Viral Kue dengan Topping Mirip Rambut Kemaluan, Ternyata Pakai Bahan Ini
Fenomena kuliner unik kembali mengguncang jagat media sosial. Kali ini, bukan cita rasa yang menjadi pusat perhatian, melainkan penampilan ekstrem dari sebuah kue yang kini viral di Thailand. Berbaga
Fenomena kuliner unik kembali mengguncang jagat media sosial. Kali ini, bukan cita rasa yang menjadi pusat perhatian, melainkan penampilan ekstrem dari sebuah kue yang kini viral di Thailand. Berbagai kreasi pastry seperti croissant, kue tart, hingga roti biasa disajikan dengan topping serat-serat hitam halus yang sekilas tampak seperti rambut kemaluan. Tren ini langsung memicu reaksi keras dan perbincangan hangat di kalangan netizen Indonesia.
Pastry yang dijuluki "Croissant Pattaya" itu belakangan membanjiri linimasa TikTok dan Instagram. Dalam video-video yang beredar, tampak adonan kue yang sudah matang dihias dengan helaian panjang, tipis, dan berwarna hitam pekat. Sebagian penjual bahkan menyusun helaian tersebut menyerupai gaya rambut manusia, menambah kesan janggal di mata pembeli. Banyak yang mengira bahan tersebut berasal dari olahan rumput laut, cokelat leleh, atau gula yang dibentuk khusus. Namun, faktanya jauh lebih sederhana.
"Ini sebenarnya hanyalah adonan kue yang dipipihkan sangat tipis dan dipotong menyerupai benang halus," ungkap salah satu kreator konten makanan dalam unggahannya yang dikutip laporan media kami.
Berdasarkan penelusuran Beritainti.com, bahan dasar topping kontroversial itu ternyata berasal dari tepung terigu dan bubuk arang bambu aktif (activated charcoal). Campuran tersebut diuleni, dipipihkan hingga setipis mungkin, lalu diiris memanjang menggunakan alat khusus. Proses ini menghasilkan serat-serat elastis yang bisa menempel di permukaan kue. Arang bambu yang dicampurkan tidak hanya memberi warna hitam alami, tetapi juga dipercaya memberikan sedikit sensasi renyah saat digigit.
Meskipun bahan bakunya lumrah dan aman dikonsumsi, tampilan visual yang mencolok itu tetap menimbulkan kontroversi. Sejumlah netizen menyebut bahwa makanan adalah soal selera dan estetika yang bisa diinterpretasikan secara bebas. Sebagian lain menilai tren ini sengaja diciptakan demi mengundang kehebohan dan meningkatkan jumlah tayangan (views) konten. Namun, tidak sedikit pula yang justru penasaran dan mengaku ingin mencobanya langsung.
Di Thailand sendiri, "Croissant Pattaya" sudah dijual di berbagai kafe dan toko roti modern dengan kisaran harga cukup terjangkau. Beberapa variasi bahkan menambahkan topping matcha (serat hijau) atau stroberi (serat merah muda) untuk mengurangi kesan "seram". Namun, versi hitam pekat tetap menjadi ikon yang paling banyak dipesan karena keunikannya.
Fenomena ini menunjukkan betapa dinamisnya dunia kuliner di era media sosial, di mana kejutan visual menjadi kunci untuk meraih popularitas instan. Adapun Anda yang penasaran dengan rasanya, pastikan dulu bahwa topping yang digunakan benar-benar berasal dari bahan aman seperti tepung atau cokelat, bukan bahan sintetis yang tidak layak konsumsi. Beritainti.com akan terus memantau perkembangan tren kuliner ekstrem ini.
Comments (0)