Tendangan Kungfu Guncang Laga Piala Soeratin U-13, PSSI DIY Turun Tangan

Adu fisik berubah menjadi tragedi. Laga Piala Soeratin U-13 yang mempertemukan Baturetno melawan Mataram Utama (MU) di Lapangan Dwi Windu, Bantul, DIY, diwarnai aksi tendangan brutal bergaya kungfu ya...

Aug 24, 2026 - 08:05
0 0
Tendangan Kungfu Guncang Laga Piala Soeratin U-13, PSSI DIY Turun Tangan

Adu fisik berubah menjadi tragedi. Laga Piala Soeratin U-13 yang mempertemukan Baturetno melawan Mataram Utama (MU) di Lapangan Dwi Windu, Bantul, DIY, diwarnai aksi tendangan brutal bergaya kungfu yang langsung memicu reaksi keras dari komite pertandingan. PSSI DIY pun turun tangan dan membuka proses disiplin terhadap semua pihak yang terlibat dalam insiden tersebut.

Temperatur laga memanas sejak sepuluh menit awal. Kedua starting XI tampil agresif dengan tekanan tinggi — Baturetno mengandalkan formasi 4-3-3 dengan dua sayap gesit, sementara MU menjawab lewat struktur 4-4-2 yang rapat di lini tengah. Duel bola mati terjadi di hampir setiap segmen lapangan, dan wasit sudah mencatat dua kartu kuning sebelum momen paling hitam itu terjadi.

Kronologi Tendangan yang Menggemparkan

Menit ke-34, bola liar di zona tengah memicu rebutan antara gelandang Baturetno dan bek MU. Dalam duel yang tidak terkendali, salah satu pemain melepaskan tendangan melayang setinggi dada — gerakan yang identik dengan tendangan kungfu — tepat mengarah ke lawannya. Peluit wasit langsung berbunyi nyaring. Ofisial pertandingan bergegas memisahkan kedua kubu yang mulai saling dorong di depan bangku cadangan.

Kompetisi kelompok usia ini tidak menggunakan VAR, sehingga keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan wasit dan petugas laga. Kartu merah langsung dicabut dari kantong — pelaku harus meninggalkan lapangan dan timnya dipaksa bermain dengan sepuluh orang untuk sisa durasi. Korban tendangan sempat mendapat perawatan di pinggir lapangan sebelum diganti pemain lain. Suasana butuh waktu hampir lima menit untuk kembali normal.

Duel Taktik yang Ketat Secara Angka

Secara statistik, pertandingan berjalan sangat ketat. Penguasaan bola tercatat nyaris berimbang — Baturetno unggul tipis dengan angka 53 persen berkat dominasi gelandang tengahnya dalam membangun serangan dari barisan kedua. Namun efektivitas justru milik MU: dari empat shots on target, satu berubah menjadi gol lewat sepakan first-time di menit ke-21, lahir dari umpan silang sisi kanan yang gagal dibaca lini belakang Baturetno.

Baturetno membalas dengan gelombang serangan. Total mereka melepaskan sembilan percobaan tembakan, tiga di antaranya tepat sasaran. Jalur kiri menjadi area paling produktif dengan raihan 60 persen kemenangan duel satu lawan satu. Sayangnya, sentuhan akhir masih kasar — sebagian bola melebar, sisanya tertahan kiper MU yang tampil gemilang dan nyaris membukukan clean sheet jika bukan karena satu kecerobohan di menit-menit akhir.

PSSI DIY Bertindak Tegas

Insiden itu langsung dilaporkan ke komite disiplin PSSI DIY. Pengurus daerah menegaskan aksi tendangan semacam itu tidak bisa ditoleransi, apalagi di kompetisi kelompok usia yang seharusnya menjadi ladang pembinaan karakter dan teknik. Penyelidikan resmi dibuka untuk menentukan bobot sanksi — mulai dari skorsing pemain, denda klub, hingga kemungkinan pengurangan poin klasemen.

Pelatih kedua tim dipanggil memberikan klarifikasi. Salah satu pelatih menegaskan pembinaan mental dan sportivitas akan diperkuat pasca-insiden, termasuk sesi edukasi khusus bagi para pemain U-13 soal bahaya aksi keras di atas lapangan. Klub yang menaungi pelaku juga diminta menyampaikan permintaan maaf resmi kepada korban dan keluarganya.

Pesan Besar dari Bantul

Skor akhir mungkin hanya berselisih satu gol, tetapi dampak insiden ini jauh lebih besar daripada angka di papan skor. Piala Soeratin adalah wadah lahirnya talenta muda Indonesia — turnamen legendaris yang telah menghasilkan banyak nama besar sepak bola tanah air. Melihat anak-anak usia 13 tahun terlibat aksi sebrutal itu adalah alarm bagi semua pihak: klub, pelatih, orang tua, hingga pengurus liga.

PSSI DIY kini berada di bawah sorotan untuk membuktikan ketegasannya. Keputusan yang diambil akan menjadi preseden penting bagi kompetisi usia muda di berbagai daerah. Satu hal pasti: sepak bola harus dimenangkan dengan kualitas teknik dan kerja tim, bukan dengan tendangan kungfu yang membahayakan keselamatan sesama pemain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User