Veda Ega Pratama Bangkit dari P26 ke P2 di Practice Moto3 Hungaria

Sesi practice Moto3 Grand Prix Hungaria 2026 ditutup dengan kejutan besar dari kubu Asia. Veda Ega Pratama, pebalap muda Indonesia dari Honda Team Asia, mengunci posisi kedua (P2) pada sesi penentu pe...

Aug 24, 2026 - 11:27
0 0
Veda Ega Pratama Bangkit dari P26 ke P2 di Practice Moto3 Hungaria

Sesi practice Moto3 Grand Prix Hungaria 2026 ditutup dengan kejutan besar dari kubu Asia. Veda Ega Pratama, pebalap muda Indonesia dari Honda Team Asia, mengunci posisi kedua (P2) pada sesi penentu pembagian grid — sebuah kebangkitan luar biasa karena pagi harinya ia masih terdampar di P26 pada free practice pertama (FP1). Lompatan 24 anak tangga dalam satu hari adalah statistik yang jarang terlihat di kelas paling kompetitif ini.

Jangan salah baca angka ini. Di Moto3, selisih satu detik bisa memisahkan belasan pebalap, dan perubahan urutan sebesar ini biasanya hanya terjadi saat kondisi lintasan berubah drastis. Namun kali ini perubahan terbesar justru datang dari sisi garasi: setup motor, strategi keluar pit, dan mental pebalap. Skor akhir hari itu berbicara sendiri — Veda menutup sesi di barisan depan, mengalahkan nama-nama yang musim ini nyaris tak tersentuh di papan atas.

FP1 yang Menyimpan Banyak Pekerjaan Rumah

Menit ke-10 sesi FP1 berjalan, layar monitor tim masih menunjukkan nama Veda berputar di urutan ke-20-an. Lintasan Balaton Park Circuit yang baru diaspal ulang membuat semua pebalap kesulitan mencari grip, dan Veda sempat terperangkap di belakang rombongan pebalap lain. Setiap kali ia memulai lap yang bersih, bendera kuning berkibar karena pebalap lain tergelincir — waktu lap yang seharusnya cepat terpaksa dibatalkan.

Posisi terburuknya tercatat di P26, persis di ambang batas yang memaksanya turun ke Q1 jika performa tidak membaik. Yang lebih mengkhawatirkan, selisih waktu dengan pemuncak FP1 sempat menyentuh lebih dari satu detik. Di kelas yang pada sesi practice hanya punya selisih 0,087 detik antara pebalap terdepan, angka itu adalah alarm keras.

Namun tim Honda Team Asia membaca masalahnya dengan kepala dingin. Data telemetri menunjukkan kecepatan puncak motor tidak buruk; masalahnya adalah waktu keluar pit yang salah dan penguasaan lintasan yang kalah dari pebalap lain. Tidak ada ubahan besar pada mesin — cukup perbaikan kecil pada suspensi belakang dan strategi yang lebih cerdas.

Lompatan 24 Posisi: Ketika Semua Elemen Menyatu

Begitu lampu hijau sesi practice menyala, Veda keluar dengan rencana yang berbeda dari pagi. Ia tidak langsung mengejar time attack, melainkan membangun ritme lebih dulu, mempelajari titik pengereman di Tikungan 3 dan Tikungan 11 yang menjadi momok banyak pebalap. Setiap lap, catatan waktunya membaik secara konsisten — tanda bahwa ia menghemat ban untuk lap terakhir.

Pada menit-menit akhir, Veda melepaskan segalanya. Ia memanfaatkan slipstream dari dua pebalap di depannya di trek lurus utama — sebuah “assist” alami yang jadi senjata pamungkas Moto3 — lalu menutup lap dengan waktu yang membuat garasinya bersorak: P2, hanya terpaut 0,087 detik dari pemuncak. Data sektor menunjukkan peningkatan signifikan di sektor dua dan tiga, area berkecepatan tinggi tempat keberanian membuka gas menjadi pembeda.

“Kami mengubah setup dasar pagi ini dan Veda merespons dengan sempurna. Lap terakhirnya adalah lap terbaiknya sepanjang akhir pekan,” ujar salah satu kru dari sisi garasi Honda Team Asia.

Yang tidak kalah penting: lap time-nya berada di zona konsisten, bukan sekadar satu lap mujarab. Tiga lap terakhirnya semuanya masuk dalam jendela 0,3 detik dari waktu terbaiknya — indikasi bahwa speed murni benar-benar ada, bukan sekadar keberuntungan draft. Ini modal yang jauh lebih berharga daripada sekadar posisi bagus di papan waktu.

Modal Menuju Kualifikasi dan Balapan

Posisi P2 di sesi practice bukan sekadar angka cantik. Di Moto3, hasil sesi ini menentukan pembagian grup kualifikasi dan formasi start di grid, dan start dari barisan depan memberi keuntungan tak ternilai: Veda bisa menghindari drama tikungan pertama di Balaton Park yang kerap menelan banyak korban. Memulai dari depan juga menekan risiko terkena long lap penalty akibat insiden di awal balapan — hukuman yang kerap mengubah peta persaingan.

Meski begitu, pekerjaan rumah masih panjang. Konsistensi race pace menjadi pertanyaan besar: di FP1 ia kehilangan banyak waktu karena traffic, dan di balapan penuh jarak, kemampuan menyalip di tikungan ketat adalah ujian sesungguhnya. Tim juga masih memutuskan komposisi ban — bertahan dengan ban medium yang stabil atau mengambil risiko dengan ban soft yang lebih cepat di awal tapi melorot di akhir.

Yang jelas, sinyal yang dikirim Veda ke seluruh grid sangat tegas: ia bukan sekadar pelengkap. Dari P26 ke P2 dalam sehari, dengan lap time yang on target di setiap sektor, nama Veda Ega Pratama kini menjadi bahan diskusi di hampir setiap garasi paddock Hungaria. Publik Indonesia menunggu langkah berikutnya — apakah kebangkitan ini berlanjut menjadi pole position, atau bahkan podium perdana di kelas dunia? Di Hungaria yang panas, jawabannya akan segera datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User