Vinicius Junior Bersinar di Laga Real Madrid vs Benfica
Skor akhir 3-1 menjadi bukti dominasi Real Madrid atas SL Benfica dalam lanjutan fase grup Liga Champions, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. Namun, sorotan utama laga ini tertuju pada aksi brilian Vinic...
Skor akhir 3-1 menjadi bukti dominasi Real Madrid atas SL Benfica dalam lanjutan fase grup Liga Champions, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. Namun, sorotan utama laga ini tertuju pada aksi brilian Vinicius Junior yang tampil sebagai pembeda di Estadio da Luz. Dengan formasi 4-3-3 yang diusung Carlo Ancelotti, Vinicius tidak hanya mencetak satu gol, tetapi juga menjadi motor serangan yang merepotkan lini pertahanan Benfica sepanjang 90 menit.
Babak Pertama: Vinicius Junior Membuka Keran Gol
Sejak menit awal, Real Madrid langsung mengambil inisiatif serangan. Menit ke-12, Vinicius Junior menerima umpan terobosan dari Jude Bellingham di sisi kiri. Dengan kecepatan eksplosif, ia melewati bek kanan Benfica, Alexander Bah, sebelum melepaskan tendangan keras ke tiang dekat yang tak mampu dijangkau kiper Anatoliy Trubin. Gol ini tercatat sebagai gol ke-8 Vinicius di Liga Champions musim ini, menegaskan ketajamannya di kompetisi elite Eropa.
Statistik penguasaan bola pada babak pertama menunjukkan Real Madrid unggul 58% berbanding 42%. Los Blancos melepaskan 9 tembakan dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang (shots on target). Benfica, yang tampil dengan formasi 4-2-3-1, mencoba keluar dari tekanan melalui serangan balik cepat. Namun, lini tengah Real Madrid yang digalang Eduardo Camavinga dan Federico Valverde mampu memutus distribusi bola lawan.
Menit ke-34, Vinicius kembali menunjukkan kelasnya. Ia melakukan dribel melewati tiga pemain Benfica di kotak penalti sebelum memberikan assist kepada Rodrygo. Sayangnya, tendangan Rodrygo masih membentur tiang gawang. Meski gagal menjadi gol, aksi individu Vinicius tersebut mendapat tepuk tangan dari publik tuan rumah yang sportif.
Babak Kedua: Ketajaman dan Kontroversi VAR
Memasuki babak kedua, Benfica meningkatkan intensitas serangan. Pelatih Roger Schmidt melakukan dua pergantian pemain di menit ke-55 untuk menambah daya gedor. Hasilnya, menit ke-63, Benfica berhasil memperkecil ketertinggalan melalui sundulan keras Casper Tengstedt setelah menerima umpan silang dari Fredrik Aursnes. Skor menjadi 1-1 dan tekanan pun beralih ke kubu Real Madrid.
Namun, tim tamu tidak butuh waktu lama untuk bangkit. Menit ke-71, terjadi insiden kontroversial di kotak penalti Benfica. Vinicius Junior dijatuhkan oleh bek tengah Nicolas Otamendi saat mencoba menerima umpan dari Toni Kroos. Wasit sempat mengabaikan, tetapi VAR (Video Assistant Referee) meminta peninjauan ulang. Hasilnya, wasit menunjuk titik putih. Bellingham yang maju sebagai eksekutor sukses menaklukkan Trubin dengan tendangan ke sudut kiri gawang. Skor berubah menjadi 2-1 untuk Real Madrid.
Vinicius Junior kembali menjadi sorotan di menit ke-83. Ia mencetak gol keduanya dalam laga ini melalui skema serangan balik kilat. Umpan terobosan dari Luka Modric berhasil disambut Vinicius dengan tendangan first-time yang meluncur deras ke pojok kanan gawang. Gol ini sekaligus mengunci kemenangan Real Madrid dengan skor akhir 3-1. Statistik akhir menunjukkan Real Madrid unggul dalam penguasaan bola (61%) dan shots on target (7 berbanding 4).
“Vinicius adalah pemain yang tidak bisa dihentikan ketika berada dalam performa terbaiknya. Ia mampu mengubah jalannya pertandingan sendirian. Kami sangat senang dengan kontribusinya,” ujar Carlo Ancelotti dalam konferensi pers usai laga.
Analisis Taktik dan Performa Kunci
Dari sisi taktik, Real Madrid tampil dengan pressing tinggi di lini tengah. Formasi 4-3-3 yang diinstruksikan Ancelotti memungkinkan Vinicius mendapatkan ruang bebas di sisi kiri. Bek kiri Ferland Mendy sering naik membantu serangan, menciptakan overload di area tersebut. Hal ini membuat bek kanan Benfica, Bah, kewalahan dan kerap kehilangan posisi.
Vinicius Junior mencatatkan statistik impresif: 5 dribel sukses dari 7 percobaan, 3 tembakan tepat sasaran, 1 gol, dan 1 assist. Ia juga memenangkan 7 duel udara dan darat. Angka tersebut menunjukkan kontribusinya tidak hanya dalam mencetak gol, tetapi juga dalam membangun serangan dan mengganggu ritme lawan.
Di sisi Benfica, kekalahan ini menjadi pelajaran berharga. Mereka sebenarnya tampil cukup disiplin di babak pertama, tetapi kelengahan dalam mengantisipasi pergerakan Vinicius menjadi titik lemah. Kartu kuning yang diterima Otamendi di menit ke-75 juga menunjukkan frustrasi pemain bertahan Benfica dalam menghadapi kecepatan pemain asal Brasil tersebut.
Dengan hasil ini, Real Madrid semakin kokoh di puncak klasemen grup dengan 12 poin dari 4 pertandingan. Sementara Benfica harus puas berada di posisi ketiga dengan 6 poin. Kemenangan ini juga memperpanjang rekor tak terkalahkan Real Madrid di Liga Champions menjadi 7 laga beruntun. Vinicius Junior, dengan performa gemilangnya, kembali membuktikan bahwa ia adalah salah satu pemain paling berbahaya di Eropa saat ini.
Comments (0)