Spanyol Taklukkan Argentina 3-2, Juara Piala Dunia 2026
Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, menjadi penutup epik di MetLife Stadium, East Rutherford. Ferran Torres muncul sebaga...
Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, menjadi penutup epik di MetLife Stadium, East Rutherford. Ferran Torres muncul sebagai pahlawan dengan gol penentu di menit ke-84, memastikan trofi pertama La Roja sejak 2010. Pertandingan yang dihelat di hadapan 82.500 penonton ini menyuguhkan lima gol, dua assist brilian, dan adu taktik kelas dunia antara dua kubu yang sama-sama ngotot menerapkan permainan menyerang.
Dinamika Babak Pertama: Pressing Tinggi dan Gol Cepat
Spanyol memulai dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan penguasaan bola, sementara Argentina merespons dengan 4-4-2 klasik yang mengandalkan serangan balik cepat. Menit ke-9, kombinasi one-touch antara Pedri, Gavi, dan Ferran Torres membuahkan gol pembuka. Sepakan mendatar dari jarak 18 meter oleh Ferran Torres merobek jala Emiliano Martínez setelah assist terobosan dari Pedri. Namun, Argentina langsung merespons. Menit ke-23, tendangan bebas melengkung dari Rodrigo De Paul mengoyak pagar hidup dan mengecoh kiper Unai Simón, kedudukan 1-1. Statistik penguasaan bola babak pertama menunjukkan dominasi Spanyol: 62% berbanding 38%, dengan serangan ke gawang Spanyol mencapai 6 kali, dua di antaranya tepat sasaran. Argentina mencatat 3 serangan ke gawang, satu berbuah gol. Tekanan tinggi Spanyol memaksa 5 offside dari lini depan Argentina.
Babak Kedua: Kebangkitan Argentina dan Gol Penentu
Masuk babak kedua, Argentina meningkatkan intensitas serangan. Menit ke-57, Lautaro Martínez meneruskan umpan silang Nicolás Tagliafico dengan sundulan keras yang membentur mistar, memanfaatkan kelengahan bek kiri Alejandro Balde. Hanya berselang empat menit, Lionel Messi melepaskan tendangan melengkung dari dalam kotak penalti yang memaksa Unai Simón melakukan penyelamatan spektakuler. Spanyol merespons dengan memasukkan Ansu Fati dan Mikel Oyarzabal guna menambah daya gedor. Hasilnya, menit ke-67, Dani Olmo mencetak gol kedua via serangan balik kilat, memaksimalkan umpan terobosan Oyarzabal. Skor menjadi 2-1 untuk La Roja. Argentina tak menyerah; menit ke-76, tendangan sudut Paulo Dybala dituntaskan oleh sundulan Rodrigo De Paul untuk gol keduanya, mengubah papan skor menjadi 2-2. Gol kemenangan akhirnya tercipta di menit ke-84, saat Ferran Torres menanduk bola liar hasil tembakan Balde yang diblok kiper, melengkapi malam gemilangnya dengan dua gol.
Analisis Taktikal dan Performa Kunci
Kedua tim menurunkan starting XI terbaik. Spanyol mengandalkan tris di lini tengah: Rodri, Pedri, dan Gavi, yang mampu mendikte irama permainan dengan penguasaan bola total 58% di sepanjang laga. Argentina, meski kalah dalam penguasaan, tampil efisien dengan 14 serangan ke gawang, 5 di antaranya tepat sasaran, menunjukkan efektivitas serangan balik yang dikomandoi Messi dan De Paul. Ferran Torres menjadi bintang dengan torehan dua gol, menjadikannya pemain pertama yang mencetak brace di final Piala Dunia sejak Kylian Mbappé di 2022. Assist kritis datang dari Pedri dan Oyarzabal, sementara Balde mencatat assist tidak langsung untuk gol penentu. Unai Simón melakukan tiga penyelamatan krusial, sementara Emiliano Martínez lima kali menggagalkan peluang emas Spanyol. Satistik lainnya: Spanyol menciptakan 9 peluang bersih, Argentina 6. Pelanggaran relatif seimbang, 14 untuk Spanyol dan 12 untuk Argentina, tanpa kartu merah. VAR sempat dipanggil di menit ke-89 untuk memeriksa potensi handball di kotak penalti Argentina, namun wasit memutuskan tidak ada pelanggaran.
Pasca-Pertandingan: Reaksi Pelatih dan Tonggak Sejarah
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memuji semangat pantang menyerah timnya:
“Kami tahu Argentina akan memberi tekanan luar biasa. Ferran menunjukkan naluri pembunuh di kotak penalti. Ini kemenangan untuk kolektivitas dan filosofi kami.”Di sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui ketangguhan lawan:
“Kami mencetak dua gol tandukan, tapi Spanyol lebih klinis. Mereka layak juara malam ini.”Kemenangan ini mengokohkan posisi Spanyol sebagai salah satu raksasa sepakbola era modern dengan dua gelar Piala Dunia (2010 dan 2026). Argentina, meski kalah, tetap mencatat sejarah sebagai runner-up dengan pencetak gol terbanyak sepanjang turnamen. Malam di East Rutherford akan dikenang sebagai final penuh drama yang menampilkan total 5 gol, 9 kartu kuning (masing-masing tim: 5 untuk Spanyol, 4 untuk Argentina), dan momen kunci yang membutuhkan teknologi garis gawang di menit akhir. Stadion bergemuruh saat kapten Rodri mengangkat trofi, diikuti selebrasi emosional Ferran Torres dan seluruh skuad.
Comments (0)