Trump Incar Sistem Pembayaran Brasil, Sementara Stablecoin Dolar Diam-Diam Kuasai Transaksi Kripto Negara Itu

Pemerintahan Donald Trump kembali menunjukkan sikap protektif terhadap dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global. Kali ini, targetnya adalah Brasil—negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin—yang dinilai Washington mulai menggerogoti hegemo

Jul 19, 2026 - 00:02
0 0
Trump Incar Sistem Pembayaran Brasil, Sementara Stablecoin Dolar Diam-Diam Kuasai Transaksi Kripto Negara Itu

Pemerintahan Donald Trump kembali menunjukkan sikap protektif terhadap dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global. Kali ini, targetnya adalah Brasil—negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin—yang dinilai Washington mulai menggerogoti hegemoni mata uang hijau tersebut melalui sistem pembayaran domestik Pix dan adopsi stablecoin yang kian masif. Ironisnya, data menunjukkan bahwa justru stablecoin berbasis dolar AS yang mendominasi lebih dari 90% transaksi kripto di Brasil, menciptakan paradoks kebijakan yang menarik untuk dicermati.

Ancaman Non-Dolar di Mata Washington

Menurut laporan CoinDesk yang dirilis pada 18 Juli 2026, pemerintah Amerika Serikat memandang promosi saluran pembayaran non-dolar oleh Brasil—termasuk sistem Pix yang sangat populer dan pertumbuhan penggunaan stablecoin—sebagai ancaman potensial terhadap perdagangan berbasis dolar. Pix, yang diluncurkan oleh Bank Sentral Brasil (BCB) pada 2020, telah merevolusi sistem pembayaran negara tersebut dengan memungkinkan transfer instan 24/7 tanpa biaya bagi individu. Kesuksesan Pix bahkan menginspirasi banyak negara lain untuk mengembangkan sistem serupa. Kini, lebih dari 160 juta warga Brasil—sekitar 75% populasi—aktif menggunakan Pix untuk transaksi harian, mulai dari pembayaran tagihan hingga transfer antar individu.

Namun, kekhawatiran Washington tidak berhenti pada Pix. Stablecoin—aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang fiat tertentu—telah tumbuh eksponensial di Brasil. Data dari otoritas pajak Brasil, Receita Federal, menunjukkan bahwa volume transaksi stablecoin di negara tersebut melampaui volume Bitcoin dan aset kripto lainnya. Yang paling menarik adalah sekitar 90% dari total transaksi kripto di Brasil menggunakan stablecoin yang dipatok pada dolar AS, seperti USDT (Tether) dan USDC (USD Coin).

Paradoks Stablecoin Dolar: Ancaman atau Perpanjangan Dominasi?

Di sinilah letak ironi kebijakan yang patut dicermati. Pemerintahan Trump tampaknya mengkhawatirkan bahwa penggunaan stablecoin—yang sebagian besar berdenominasi dolar AS—dapat mengurangi ketergantungan pada sistem perbankan tradisional yang menggunakan dolar secara langsung. Dengan kata lain, meskipun stablecoin ini membawa label "dolar," transaksinya tidak melewati infrastruktur keuangan AS atau sistem koresponden bank yang selama ini memberi Washington pengaruh geopolitik signifikan.

Stablecoin dolar memungkinkan pengguna di Brasil untuk memiliki eksposur terhadap dolar AS tanpa harus berurusan dengan bank-bank Amerika, sistem SWIFT, atau regulasi Departemen Keuangan AS secara langsung. Hal ini menciptakan "zona dolar paralel" yang sulit diawasi oleh otoritas moneter dan keamanan nasional AS. Dalam konteks inilah ancaman bagi Washington menjadi lebih nyata: dominasi dolar tetap ada secara nominal, tetapi kendali atas aliran dananya perlahan terlepas.

Dampak terhadap Pasar Kripto dan Regulasi Global

Sikap pemerintahan Trump terhadap Brasil berpotensi memicu gelombang baru ketegangan regulasi di pasar kripto global. Jika AS mulai menekan Brasil untuk membatasi penggunaan stablecoin dolar atau menerapkan kontrol lebih ketat terhadap bursa kripto yang beroperasi di negara tersebut, dampaknya bisa merembet ke seluruh Amerika Latin—kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pusat adopsi kripto terbesar di dunia. Brasil sendiri menempati peringkat ke-9 dalam Indeks Adopsi Kripto Global Chainalysis 2025, dengan volume transaksi tahunan mencapai lebih dari $200 miliar.

Di sisi lain, regulator Brasil telah menunjukkan sikap progresif terhadap aset digital. BCB tengah mengembangkan Drex, mata uang digital bank sentral (CBDC) Brasil yang direncanakan untuk mendukung tokenisasi aset dan efisiensi pembayaran lintas batas. Kehadiran Drex dapat semakin mengurangi ketergantungan Brasil pada sistem dolar tradisional, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan stablecoin swasta dalam ekosistem keuangan digital yang lebih inklusif.

Dari perspektif pasar, tekanan politik AS terhadap Brasil dapat menciptakan volatilitas jangka pendek bagi stablecoin yang banyak digunakan di kawasan tersebut. Namun, fundamental adopsi yang kuat menunjukkan bahwa permintaan terhadap stablecoin dolar di Brasil lebih didorong oleh kebutuhan hedging terhadap inflasi dan akses mudah ke mata uang global, bukan agenda geopolitik tertentu.

Mencari Keseimbangan antara Dominasi dan Inovasi

Kasus Brasil menggambarkan dilema yang semakin sering dihadapi oleh pembuat kebijakan global: bagaimana menjaga relevansi sistem keuangan tradisional di tengah revolusi aset digital yang tidak mengenal batas negara. Bagi pemerintahan Trump, menekan Brasil mungkin terlihat sebagai langkah strategis untuk mempertahankan hegemoni dolar. Namun, mengingat stablecoin dolar justru menjadi "duta" mata uang AS di negara berkembang, pendekatan yang lebih kooperatif dan adaptif bisa jadi lebih efektif dalam jangka panjang.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informatif dan edukasi. Informasi yang disajikan tidak merupakan saran investasi, rekomendasi trading, atau ajakan untuk membeli/menjual aset kripto. Investor disarankan melakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan finansial. Pasar kripto memiliki volatilitas tinggi dan risiko kerugian yang signifikan.

Sumber: CoinDesk

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User