TULUNGAGUNG — Karhutla Melahap 5 Hektare Lahan Perhutani Gunung Budeg
Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memuncak seiring masuknya puncak musim kemarau di kawasan Jawa Timur. Kali ini, si jago merah
Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memuncak seiring masuknya puncak musim kemarau di kawasan Jawa Timur. Kali ini, si jago merah membakar vegetasi kering di kawasan lereng Gunung Budeg, yang terletak di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Musibah ekologis ini mengakibatkan sedikitnya 5 hektare lahan milik Perhutani hangus terbakar dan merusak keanekaragaman hayati setempat.
Kondisi cuaca terik yang disertai angin kencang menjadi akselerator utama cepatnya penyebaran kobaran api di area pegunungan tersebut. Vegetasi berupa semak belukar, pohon jati, serta pepohonan kering lainnya dengan cepat tersulut, menciptakan kepulan asap tebal yang membubung tinggi dan dapat terlihat jelas dari permukiman warga di sekitar kaki gunung.
Dinamika Kebakaran dan Tantangan Pemadaman Medan Ekstrem
Proses pemadaman karhutla di Gunung Budeg tidak berjalan mudah. Topografi wilayah yang didominasi oleh tebing curam dan kemiringan ekstrem membuat unit kendaraan pemadam kebakaran milik pemerintah daerah tidak mampu menembus titik api. Tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, jajaran Perhutani, personel TNI/Polri, serta relawan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) harus mendaki medan terjal secara manual.
Petugas mengandalkan metode tradisional seperti teknik gepyok (memukul titik api dengan ranting pohon basah) serta penggunaan jet shooter atau pompa punggung portabel untuk memadamkan bara api yang menyebar di celah-celah bebatuan.
"Kami melancarkan metode pemadaman darat secara manual karena akses kendaraan pemadam tidak memungkinkan mencapai lereng curam. Angin kencang menjadi faktor pemicu utama yang membuat api dengan cepat merembet ke vegetasi kering," tegas Bambang Triono, perwakilan tim lapangan pemadaman.
Pemetaan Data dan Kerusakan Kawasan Terbakar
Berdasarkan evaluasi cepat di lapangan, dampak kebakaran mencakup area yang cukup signifikan bagi ekosistem lokal Gunung Budeg. Tabel berikut menggambarkan rincian teknis peristiwa karhutla tersebut:
| Parameter Evaluasi | Rincian Data Lapangan |
|---|---|
| Lokasi Kejadiaan | Kawasan Perhutani Gunung Budeg, Boyolangu, Tulungagung |
| Total Luas Terbakar | 5 Hektare |
| Jenis Vegetasi Terdampak | Semak belukar, pepohonan jati, kayu keras, dan rumput kering |
| Elemen Tim Pemadam | BPBD, Perhutani, TNI, Polri, dan Relawan Masyarakat (LMDH) |
| Faktor Kendala Utama | Medan curam, angin kencang, dan keterbatasan sumber air |
Analisis Dampak Ekologis dan Upaya Mitigasi Pemulihan
Gunung Budeg selama ini dikenal bukan hanya sebagai kawasan hutan produksi dan lindung Perhutani, tetapi juga sebagai destinasi wisata pendakian populer dan situs cagar budaya di Tulungagung. Kebakaran seluas 5 hektare ini diperkirakan memicu ancaman kelestarian tanah dan ekosistem kawasan. Rusaknya penutup tanah (ground cover) meningkatkan risiko erosi dan tanah longsor saat musim penghujan mendatang.
Secara analitis, kerentanan Gunung Budeg terhadap karhutla membutuhkan langkah mitigasi komprehensif yang tidak sekadar berfokus pada penanganan darurat saat kebakaran terjadi, melainkan pencegahan terstruktur dari hulu. Berdasarkan penilaian risiko bencana, langkah antisipasi mendesak yang perlu dilakukan meliputi:
- Penguatan Patroli Terpadu: Mengintensifkan pemantauan pada area terisolasi yang rawan muncul titik panas (hotspot).
- Edukasi dan Pengawasan Aktivitas Manusia: Melarang keras pembakaran lahan secara liar di kawasan penyangga serta memperketat regulasi bagi aktivitas pendakian selama puncak kemarau.
- Pembangunan Sekat Bakar (Firebreak): Membangun jalur bebas vegetasi di batas kawasan Perhutani untuk menahan laju perambatan api di masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus melakukan penyisiran dan pendinginan (cooling down) di sekitar area bekas kebakaran guna memastikannya tidak menyisakan bara api tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran susulan saat diterpa angin malam.
Comments (0)