Tren Grounding Meluas di Perkotaan, Ahli Soroti Efektivitas Medisnya

Aktivitas berjalan tanpa alas kaki di atas permukaan tanah atau rumput, yang populer dengan istilah grounding atau earthing, kian diminati oleh masyarakat

Sep 11, 2026 - 09:57
0 2
Tren Grounding Meluas di Perkotaan, Ahli Soroti Efektivitas Medisnya

Aktivitas berjalan tanpa alas kaki di atas permukaan tanah atau rumput, yang populer dengan istilah grounding atau earthing, kian diminati oleh masyarakat urban di berbagai kota besar Indonesia. Fenomena ini bermula dari dorongan gaya hidup kembali ke alam (back-to-nature) di tengah tingginya tingkat stres dan polusi perkotaan. Sejumlah praktisi meyakini bahwa kontak langsung kulit dengan bumi mampu menyeimbangkan muatan listrik tubuh, mengurangi peradangan, hingga diklaim mampu mencegah infeksi virus.

Kronologi Meningkatnya Minat Masyarakat terhadap Grounding

Perkembangan tren kebugaran alternatif ini terpantau mengalami peningkatan signifikan melalui beberapa fase perkembangan sosial dan digital:

  1. Fase Inisiasi (Pasca-Pandemi): Meningkatnya kesadaran kolektif terhadap imunitas mendorong masyarakat mencari modalitas kesehatan holistik berbiaya rendah di ruang terbuka hijau.
  2. Fase Amplifikasi Digital (2023–2024): Konten video edukasi dan testimoni mengenai manfaat grounding membanjiri platform media sosial, memicu pembentukan komunitas jalan tanpa alas kaki di taman kota seperti GBK Jakarta dan Lapangan Gasibu Bandung.
  3. Fase Evaluasi Medis (Terkini): Komunitas medis dan akademisi mulai meneliti validitas klaim fisiologis terkait efektivitas grounding terhadap proteksi penyakit menular.

Analisis Ilmiah: Mitos vs Fakta Pencegahan Virus

Secara teori biofisika, para pendukung grounding berargumen bahwa penyerapan elektron bebas dari permukaan bumi memiliki sifat antioksidan yang menetralkan radikal bebas. Namun, dari sudut pandang virologi dan imunologi modern, klaim bahwa grounding secara langsung dapat membasmi atau memblokir infeksi virus belum memiliki dasar uji klinis berskala besar (randomized controlled trial).

"Mekanisme pencegahan infeksi virus bergantung pada sistem kekebalan adaptif, seperti antibodi spesifik dan sel T, bukan sekadar transfer elektron. Grounding mungkin membantu regulasi hormon kortisol dan relaksasi, tetapi tidak bisa menggantikan vaksinasi maupun protokol kebersihan dasar," terang pakar kesehatan masyarakat.

Meskipun grounding dapat memicu efek plasebo positif dan menurunkan persepsi stres yang secara tidak langsung mendukung imunitas, menjadikannya sebagai proteksi tunggal terhadap patogen virus adalah langkah yang berisiko.

Pertimbangan Risiko dan Aspek Keamanan Medis

Para praktisi medis mengingatkan masyarakat perkotaan agar berhati-hati sebelum mempraktikkan grounding di area publik. Beberapa risiko kesehatan lingkungan yang wajib diwaspadai antara lain:

  • Infeksi Parasit: Risiko penetrasi larva cacing tambang (Ancylostoma) dan parasit tanah lainnya melalui pori-pori kulit telapak kaki.
  • Paparan Toksin dan Bakteri: Ancaman bakteri Clostridium tetani penyebab tetanus, terutama pada tanah yang terkontaminasi limbah atau benda tajam berkarat.
  • Luka Trauma Fisik: Risiko sayatan pecahan kaca, duri, atau kotoran hewan di fasilitas umum yang belum teruji higienitasnya.

Dengan demikian, publik diimbau untuk menyikapi tren grounding secara rasional. Menjaga imunitas tetap memerlukan pendekatan komprehensif, mencakup nutrisi seimbang, hidrasi cukup, istirahat teratur, serta sanitasi yang higienis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User