Viñales dan Misi Bersejarah: Menang di Pabrikan Keempat Bersama KTM
Grand Prix Inggris 2024 di Silverstone menjadi salah satu babak paling bersejarah dalam karier Maverick Viñales. Saat melintasi garis finis pada lap terakhir, ia tidak hanya mengamankan kemenangan ke...
Grand Prix Inggris 2024 di Silverstone menjadi salah satu babak paling bersejarah dalam karier Maverick Viñales. Saat melintasi garis finis pada lap terakhir, ia tidak hanya mengamankan kemenangan kesembilan di kelas MotoGP, tetapi juga mencatatkan namanya sebagai satu-satunya pembalap yang pernah menang bersama tiga pabrikan berbeda — Suzuki, Yamaha, dan Aprilia. Kini, sejak musim 2025, pembalap asal Figueres, Spanyol, itu memikul misi yang jauh lebih ambisius di tim Red Bull KTM Tech3: menjadikan KTM sebagai pabrikan keempat yang berhasil ia jinakkan di pentas balap motor paling bergengsi di dunia.
Jejak Data: Dari Gelar Moto3 Hingga Debut Manis di MotoGP
Lahir pada 12 Januari 1995, Viñales kecil sudah menunjukkan naluri balap yang luar biasa sejak bangku kelas bawah. Puncak pertama datang pada musim 2013 ketika ia mengunci gelar juara dunia Moto3 — satu-satunya gelar dunia yang ia miliki — setelah bersaing ketat dengan Alex Rins dan Luis Salom. Kecepatan dan konsistensinya itu mengantarnya naik ke Moto2 selama dua musim sebelum akhirnya dipercaya Suzuki untuk membawa pabrikan Jepang itu kembali ke kelas premier pada 2015.
Musim keduanya bersama Suzuki langsung meledak. Di Silverstone 2016, Viñales meraih kemenangan perdananya di MotoGP sekaligus mengakhiri puasa kemenangan Suzuki yang nyaris satu dekade lamanya. Statistik mencatat kemenangan itu datang dengan strategi ban belakang yang berani — keputusan yang kerap menjadi ciri khas gaya balapnya yang agresif namun penuh perhitungan.
Lompatan besar berikutnya terjadi pada 2017. Bergabung dengan Yamaha, Viñales langsung tampil menggebrak dengan memenangi seri pembuka di Qatar. Total empat kemenangan ia kumpulkan musim itu — termasuk di Argentina, Le Mans, dan Valencia — yang membawanya bersaing sengit dengan Marc Márquez hingga akhir musim, sebelum akhirnya menutup klasemen di posisi ketiga. Sayang, musim-musim berikutnya tidak seindah 2017; kemenangan di Phillip Island 2019 dan Qatar 2021 menjadi oasis di tengah periode kering yang penuh drama, termasuk perpisahan kontroversial dengan Yamaha di tengah musim 2021.
2024: Dua Kemenangan yang Mengubah Segalanya
Kepindahan ke Aprilia pada paruh kedua 2021 dianggap banyak pihak sebagai langkah mundur. Namun bukti demi bukti justru mengalir seiring waktu. Puncaknya terjadi pada Grand Prix Amerika 2024 di Austin, ketika Viñales memberikan kemenangan perdana Aprilia di kelas MotoGP setelah pabrikan asal Noale itu menanti nyaris satu dekade sejak debutnya di kelas premier pada 2015.
Ia belum selesai. Pada Agustus 2024, giliran Silverstone yang menjadi saksi kemenangan keduanya musim itu — sekaligus kemenangan GP ke-25 sepanjang kariernya. Dua kemenangan itu mengantar Viñales menutup musim 2024 di peringkat ketujuh klasemen akhir, sekaligus menjadi tiket emas yang membuat KTM berani menandatangani kontrak dua musim bersamanya mulai 2025.
"Saya merasa seperti memulai karier dari nol. Semangat saya seperti rookie, tapi bekal pengalaman saya sudah bertahun-tahun di kelas ini. Tantangan inilah yang membuat saya tetap hidup," kata Viñales soal kepindahannya ke KTM.
Menjinakkan RC16 di Kandang Baru
Red Bull KTM Tech3 bukan tim satelit sembarangan. Di bawah komando Hervé Poncharal, tim asal Prancis yang telah bermitra dengan KTM sejak 2019 itu resmi mendapat status dukungan penuh pabrikan mulai 2025 — dengan Viñales berpasangan dengan Enea Bastianini di atas RC16. Artinya, keduanya mengendarai motor dengan spesifikasi setara tim pabrikan, lengkap dengan akses data dan pengembangan penuh.
Namun motor yang sama tidak berarti hasil yang sama. Karakter RC16 yang berbeda jauh dari Aprilia RS-GP — terutama dalam hal pengereman dan cara motor menikung — menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pembalap berusia 31 tahun itu. Belum lagi tekanan di luar lintasan: pabrikan asal Austria itu tengah menjalani restrukturisasi besar-besaran sejak akhir 2024, sehingga kontribusi Viñales dalam pengembangan motor menjadi semakin krusial bagi masa depan proyek KTM di MotoGP.
Angka di Balik Misi Keempat
Jika kita membaca datanya, misi Viñales di KTM bukan sekadar romantisme. 9 kemenangan MotoGP, 25 kemenangan GP sepanjang karier, satu gelar dunia, dan catatan menang di tiga pabrikan berbeda menjadikannya salah satu pembalap paling serbaguna di grid saat ini. Belum ada pembalap dalam sejarah kelas premier yang berhasil menang dengan empat pabrikan berbeda — dan Viñales kini berdiri di ambang pintu sejarah itu.
Kontraknya bersama KTM berlaku hingga akhir 2026. Sisa musim ini adalah jendela pembuktian: apakah ia mampu menemukan kembali performa terbaiknya di atas RC16, atau apakah pabrikan keempat itu akan tetap menjadi mimpi yang tertunda. Satu hal yang pasti, setiap kali Viñales melesat dari grid, sejarah selalu menunggu di tikungan berikutnya.
Comments (0)