Spanyol Rebut Gelar Keempat Euro, Tekuk Inggris 2-1 di Berlin

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol memperkuat status mereka sebagai negara paling berjaya dalam sejarah Kejuaraan Eropa. Dua gol di paruh kedua — dicetak Nico Williams pada menit ke-47 dan Mikel Oyarzabal...

Oct 07, 2026 - 03:41
0 0
Spanyol Rebut Gelar Keempat Euro, Tekuk Inggris 2-1 di Berlin

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol memperkuat status mereka sebagai negara paling berjaya dalam sejarah Kejuaraan Eropa. Dua gol di paruh kedua — dicetak Nico Williams pada menit ke-47 dan Mikel Oyarzabal pada menit ke-86 — membalik keunggulan sementara Inggris yang sempat disamakan Cole Palmer pada menit ke-73. Di panggung Olympiastadion, Berlin, di hadapan lebih dari 65.000 penonton, La Roja menutup turnamen dengan rekor sempurna: tujuh kemenangan dari tujuh laga.

Pertandingan berjalan alot sejak peluit awal. Spanyol membuka dengan formasi 4-3-3 khas Luis de la Fuente, mengandalkan trisula lini depan Yamal, Morata, dan Williams, dengan Rodri sebagai poros transisi. Inggris di bawah asuhan Gareth Southgate menjawab dengan formasi 4-2-3-1, menempatkan Bellingham dan Foden di belakang Kane, sementara Mainoo dan Rice mengunci area gelandang. Penguasaan bola berpihak tipis kepada juara bertahan Eropa, Spanyol menguasai 53% penguasaan bola berbanding 47% milik Inggris, namun urusan peluang emas berlangsung sengit.

Babak Pertama: Spanyol Menekan, Inggris Sabar Bertahan

Sejak menit-menit awal, Spanyol menunjukkan intensitas pressing tinggi. Yamal konsisten menominasikan diri sebagai winger kanan paling berbahaya, beberapa kali menusuk dari sisi kanan dan memaksa Luke Shaw bertahan dalam. Menit ke-23, umpan silang datar dari sisi kanan nyaris berbuah gol ketika Morata melepaskan sundulan yang masih bisa dimentahkan Pickford. Inggris sendiri mengandalkan serangan balik cepat lewat Saka dan Foden, dengan Walker yang kerap melebarkan sisi kanan.

Statistik akhir laga mencatat Spanyol melepaskan 16 shots dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang (shots on target), sementara Inggris mencatat 9 percobaan dengan 4 shots on target. Angka ini mencerminkan bagaimana Spanyol mendominasi wilayah sepertiga akhir, sementara Inggris efisien memanfaatkan ruang transisi. Skor 0-0 bertahan sampai turun minum, dengan kedua pelatih sempat menekan tombol rotasi sejak babak kedua dimulai.

Baru 90 detik setelah kickoff paruh kedua, lini pertahanan Inggris goyah. Menit ke-47, Lamine Yamal melepaskan assist brilian ke kotak penalti, disambut pergerakan tanpa bola Nico Williams yang melepaskan tembakan kaki kiri melampaui jangkauan Pickford. 1-0 untuk Spanyol. Gol tersebut menegaskan kualitas koneksi Yamal-Williams yang sepanjang turnamen menjadi senjata paling mematikan Spanyol.

Sky Blues merespons dengan perubahan taktikal. Palmer masuk menggantikan Foden, dan dampaknya instan. Menit ke-73, Palmer menaklukkan Unai Simón dengan tembakan jarak jauh yang bersarang di sudut kiri bawah gawang — 1-1. Dua belas menit kemudian, drama berbalik lagi. Spanyol membangun serangan dari sisi kiri; bola dipotong masuk ke kotak penalti, dan Mikel Oyarzabal, masuk sebagai pemain pengganti, menyundul bola melewati Pickford pada menit ke-86 berkat umpan silang presisi Marc Cucurella. 2-1, dan tidak ada gol balasan dari Inggris.

Data Kunci: Bagaimana Spanyol Mengunci Final

Spanyol unggul 6-3 dalam jumlah tendangan sudut, angka yang menjelaskan tekanan berkelanjutan mereka terhadap pertahanan Inggris. Tim asuhan Southgate memang disiplin, terbukti dari garis pertahanan rendah dan pressing sporadis, tetapi kelelahan fisik di sepuluh menit terbuka ruang bagi Oyarzabal. Pertandingan berlangsung relatif bersih dari kartu kuning berkat penerapan aturan main cepat oleh wasit utama, meski tensi tinggi sempat memicu beberapa duel sengit di lini tengah — terutama duel Rice melawan Rodri yang menjadi panggung perang pressing kedua tim.

Menit ke-86, Oyarzabal memang menjadi momen yang menentukan, tetapi keputusan Luis de la Fuente memasukkan penyerang Cadiz ke lapangan adalah masterstroke. Kecepatan umpan silang Cucurella dari posisi bek kiri membuktikan mengapa bek Chelsea itu menjadi kunci sistem Spanyol: assist tersebut adalah kontribusi besar terakhirnya dalam laga yang ia jalani penuh 90 menit.

Lamine Yamal, 17 tahun, tercatat sebagai pencetak gol termuda dalam final — rekor yang ia pecahkan dengan assist pembuka itu. Sementara di lini belakang, kemitraan Le Normand dan Laporte mampu menahan duel fisik Kane, yang sepanjang laga hanya menerima sedikit ruang. Kane akhirnya ditarik dan digantikan Watkins, tetapi perubahan datang terlalu telat.

Selain empat trofi Euro, Spanyol juga menorehkan rekor performa: satu-satunya tim yang memenangkan seluruh fase grup hingga final sekaligus dalam satu putaran turnamen.

Gelar keempat ini melampaui torehan Jerman (tiga trofi) dan menempatkan Spanyol sendirian di puncak daftar koleksi Piala Eropa: 1964, 2008, 2012, dan 2024. Ini sekaligus menjadi hadiah perpisahan manis bagi lini tengah yang lama menunggu era baru, dengan Rodri dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen berkat rata-rata akurasi umpan di atas 90% dan dominasi duel.

Bagi Inggris, kekalahan ini menambah catatan pahit: Southgate mengakhiri turnamen tanpa trofi meski menembus final dua edisi beruntun. Statistik pertandingan mencatat Inggris hanya mencatat 4 shots on target, angka terlalu kecil untuk mengalahkan tim seefisien Spanyol. Begitulah akhir cerita di Berlin — Spanyol pulang membawa Piala, Inggris pulang membawa pelajaran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User