Wamenaker Dorong Kompetensi Teknisi Diikuti Kesempatan Berkompetisi

Peningkatan keterampilan teknis di kalangan tenaga kerja Indonesia dinilai tidak cukup hanya berhenti pada ruang pelatihan. Wakil Menteri Ketenagakerjaan (

Sep 28, 2026 - 15:45
0 0
Wamenaker Dorong Kompetensi Teknisi Diikuti Kesempatan Berkompetisi

Peningkatan keterampilan teknis di kalangan tenaga kerja Indonesia dinilai tidak cukup hanya berhenti pada ruang pelatihan. Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa penguatan kompetensi teknisi harus berjalan seiring dengan terbukanya ruang untuk menguji kemampuan itu di arena kompetisi yang sesungguhnya. Pernyataan tersebut mencuat sebagai respons atas kebutuhan industri yang semakin menuntut sumber daya manusia (SDM) vokasional dengan daya saing tinggi, bukan sekadar pemegang sertifikat.

Menurut Afriansyah, kompetensi yang matang tanpa diikuti kesempatan berkompetisi berpotensi kehilangan relevansi. Ia menyebut ajang kompetisi sebagai instrumen penting untuk mengukur sejauh mana hasil pelatihan mampu menjawab standar dunia kerja yang terus bergerak. Dalam pandangannya, teknisi yang terbiasa diuji dalam tekanan dan standar ketat akan lebih siap menghadapi tuntutan sektor industri, termasuk otomasi dan transformasi digital yang berlangsung cepat.

Kompetisi Sebagai Tolok Ukur Keseriusan Pembinaan

Pemerintah, lanjut Wamenaker, memandang kompetisi bukan semata ajang mencari juara. Ia lebih merupakan tolok ukur keseriusan pembinaan yang dijalankan oleh balai latihan kerja, lembaga pelatihan, hingga dunia usaha. Melalui kompetisi, celah antara kurikulum pelatihan dan kebutuhan riil perusahaan dapat dipetakan secara lebih jujur, sehingga perbaikan bisa dilakukan tepat sasaran.

"Peningkatan kompetensi teknisi perlu diikuti kesempatan berkompetisi. Tanpa itu, kita sulit mengetahui apakah standar yang kita bangun benar-benar relevan dengan kebutuhan industri," ujar Afriansyah Noor.

Ia menambahkan bahwa negara-negara dengan ekosistem vokasi kuat menjadikan kompetisi keterampilan sebagai bagian tetap dari siklus pembinaan. Teknisi tidak hanya dilatih, tetapi juga dipertemukan dengan rekan seprofesi dari berbagai daerah untuk menguji ketangguhan, ketelitian, dan kecepatan kerja. dari proses itu lahir standar baru yang menular ke dunia industri.

Relevansi dengan Kebutuhan Industri Modern

Di sisi lain, pelaku industri mengakui bahwa kesenjangan keterampilan masih menjadi persoalan klasik. Banyak lulusan vokasi menguasai teori, tetapi belum teruji dalam praktik berskala industri. Karena itu, kehadiran kompetisi dianggap jembatan yang mampu mempercepat proses pematangan teknisi muda, terutama pada bidang kelistrikan, pengelasan, mekatronika, dan teknologi informasi.

  • Pembinaan berkelanjutan — kompetensi wajib diperbarui seiring perkembangan teknologi.
  • Standar industri — kompetisi mendorong penyeragaman kualitas di berbagai daerah.
  • Pengakuan profesi — teknisi bersertifikat lebih mudah dipercaya pasar kerja.
  • Daya saing nasional — SDM terampil menjadi penentu investasi masuk.

Afriansyah juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas pihak, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, asosiasi profesi, hingga perusahaan. Ia menilai pembinaan yang terfragmentasi membuat hasil pelatihan tidak maksimal. Sebaliknya, sinergi memungkinkan adanya peta jalan kompetensi yang jelas, termasuk jalur karier teknisi dari level dasar hingga ahli.

Bukan Sekadar Sertifikat, tapi Daya Saing Nyata

Dalam jangka panjang, kebijakan penguatan vokasi akan diuji oleh kemampuan menciptakan lapangan kerja yang sepadan. Jika kompetensi naik tetapi kesempatan kerja tidak tersedia, maka peningkatan keterampilan hanya menghasilkan tenaga terlatih yang menganggur. Karena itu, dimensi kesempatan menjadi kata kunci yang tak bisa diabaikan dalam setiap strategi ketenagakerjaan.

Wamenaker menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong penguatan ekosistem vokasi agar setiap rupiah yang dialokasikan untuk pelatihan berbuah pada produktivitas dan daya saing bangsa. Dengan begitu, teknisi Indonesia tidak hanya mampu bersaing di dalam negeri, tetapi juga di pasar kerja global yang semakin terbuka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User