Veda Ega dan Mario Suryo Aji Bicara Persiapan di Sesi Diskusi Jakarta

JAKARTA — Dua nama yang selama ini menjadi tulang punggung pembalap Indonesia di kancah internasional, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, kembali mencuri perhatian. Bukan karena hasil balapan, me...

Oct 08, 2026 - 09:24
0 0
Veda Ega dan Mario Suryo Aji Bicara Persiapan di Sesi Diskusi Jakarta

JAKARTA — Dua nama yang selama ini menjadi tulang punggung pembalap Indonesia di kancah internasional, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, kembali mencuri perhatian. Bukan karena hasil balapan, melainkan karena sesi perbincangan terbuka yang digelar di sebuah kedai kopi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026). Acara tersebut menjadi wadah langka bagi kedua pembalap untuk membeberkan isi kepala mereka menjelang jadwal balapan yang kian padat.

Sesi itu berlangsung cair. Tidak ada podium, tidak ada trofi, hanya dua pembalap muda dengan segelas kopi di tangan. Namun bagi publik Tanah Air, momen semacam ini terasa penting. Sebab, keduanya tengah berada di fase karier yang menentukan: Veda Ega Pratama yang terus menapaki jenjang balap Eropa, dan Mario Suryo Aji yang sudah lebih dulu mencicipi kerasnya kompetisi grand prix.

Peta Karier Dua Pembalap di Jalur Berbeda

Jika ditelisik dari rekam jejak, keduanya menempuh rute yang berbeda meski sama-sama berangkat dari sekolah balap nasional. Veda Ega Pratama dikenal sebagai pembalap dengan gaya agresif di tikungan, sementara Mario Suryo Aji lebih mengandalkan konsistensi dan manajemen ban. Dalam sesi tersebut, keduanya sepakat bahwa persaingan di level internasional tidak lagi soal keberanian semata, tetapi soal data.

“Setiap sesi latihan bebas sekarang jadi ajang pengumpulan data. Kami tidak bisa lagi mengandalkan feeling saja,” ujar salah satu pembalap, menggambarkan betapa detailnya persiapan yang harus dijalani sebelum balapan.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Dalam beberapa musim terakhir, penguasaan bola dan efisiensi menjadi kunci di hampir semua ajang balap. Tim-tim papan atas kini menempatkan analis data di setiap sudut paddock, mulai dari mencatat suhu aspal, kelembapan, hingga degradasi ban per lap. Pembalap dituntut menerjemahkan tumpukan angka itu menjadi keputusan dalam hitungan milidetik.

Adaptasi Teknis dan Mental di Tengah Jadwal Padat

Keduanya juga menyinggung soal tekanan mental. Menurut Veda dan Mario, jadwal balapan yang rapat sering kali membuat waktu pemulihan fisik dan psikologis terbatas. Mereka menyebut pentingnya menjaga ritme tidur, asupan nutrisi, serta sesi latihan fisik yang terukur. Tidak ada kata “libur” dalam kamus pembalap yang sedang mengejar kursi di tim pabrikan.

“Kalau ada jeda dua minggu, itu justru waktu paling sibuk. Kami latihan fisik pagi, lalu simulasi di gym, sore lanjut evaluasi data,” tutur mereka.

Dari sisi teknis, keduanya mengaku terus beradaptasi dengan karakter sasis dan mesin yang berbeda setiap musim. Perubahan regulasi teknis, misalnya pada sektor aerodinamika dan elektronik, menuntut pembalap untuk mengubah gaya berkendara. Veda Ega Pratama disebut lebih cepat beradaptasi pada motor dengan cengkeraman tinggi, sementara Mario Suryo Aji cenderung nyaman pada motor yang stabil saat pengereman keras.

Harapan Besar untuk Panggung Internasional

Dalam perbincangan itu, keduanya tidak menyembunyikan ambisi. Mereka ingin terus membawa nama Indonesia di lintasan internasional, sekaligus membuka jalan bagi pembalap-pembalap muda berikutnya. Menurut mereka, dukungan suporter di Tanah Air menjadi energi tersendiri, terutama saat balapan digelar di sirkuit yang jauh dari rumah.

“Target kami bukan sekadar finis. Kami ingin konsisten masuk sepuluh besar, lalu naik podium. Itu proses yang tidak instan,” tegasnya.

Jika melihat catatan statistik, keduanya memang masih dalam fase pembangunan. Namun tren positif terlihat dari raihan poin yang mulai stabil dari seri ke seri. Catatan clean sheet dalam artian finis tanpa insiden, serta jumlah lap yang diselesaikan, menjadi indikator kematangan mereka. Dalam beberapa balapan terakhir, Veda Ega Pratama tercatat menyelesaikan lebih dari 90 persen lap balapan, sementara Mario Suryo Aji semakin jarang terkena penalti.

“Kami berdua sama-sama tahu, jalan ini panjang. Yang penting adalah terus belajar dan tidak cepat puas,” ujar mereka menutup sesi.

Sesi di Menteng itu memang tidak menghasilkan trofi. Namun bagi publik, momen tersebut memberi gambaran bahwa di balik helm dan jaket kulit, ada dua anak muda yang berpikir serius tentang masa depan olahraga balap Indonesia. Mereka bukan sekadar pembalap cepat, tetapi juga sedang membangun fondasi untuk generasi berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User