan kawasan hutan. Dengan adanya skema nilai ekonomi karbon, masyarakat adat dan komunitas lokal diharapkan dapat memperoleh sumber pendapatan baru yang berkelanjutan, tanpa harus mengorbankan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Peresmian Indonesia Forestry Carbon Hub menjadi tonggak penting dalam ekosistem perdagangan karbon nasional. Platform ini dirancang untuk memfasilitasi transaksi karbon yang transparan dan akuntabel, sekaligus memastikan bahwa proyek-proyek karbon yang berjalan memenuhi standar internasional. Keberadaan hub ini juga diharapkan mampu menarik minat investor global yang semakin peduli terhadap isu perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.
Langkah Indonesia dalam mengembangkan pasar karbon ini sejalan dengan komitmen nasional untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai dengan target Nationally Determined Contributions (NDC). Dengan luas hutan tropis yang signifikan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain kunci dalam pasar karbon global. Namun, pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses harus berjalan dengan prinsip keadilan dan keberpihakan kepada rakyat, terutama mereka yang tinggal di sekitar hutan.
Beritainti.com melaporkan, dengan diresmikannya berbagai instrumen pendukung ini, Indonesia kini semakin siap untuk mengoptimalkan potensi ekonomi karbon sekaligus menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
Comments (0)